Oleh: Dr. Aqua Dwipayana
Kupang,mwartapedia.com — umat malam lalu, 16 Juli 2021 saat sedang zoom meeting dengan peserta yang terbatas, hanya tiga orang, tiba-tiba whatsapp (WA) saya bermasalah. Sebagian datanya hilang. Meski begitu saya tetap fokus pada rapat hingga tuntas._
Kepada peserta rapat dan para relasi yang sering kontak, langsung saya sampaikan tentang WA yang tidak dapat digunakan. Saya infokan jika sewaktu-waktu ada yang perlu dikomunikasikan dapat menyampaikan lewat telepon atau Blackberry.
Dengan begitu komunikasinya tetap lancar. Meski dengan jumlah orang yang terbatas karena info itu saya sampaikan kepada beberapa orang saja.
Malam itu juga saya mencoba memulihkan WA yang bermasalah tersebut. Tidak berhasil.
Saya menyikapinya dengan tenang. Seperti tidak terjadi apa-apa. Itu sebagai wujud nyata berpikir positif. Sekaligus upaya menjaga imunitas tubuh di saat pandemi Covid-19.
Untuk menenangkan diri sekaligus menghibur, saya “tanamkan” bahwa WA bermasalah itu adalah cara TUHAN “menyuruh” saya istirahat sejenak dari aktivitas rutin berkomunikasi lewat WA.
Saat WA-nya proses pemulihan saya istirahat seperti biasa. Doa dan harapannya Sabtu pagi, 17 Juli 2021 begitu bangun tidur WA-nya sudah pulih kembali.
Begitu bangun tidur, saat mengecek WA, saya melihat pemulihannya hanya 25%. Perubahannya tidak signifikan.
Saya kemudian mengontak Hasan, langganan di Mall Jambu Dua Bogor yang biasa membantu jika telepon genggam saya bermasalah. Karena masih dalam situasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat sehingga dia tidak “ngantor”. Tokonya tutup.
“Selama PPKM darurat toko tutup Pak Aqua. Saya sekeluarga sedang di mertua di Jakarta. Ngga tahu sampai kapan bukanya,” ujar Hasan sambil curhat tentang penghasilannya yang terhenti bersamaan dengan pemberlakuan PPKM darurat.
Hasan mengatan Senin minggu depan (hari ini-pen) akan ke Bogor. Jika sudah tiba di Bogor bakal mampir ke rumah untuk mengecek dan memperbaiki WA saya yang bermasalah.
*Menghibur Diri*
Sambil menunggu hari Senin, Hasan memberi “kursus” singkat dengan menyampaikan beberapa instruksi untuk pemulihan WA saya. Semua pesannya saya simak dan laksanakan.
Alhamdulillah berhasil. Saya sangat bersyukur dan senang sekali. Meski ada sebagian data percakapan yang hilang. Saya mengikhlaskannya. Sekaligus untuk menghibur diri agar imunitas tubuh tetap terjaga dengan baik.
Saya tidak mau “menyiksa” diri karena WA bermasalah. Berusaha menghadapinya dengan realistis dan secara bertahap memperbaikinya. Apapun hasilnya saya meyakini itulah yang terbaik menurut TUHAN.
Di samping itu tentu mengambil hikmahnya. Banyak sekali. Di antaranya “istirahat” sementara dari WA. Beralih pada aktivitas lain yang tetap produktif dan bermanfaat.
Ibaratnya mesin, WA perlu waktu untuk istirahat. Setelah rutin setiap hari dipakai. Kecuali saat tidur, silaturahim, melaksanakan Sharing Komunikasi dan Motivasi, serta aktivitas lainnya.
Saya putuskan sepanjang Sabtu WA-nya tetap “istirahat”. Meski sudah pulih kembali. Seiring dengan itu saya menata pengelompokkannya untuk memudahkan pengiriman pesan-pesan.
Ternyata terjadi penambahan hampir seribu nomor baru. Itu saya ketahui saat menata pengelompokkannya. Lumayan banyak.
Setelah penataannya selesai dan memastikan semua ok, Minggu sore kemarin, 18 Juli 2021, saya kembali membagikan tulisan. Pilihannya pada topik yang sedang aktual yakni tentang Covid-19.
Saya sengaja memilih topik tersebut karena meyakininya menarik perhatian banyak orang. Semua orang butuh info tentang itu.
Saya pilih membagikan link berita berjudul “Hikmah di Balik Perjuangan Pulih dari COVID-19: Lebih Dekat dengan Allah SWT” yang diterbitkan tugumalang.id. Media online yang sedang berkembang dan memiliki prospek cerah untuk maju.
Dugaan saya tepat. Hanya hitungan menit langsung mendapat respon dari teman-teman. Jumlah tanggapannya ratusan. Fantastis.
Sebagian ada juga yang menyampaikan rasa syukur dan kegembiraannya karena bisa kembali komunikasi sama saya. Setelah lama tidak kontak.
Seluruh respon itu positif sekali. Silaturahim saya dengan mereka jadi intens. Apalagi sudah lama kami tidak berkomunikasi.
*Sikapi sebagai Cobaan*
Selama ini saya sangat suka silaturahim termasuk lewat media sosial. Satu-persatu saya respon. Meskipun harus sabar karena jumlahnya banyak.
Ketika berkomunikasi lewat WA dengan banyak teman, terasa imunitas tubuh saya meningkat. Bahagia dan gembira. Apalagi sebagian ada yang menyampaikan kondisinya.
Mereka yang sedang senang saya respon dengan menyatakan secara tulus turut merasakan kegembiraan mereka. Sedangkan yang bersedih karena terkena langsung dampak Covid-19 saya hibur dan doakan. Saya melakukannya secara proporsional dan profesional.
Imunitas saya terasa makin meningkat saat menyimak kisah-kisah sedih dan pilu mereka yang terkena dampak Covid-19. Karena pada saat bersamaan ada rasa syukur yang mendalam sebab kami sekeluarga tidak mengalami seperti yang dialami mereka.
Betapa sayangnya TUHAN pada kami sekeluarga. Di samping rasa syukur yang mendalam, saya menyikapi semuanya sebagai cobaan. Harus lebih hati-hati, waspada, dan mawas diri.
Selalu memperbanyak rasa syukur. Makin mendekatkan diri kepada TUHAN Sang Pencipta alam semesta beserta isinya.
Paling saya syukuri bisa kembali secara normal berkomunikasi dengan semua teman yang tergabung dalam Komunitas Komunikasi Jari Tangan. Alhamdulillah…
Seiring dengan itu saya harus mengakhiri tulisan ini karena bersama keluarga mau berbuka puasa di hari Arafah. Semoga TUHAN selalu memberikan yang terbaik kepada kita semua. Aamiin ya robbal aalamiin…
>>>Dari Bogor saya ucapkan selamat mengambil hikmah dari semua kejadian. Salam hormat buat keluarga. 18.10 19072021😃<<< (ML/IB)






