Kupang, nwartapedia.com – Tim dosen dan mahasiswa Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Kemenkes Kupang memberdayakan guru prasekolah menjadi kader kesehatan gigi atau “Kak Gigi” untuk mendukung deteksi dini karies pada anak di TK Kristen Baumata, Kecamatan Taebenu pada Kamis (24/9/2026).
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) ini dipimpin oleh drg. Emma Krisyudhanti, MDSc, bersama anggota tim drg. Ratih Variani, M.Kes, dan drg. Shri Ayu Purnami Mahastuti, MKM, serta melibatkan tiga mahasiswa Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Kemenkes Kupang.
Program tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru, orang tua, serta siswa dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut, sekaligus mendorong deteksi lebih awal terhadap masalah gigi pada anak.
Karies gigi masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian sejak usia dini. Berdasarkan laporan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi masalah kesehatan gigi pada penduduk Indonesia tertinggi ditemukan pada kelompok usia 5–9 tahun, yakni sebesar 49,9 persen.
Karies dapat menyebabkan nyeri yang mengganggu pola makan, tidur, aktivitas belajar, hingga kehidupan sosial anak. Karena itu, edukasi dan pencegahan perlu dilakukan melalui keterlibatan keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan.
Dalam kegiatan tersebut, siswa mendapatkan edukasi tentang gigi berlubang, cara menjaga kesehatan gigi, serta teknik menyikat gigi yang benar.
Orang tua diberikan pemahaman mengenai makanan yang baik dan buruk bagi kesehatan gigi serta cara menjaga kebersihan gigi anak.
Sementara itu, guru memperoleh materi tentang nomenklatur gigi, pemeriksaan gigi sederhana, dan penggunaan Kartu Menuju Gigi Sehat (KMGS).
Edukasi menggunakan media poster dan alat peraga berupa phantom gigi agar materi lebih mudah dipahami.
Tim juga mendemonstrasikan cara menyikat gigi yang benar. Setelah edukasi, siswa mengikuti kegiatan sikat gigi bersama, kemudian guru melakukan pemeriksaan gigi sederhana sebagai penerapan langsung dari pelatihan yang diberikan.
Kegiatan ini diikuti 10 siswa, lima orang tua, dan dua guru. Hasil pemeriksaan sederhana yang dilakukan guru menunjukkan bahwa 40 persen siswa yang diperiksa mengalami karies gigi.
Selain itu, belum ada siswa dalam kelompok tersebut yang pernah mendapatkan perawatan gigi.
Temuan ini menjadi pengingat pentingnya pemeriksaan kesehatan gigi sejak dini. Melalui deteksi awal, orang tua diharapkan dapat mengetahui kondisi gigi anak dan mengambil langkah tindak lanjut dengan berkonsultasi kepada tenaga kesehatan gigi apabila ditemukan masalah.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, tim Pengabmas menyerahkan poster edukasi kesehatan gigi, phantom gigi, dan satu set alat diagnostik untuk pemeriksaan gigi kepada pihak sekolah. Setiap siswa juga menerima pasta gigi dan sikat gigi.
Melalui program Kak Gigi, guru prasekolah diharapkan dapat menjadi perpanjangan tangan tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi dan melakukan pemeriksaan awal secara sederhana di lingkungan sekolah.
Pemeriksaan tersebut bukan pengganti diagnosis dokter gigi, tetapi menjadi langkah awal untuk mengenali masalah dan mendorong pemeriksaan lebih lanjut.
Bagi dosen, kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Sementara bagi mahasiswa, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk menerapkan ilmu kesehatan gigi secara langsung sekaligus mengembangkan keterampilan komunikasi, kerja sama tim, dan kolaborasi dengan masyarakat.
Melalui keterlibatan guru, orang tua, siswa, dosen, dan mahasiswa, program ini diharapkan dapat memperkuat kebiasaan menjaga kesehatan gigi serta meningkatkan perhatian terhadap pencegahan karies sejak usia dini. (MI)



