Jakarta, mwartapedia.com – Setelah Hari Film Nasional (HFN) 2021 bukan berarti ada kemerdekaan dalam proses kreatif dalam produksi Film. Para Sineas kata Sutradara Roy Wijaya saat ini masih dihadapkan dengan pandemi Covid-19 dalam membuat banyak proyek film besar yang harus tertunda.
Namun, seiring berjalannya waktu, para pelaku di industri ini terus berinovasi dan beradaptasi untuk terus berkarya di tengah pandemi. Karena dengan teknologi yang terus berkembang dan mudah digunakan, membuat film pun bisa dilakukan dengan perangkat-perangkat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari itu.
“Saat ini, kameramen sampai pemeran bahkan mengambil gambarnya pakai handphone sendiri, hal itu sudah terjadi, mengingat kualitas kamera (ponsel) semakin tinggi,” kata Roy saat ditemui wartawan di Rumah Makan Pawon Bambu Solo, kawasan kelapa gading, Jakarta Utara, Kamis 1 April 2021.
Menurutnya, memproduksi film besar di masa pandemi memang cukup menantang, terutama dari segi anggaran, mengingat para kru dan pemeran harus terus dipantau kesehatannya seperti melakukan tes cepat (rapid test) secara berkala.
Namun, hal ini menimbulkan fenomena dan kebiasaan baru untuk membuat film, seperti mulai memaklumi komunikasi jarak jauh sebagai salah satu bagian proses syuting.
Sedangkan Aktor Muda nan ganteng Jerzy Montana di lokasi yang sama mengatakan, bahwa dirinya sendiri saat ini mulai melakukan proses praproduksi hingga reading pemeran secara jarak jauh melalui aplikasi telekonferensi seperti Zoom untuk Film Handaru (Lelaki Juga Punya Hati).
“Teknologi sudah semakin canggih. Untuk berkarya, batasannya cuma diri kita sendiri. Kita bisa Zoom meeting untuk melakukan briefing hingga reading, walaupun memang kurang ideal,” katanya.
Selain itu, beberapa adaptasi juga dilakukan dalam proses produksi atau syuting. Misalnya pemberlakuan protokol kesehatan, pembatasan kru produksi, hingga pengambilan adegan secara mandiri oleh pemeran sendiri.
“Kita harus terus berjalan maju. Ini adalah salah satu platform untuk berkarya dan berpikir kritis lagi. Dan jangan takut untuk berkarya,” jelas pemar Bima ini.
Sementara itu, Sendy Meliyana sang pebisnis dalam bidang jasa butik untuk film dan sinetron mengungkapkan, dengan adanya pandemi dirinya juga sulit mengembangkan usahanya. Karena keterbatasan akses dan terhenntinya berbagai produksi Film.
“Tapi kuta sangat beruntung dengan adanya online dan media sosial lainya, sangat membantu perkembangan usaha, terutama untuk resto dan kecantikan,” ujarnya (ML/IB)

