
Jakarta,nwartapedia.com – Sebuah karya film yang unik dan memadukan dua budaya besar, Pesantren Kung Fu, menjadi perbincangan hangat.
Film ini merupakan hasil gagasan produser Julizar Idris yang dikembangkan oleh penulis sekaligus sutradaranya, Roy Wijaya.
Film ini mencoba menggabungkan kisah sejarah, budaya, dan aksi seni bela diri dalam balutan cerita yang menarik.
Roy Wijaya, melalui riset literasi budaya yang mendalam, merujuk pada catatan sejarah Islam di China.
Ia menggambarkan bagaimana agama Islam pertama kali masuk ke China pada abad ke-7, di bawah pemerintahan Dinasti Tang. Peran penting Khalifah Utsman yang mengutus Sa’ad bin Abi Waqqas bersama rombongan menjadi bagian penting dari narasi ini.
Hubungan erat antara Islam dan budaya China mulai terbangun sejak Kaisar Yung Wei menerima utusan tersebut dan memberikan izin untuk mendirikan Masjid Huaisheng di Canton, masjid pertama di China.
Film ini tidak hanya berkisah tentang seni bela diri Kung Fu, tetapi juga menyajikan perpaduan budaya yang kental antara Indonesia dan China. Kedekatan budaya ini, yang terlihat dari pengaruh seni, agama, dan perdagangan, menjadi landasan utama cerita film.
Perkembangan Islam di China, yang membawa etnis Hui Chi sebagai pemeluk pertama, serta peran pedagang muslim pada masa Dinasti Song, menjadi referensi penting dalam cerita.
Meski Islam menjadi minoritas di China, film ini menyoroti bagaimana umat Islam tetap mampu menjalankan ibadah dengan leluasa, bahkan di tengah kebijakan negara komunis.
Fakta bahwa terdapat lebih dari 45.000 masjid di China hingga tahun 2012 menjadi salah satu bukti kuat perkembangan Islam di sana.
Dalam Pesantren Kung Fu, Roy Wijaya mencoba menghadirkan sisi menarik dari Kung Fu yang kental dengan budaya China, namun diadaptasi dalam format pesantren.
Kombinasi seni bela diri dan ajaran Islam ini menjadi daya tarik utama film, sekaligus memperkuat pesan persaudaraan antarbudaya.
“Film ini dirancang tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media literasi budaya. Kami ingin mengangkat nilai-nilai persaudaraan, sejarah, dan keluhuran budaya antara Indonesia dan China,” ungkap Roy Wijaya.
Saat ini, tim produksi terus menyempurnakan cerita dan adegan dalam film agar lebih menarik untuk ditonton tanpa meninggalkan esensi sejarah dan budaya.
Dengan mengangkat tema unik dan inspiratif, Pesantren Kung Fu diharapkan menjadi film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan mempererat hubungan antara budaya Indonesia dan China. (***)
