
Kupang,nwartapedia.com – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Mataram B. Kale,S.Si.,M.Si menyampaikan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) NTT pada Januari 2025 mengalami kenaikan sebesar 0,63 persen dibandingkan dengan Desember 2024.
Menurut Matamira, NTP Januari 2025 dihitung berdasarkan tahun dasar 2018 (2018=100) dan mencakup lima subsektor utama, yaitu tanaman padi dan palawija, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan, serta perikanan.
Secara keseluruhan, NTP NTT pada Januari 2025 tercatat sebesar 101,60, dengan rincian sebagai berikut Tanaman padi-palawija (NTP-P): 99,81, Hortikultura (NTP-H): 98,55, Tanaman perkebunan rakyat (NTP-TPR): 104,54, Peternakan (NTP-Pt): 107,89 dan Perikanan (NTP-Pi): 93,44.
“Kenaikan NTP ini disebabkan oleh perkembangan indeks harga terima yang lebih cepat dibandingkan harga bayar. Hampir semua subsektor mengalami peningkatan, kecuali subsektor peternakan,” “ujar Matamira dalam siaran resmi BPS NTT pada Senin (03/01/2025)).
Selain itu, BPS juga mencatat bahwa pada Januari 2025 terjadi inflasi perdesaan sebesar 0,01 persen.
Inflasi ini terutama dipicu oleh kenaikan harga pada subkelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Dengan kenaikan NTP ini, diharapkan daya beli dan kesejahteraan petani di NTT dapat terus meningkat, meskipun masih ada tantangan dalam subsektor tertentu seperti perikanan dan hortikultura yang mencatat angka di bawah 100, menandakan bahwa biaya produksi masih lebih tinggi dibandingkan harga jual.
BPS akan terus memantau perkembangan ekonomi perdesaan dan sektor pertanian di NTT untuk memberikan data yang akurat dalam pengambilan kebijakan yang berpihak pada petani. (MI)
