Kupang, nwartapedia.com — Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Nusa Tenggara Timur (NTT) terus mendorong terwujudnya Free Trade Zone (FTZ) sebagai strategi membuka peluang perdagangan dan investasi antara NTT dengan negara tetangga, khususnya Timor Leste.
Rencana pengembangan Free Trade Zone antara NTT dan Timor Leste tersebut dimotori oleh KADIN NTT dan dibahas dalam kegiatan yang berlangsung di Wisma Alak Resort, Kota Kupang, Rabu (16/9/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Otorita Batam serta Ketua KADIN Provinsi Kepulauan Riau, untuk memberikan masukan dan berbagi pengalaman mengenai pengembangan kawasan perdagangan bebas di Batam.
Ketua KADIN NTT, Dr (Cand) Bobby Lianto, M.M., MBA, mengatakan posisi geografis NTT menjadi salah satu modal penting dalam mendorong pengembangan kawasan perdagangan bebas.
NTT memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan Timor Leste dan Australia. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi pintu masuk bagi NTT untuk membangun konektivitas perdagangan regional sekaligus memperluas pasar ke tingkat internasional.
“Kita manfaatkan posisi ini untuk bisa membuka triangle antara tiga negara, antara Kota Kupang, Dili dan Darwin, atau antara Indonesia, Timor Leste dan Australia,” ujar Bobby.
Menurutnya, rencana FTZ tidak hanya diarahkan untuk menjadikan Timor Leste sebagai pasar, tetapi juga sebagai pintu menuju pasar yang lebih luas.
Bobby menjelaskan bahwa KADIN NTT telah membangun komunikasi dengan dunia usaha di Timor Leste dan Australia untuk mengidentifikasi peluang perdagangan dan investasi yang dapat dikembangkan.
Dalam kegiatan tersebut, KADIN NTT juga menggali pengalaman Batam dalam mengembangkan kawasan ekonomi dan perdagangan bebas.
Bobby menilai pengalaman Batam penting menjadi bahan pembelajaran bagi NTT, terutama dalam membangun infrastruktur, kawasan industri, pelabuhan, konektivitas, serta kebijakan yang mendukung investasi.
Batam dinilai berhasil memanfaatkan posisi geografisnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menarik investasi.
Karena itu, KADIN NTT berharap kolaborasi dengan Otorita Batam dan KADIN Provinsi Kepulauan Riau dapat memberikan gambaran mengenai langkah-langkah yang perlu dipersiapkan NTT dalam mewujudkan FTZ.
Bobby juga mendorong peningkatan konektivitas antara Kupang, Dili dan Darwin.
Menurutnya, keberadaan penerbangan langsung maupun konektivitas perdagangan akan menjadi faktor penting dalam mendukung mobilitas pelaku usaha, wisatawan, barang dan investasi.
KADIN NTT bahkan terus mendorong terwujudnya penerbangan langsung Kupang-Dili dan Kupang-Darwin.
Selain perdagangan, kerja sama dengan Darwin juga diarahkan pada sejumlah sektor, antara lain pendidikan, pariwisata, perdagangan, olahraga dan kesehatan.
KADIN NTT juga sedang menginisiasi hubungan Friendship City atau Sister City antara Kota Kupang dan Darwin.
Bobby menegaskan bahwa rencana Free Trade Zone harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat NTT.
Menurutnya, apabila kawasan perdagangan bebas mampu menarik industri dan investor, maka kebutuhan terhadap tenaga kerja lokal akan meningkat.
Di sisi lain, UMKM juga berpeluang menjadi bagian dari rantai pasok industri.
“Begitu banyak pabrik-pabrik dibuka, mereka pasti membutuhkan supply dari UMKM-UMKM kita. Mereka akan membutuhkan supply dari industri kecil dan menengah,” kata Bobby.
Karena itu, KADIN NTT akan terus mendorong UMKM agar mampu naik kelas dan memenuhi kebutuhan industri yang nantinya masuk ke NTT.
Bobby berharap rencana Free Trade Zone antara NTT dan Timor Leste dapat menjadi momentum untuk membangun ekosistem ekonomi baru yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, investor, UMKM dan masyarakat.
Dengan memanfaatkan posisi strategis NTT sebagai pintu gerbang selatan Indonesia, KADIN NTT optimistis perdagangan dengan Timor Leste, Australia dan pasar internasional dapat semakin berkembang.
Ketua KADIN Kepulauan Riau Ir Nur Mustava menjelaskan, Kota Batam merupakan salah satu pintu perdagangan bebas antara Singapura, Malaysia, dan Indonesia.
Karena itu, pihaknya siap untuk bekerja sama, berkoordinasi untuk membuka pusat perdagangan baru di daerah perbatasan, seperti di NTT.
“Kami siap mendukung, berbagi pengalaman, membuka jaringan dan menjalin kerja sama. Semoga FGD ini menjadi awal kolaborasi untuk membangun Indonesia dari perbatasan NTT dengan Timor Leste,” ungkapnya.
Ketua Kadin Kota Batam Roman Nasir Hutabarat mengungkapkan, pihaknya hadir di Kota Kupang untuk melihat pertumbuhan ekonomi di kota ini.
“Kami bermaksud, bertujuan untuk barangkali ada bisa kolaborasi yang baik antara Kota Batam dengan Kupang. Kami melihat Kota Kupang sangat dekat dengan Papua New Guinea, Australia, dan Timor Leste. Kami lihat ini adalah peluang-peluang bisnis. Kami siap berkolaborasi,” tegasnya.
Dia menjelaskan, Kota Batam itu maju karena hanya 24 kilometer ke Singapura dan 36 kilometer ke Malaysia demikianpun Kota Kupang akan maju karena sangat dekat dengan Dili dan Darwin.
Dia berharap karena letak geografis ini, Kota Kupang menjadi kota industri dan kota pariwisata karena didukung dengan panorama yang sangat bagus.
“Kami perdana datang ke Kota Kupang, tetapi kami melihat ada peluang untuk kerja sama. Ada prospek-prospek pertemuan ekonomi yang kelihatan mudah untuk dilaksanakan,” pungkasnya.
Stafsus Presiden yang juga ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua Billy Mambrasar mengapresiasi ekosistem yang dibangun oleh Kadin NTT.
Berdasarkan kondisi geografis, dia melihat warga Timor Leste yang datang ke Kota Atambua untuk berbelanja. Ini menjadi peluang bagi Kadin NTT untuk mengembangkan usaha di perbatasan.
Sayangnya NTT saat ini memiliki bahan baku tetapi tidak memiliki pabrik untuk usaha ekspor. NTT harusnya bisa memanfaatkan SMK-SMK yang ada.
“Untuk mewujudkannya, ini bukan soaln NTT memiliki produk, tetapi seberapa besar NTT berani untuk mendatangkan orang untuk menciptakan produk,” jelasnya.
Dia mendodorng NTT untuk memikiii produk sendiri. Apalagi alur transportasi NTT dan Timor Leste sangat mendukung.
Kepala Bapperida Provinsi NTT Theresia Maria Florentina, SE., M.Ec.Dev., ketika membuka FGD itu mengapresiasi Kadin NTT yang telah menggagas FGD ini.
Bagi Pemprov NTT, kata dia, langkah ini penting mengenai potensi NTT memanfaatkan letaknya yang strategis untuk kesejahteraan masyarakat.
NTT, kata dia, merupakan daerah kepulauan yang berada perbatasan negara Timor Letste. Karena itu ada peluang pembangunan yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan letak geografis ini.
Perbatas harus menjadi ruang kerja sama yang dapat menghadirkan manfat poembangunan negara. Dalam konteks itulah free trade zone perlu dilihat dari upaya pembangunan ekonomi yang kuat dan menguntungkan.
“Kita memiliki hubungan dekat dengan Timor Leste secara sosial dan sejarah dalam waktu yang panjang. Modal sosial ini harus kita rawat untuk mengembangkan bidang ekomomi dan perdagangan,” ungkapnya.
Dia berharap, melalui FGD ini, ke depan ada kerja sama yang baik dan berkenbang serta memiliki dampak bagi masyarakat, khusunya di perbatasan.
Dia juga mengajak para peserta FGD dengan berbagai untur pemangku kepentingan di dalamnya untuk belajar dari Kota Batam yang memilki pengalaman industri, perdagangan.
“Kita memiliki potensi ekonomi yang bisa dikembangkan, seperti UMKM dan pariwisata yang perlu didorong, sehingg tidak berhenti dalam potensi, tetapi bisa dikenal daerah luar,” jelasnya.
Dia berharap KADIN NTT bisa mnejadi mitra pemerintah dalam mengembangkana investasi di NTT. “Kita ingin gagasan ini tidak hanya wacana, namun dipersiapkan dengan baik, sehingha memiliki kontribusi bagi kawaaan perbatasan,” pungkasnya.(MI)


