Maumere, nwartapedia.com — Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menghadiri rangkaian kegiatan keluarga dan keagamaan di Maumere, yang berlangsung sejak Minggu hingga Senin (22–23 Maret 2026).
Perjalanan dimulai pada Minggu (22/3), saat Christian Widodo bersama ayahanda Theo Widodo dan ibunda Theressia Avilla yang lahir di Kelurahan Beru, Kecamatan Alok Timur kota Maumere bertolak dari Kupang menuju Maumere bersama keluarga besar.
Keesokan harinya, Senin (23/3), rombongan memulai agenda dengan kunjungan silaturahmi ke Uskup Maumere, Mgr. Ewaldus Martinus Sedu. Pertemuan tersebut berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan.
Usai pertemuan, keluarga melanjutkan kegiatan inti yakni pemberkatan makam leluhur, yakni Opa dan Oma dari Christian Widodo, yang berlokasi di tempat pemakaman Ile Getang, Kelurahan Nangameting, Kecamatan Alok Timur kota Maumere.
Upacara berlangsung khidmat sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus penguatan nilai-nilai iman dalam keluarga.
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut ke Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, yang sebelumnya dikenal sebagai Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero. Rombongan diterima langsung oleh Rektor IFTK, Pater Dr.Otto Gusti Madung SVD.
Dalam kesempatan tersebut, pihak kampus memaparkan perkembangan IFTK di bawah kepemimpinan Pater Dr.Otto Gusti Madung, yang kini tidak hanya berfokus pada bidang filsafat dan teologi, tetapi juga telah mengembangkan program studi teknologi kreatif seperti kewirausahaan, desain komunikasi visual (DKV), dan sistem informatika.
Rombongan juga mengunjungi Museum Bikon Blewut yang berada di lingkungan kampus.
Di sana, mereka disambut oleh pimpinan museum yg juga antropolog Pater Laurensius Woda SFil, M.T.TS MA. Museum tersebut dikenal sebagai salah satu museum terbesar di NTT, dengan koleksi ribuan artefak dan fosil bersejarah, termasuk temuan manusia purba Flores serta karya seni bernilai tinggi.
Agenda berlanjut dengan kunjungan ke asrama mahasiswa di Ritapiret. Rombongan diterima hangat oleh RD Mansur Ito dan berkesempatan berdoa di kamar bersejarah yang pernah ditempati Paus Yohanes Paulus II.
Di tempat tersebut juga tersimpan relikwi berupa tetesan darah Paus Yohanes Paulus II yang berkaitan dengan peristiwa penembakan pada 13 Mei 1981 di Lapangan Basilika Santo Petrus, Roma.
Kegiatan diakhiri dengan diskusi bersama pimpinan IFTK di rektorat, membahas berbagai hal terkait pengembangan pendidikan, nilai kemanusiaan, serta kontribusi generasi muda bagi daerah dan bangsa.
Kunjungan ini tidak hanya menjadi momen penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga memperkuat ikatan keluarga, iman, serta jejaring antara pemerintah daerah dan lembaga pendidikan di Nusa Tenggara Timur. (MI)

