Kupang, nwartapedia.com – Suasana haru menyelimuti rumah duka Baunata, Kota Kupang, Senin (29/6/2026). Tangis keluarga pecah saat prosesi pemakaman almarhumah Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau yang akrab disapa Dokter Icha.
Dalam sambutannya, sang ibunda, Nur Azizah, SKM, M.Kes, menyampaikan curahan hati mengenai kondisi psikologis putrinya sebelum meninggal dunia.
Dengan linangan air mata, Nur Azizah mengungkapkan bahwa putrinya diduga mengalami tekanan psikologis yang berat setelah menangani seorang pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Leona, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).
Menurut penuturannya, sebelum mengambil tindakan medis, Dokter Icha telah berkonsultasi dengan dokter spesialis yang dinilai memiliki kompetensi sesuai standar pelayanan kesehatan.
Namun, Nur Azizah mengklaim putrinya justru mendapat tekanan dari pihak luar yang dinilai tidak memiliki kewenangan dalam menentukan tindakan medis.
Ia menyebut putrinya pulang dalam keadaan menangis karena merasa takut setelah menerima ancaman yang disebut dapat menghentikan praktik dokter maupun operasional rumah sakit.
Ia juga mengaku putrinya mendapat intimidasi dari oknum yang memperkenalkan diri sebagai anggota DPRD yang membidangi sektor kesehatan.
Menurutnya, peristiwa tersebut terjadi di hadapan banyak pasien sehingga membuat Dokter Icha mengalami tekanan mental yang sangat berat.
Sejak peristiwa dugaan intimidasi itu terjadi, kata Nur Azizah, kondisi putrinya berubah drastis.
Dokter Icha disebut langsung menangis histeris dan diopname usai kejadian akhirnya dipulangkan karena sudah tidak sanggup melanjutkan pekerjaannya akibat tekanan psikologis yang dialaminya.
“Anak saya pulang dalam keadaan menangis. Saya berusaha menenangkan dan menjelaskan bahwa menghentikan praktik dokter maupun pelayanan rumah sakit memiliki mekanisme, aturan, dan tahapan yang jelas. Saya katakan agar dia tidak takut. Tetapi rasa takut itu ternyata sangat membekas,” ujar Nur Azizah.
Nur Azizah mengatakan, sebagai orang tua, dirinya bersama sang suami terus berusaha menguatkan putrinya agar tidak larut dalam rasa takut.
Namun, menurutnya, tekanan yang dialami Dokter Icha sudah begitu berat hingga memengaruhi kondisi mentalnya.
“Dia berkata kepada saya, ‘Mama, saya tidak kuat lagi karena kejadian tersebut di depan banyak pasien.’ Sebagai seorang ibu, saya tidak pernah membayangkan harus kehilangan anak yang saya besarkan dengan penuh kasih sayang dalam keadaan seperti ini,” ucapnya sambil menahan tangis.
Nur Azizah berharap peristiwa yang menimpa putrinya menjadi perhatian seluruh pihak, khususnya pemerintah, agar tenaga kesehatan memperoleh perlindungan hukum dan perlindungan profesi saat menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.
“Saya akan memperjuangkan agar tenaga kesehatan mendapat perlindungan hukum dan perlindungan dalam menjalankan profesinya. Jangan sampai ada lagi tenaga kesehatan yang mengalami intervensi atau intimidasi saat memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat, tenaga kesehatan, kerabat, serta para pejabat yang telah memberikan dukungan dan perhatian kepada keluarga selama masa duka.
Kronologi Kasus
Untuk diketahui, Dokter Icha yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Leona, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), meninggal dunia pada Jumat (26/6/2026).
Peristiwa yang menjadi sorotan publik bermula ketika Dokter Icha menangani seorang pasien berusia 19 tahun yang dirujuk dari RSUD Kefamenanu ke RS Leona pada Sabtu (13/6/2026) akibat gigitan ular.
Pasien tersebut diketahui merupakan keluarga salah satu anggota DPRD Kabupaten TTU.
Saat memberikan penanganan, Dokter Icha disebut telah melakukan pemeriksaan dan berkonsultasi dengan dokter spesialis sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Berdasarkan hasil konsultasi, pasien belum direkomendasikan menerima serum anti-bisa ular tertentu.
Selain itu, Rumah Sakit Leona juga dilaporkan tidak memiliki stok anti-venom yang diminta pihak keluarga pasien. (MI)
