Kupang,nwartapedia.com — Pemilik lahan tanam perdana jagung hibrida yang digelar DPD Pemuda Tani Indonesia (PTI) Nusa Tenggara Timur, Abraham Paul Liyanto, menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut.
Kegiatan tanam perdana berlangsung di area Hotel Harper Kupang, Sabtu (13/12/2025).
Abraham Paul Liyanto, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Pemuda Tani Indonesia NTT sekaligus Senator DPD RI asal NTT, menyebut pemanfaatan lahan ini merupakan bentuk nyata komitmen mendukung ketahanan pangan dan pemberdayaan petani muda.
“Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat, termasuk Pemuda Tani Indonesia NTT, para petani, warga binaan, serta pihak sekolah dan mitra lainnya. Lahan ini memang kami siapkan untuk kegiatan produktif, dan hari ini kita buktikan bisa dimanfaatkan untuk pertanian,” ujar Paul Liyanto dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, pemilihan waktu tanam jagung hibrida di musim hujan merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan lahan yang sebelumnya dipenuhi rumput liar.
“Daripada rumput tumbuh tinggi dan tidak produktif, lebih baik kita ganti dengan jagung. Ini bukti bahwa tidak ada istilah lahan tidur di NTT, yang ada hanyalah kemauan untuk mengelolanya,” tegasnya.
Paul Liyanto menilai kegiatan tanam perdana ini juga menjadi etalase atau promosi awal bagi Pemuda Tani Indonesia NTT, sekaligus menunjukkan bahwa lahan di kawasan perkotaan pun bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian produktif.
“Lokasi ini sangat strategis. Banyak tamu hotel dan masyarakat akan melihat langsung aktivitas pertanian. Ini bisa menjadi sarana edukasi sekaligus motivasi bahwa pertanian itu dekat dengan kehidupan kita,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pihaknya masih memiliki lahan lain yang potensial untuk dikembangkan, termasuk sekitar 50 hektare lahan kosong di wilayah Tablolong yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian selanjutnya.
Sebagai anggota DPD RI, Paul Liyanto menegaskan perannya untuk menjadi penghubung antara petani, organisasi kepemudaan, dunia usaha, serta pemerintah daerah hingga pusat.
“Tugas saya adalah memastikan ekosistem pertanian ini berjalan lengkap, dari produksi, pendampingan, hingga pemasaran. Kalau petani bekerja sendiri tentu berat, tapi kalau ekosistemnya dibangun bersama, semua akan lebih ringan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya jaminan pasar dan harga bagi petani. Menurutnya, kehadiran koperasi dan kerja sama dengan dunia usaha menjadi solusi agar petani tidak dirugikan saat harga panen turun.
“Kalau ada aksi nyata seperti ini, tidak perlu banyak janji. Orang akan melihat, mengikuti, dan merasakan manfaatnya,” ujar Paul Liyanto.
Ia berharap program penanaman jagung hibrida ini dapat berjalan lancar hingga panen dalam waktu sekitar empat bulan ke depan dan menjadi contoh kolaborasi produktif antara pemuda, petani, dunia usaha, dan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan di Nusa Tenggara Timur. (MI)
