Kupang, nwartapedia.com – Lurah Manulai II, Wihelmus Tuan, SP, berharap Pemerintah Kota Kupang memberikan perhatian terhadap kawasan rawan tanah longsor melalui pembangunan bronjong atau penahan tanah.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk mulai menanam pohon sebagai langkah pencegahan longsor pada akhir musim kemarau 2026, menjelang datangnya musim hujan.
Harapan tersebut disampaikan Wihelmus saat ditemui media ini di ruang kerjanya, Senin (19/10/2026).
Menurutnya, langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini, terutama di wilayah yang berada di sepanjang tepian sungai dan kawasan dengan kondisi tanah yang rawan mengalami pergerakan.
Ia menjelaskan, sejumlah titik di Kelurahan Manulai II pernah mengalami longsor sehingga membutuhkan perhatian bersama, baik dari pemerintah maupun masyarakat.
Kondisi tersebut perlu diantisipasi sebelum curah hujan meningkat dan berpotensi memperburuk keadaan tanah di kawasan rawan.
“Kami berharap Pemerintah Kota Kupang dapat membantu pembangunan bronjong atau penahan tanah di sepanjang tepian sungai yang rawan longsor. Kami juga mengimbau masyarakat mulai menanam pohon sebagai langkah pencegahan sejak dini,” ungkap Wihelmus.
Ia mengatakan, upaya pencegahan tidak harus menunggu sampai musim hujan tiba. Pada akhir musim kemarau 2026 ini, masyarakat diharapkan mulai menjaga kondisi lingkungan, menanam vegetasi yang sesuai dengan kondisi lahan, serta membuat terasering pada area yang memungkinkan dan aman dilakukan.
Menurutnya, langkah tersebut perlu menjadi perhatian, khususnya bagi warga yang bermukim di sekitar tebing, tepian sungai, dan lokasi yang sebelumnya pernah mengalami longsor.
Wihelmus menyebutkan, beberapa kawasan, termasuk wilayah Kampung Lama dan sejumlah titik di sepanjang tepian sungai, perlu mendapat perhatian dalam upaya mengurangi risiko bencana.
Karena itu, ia berharap adanya peninjauan dan penanganan lebih lanjut dari instansi teknis untuk menentukan kebutuhan perlindungan pada setiap lokasi.
Selain penanaman pohon, masyarakat juga diimbau menjaga saluran air agar tidak tersumbat dan memperhatikan tanda-tanda awal pergerakan tanah, seperti munculnya retakan pada tanah atau perubahan kondisi lereng.
Jika ditemukan tanda-tanda tersebut, warga diminta segera melapor kepada pemerintah kelurahan atau instansi terkait.
Wihelmus menegaskan, pencegahan longsor membutuhkan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat.
Dukungan pemerintah melalui pembangunan bronjong pada titik yang membutuhkan penguatan harus disertai partisipasi warga dalam menjaga lingkungan.
Ia berharap, melalui langkah antisipasi sejak akhir musim kemarau 2026, penanganan kawasan rawan dapat dipersiapkan lebih baik sehingga risiko tanah longsor menjelang musim hujan dapat dikurangi dan keselamatan masyarakat Kelurahan Manulai II tetap terjaga. (MI)


