Ende,nwartapedia.com – Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melaksanakan Safari Kebangsaan ke Kabupaten Ende pada 28 Mei hingga 2 Juni 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat persatuan, toleransi, dan semangat kebangsaan di tengah keberagaman masyarakat.
Ketua FPK NTT, Ir. Theodorus Widodo, kepada media ini pada Senin (1/6/2026), menjelaskan bahwa kegiatan tersebut melibatkan berbagai organisasi dan paguyuban etnis yang tergabung dalam FPK NTT. Di antaranya Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), Kontak Kerukunan Sosial (K2S) Jawa, Ikatan Keluarga Kabupaten Ende Flores (IKKEF), Ikatan Keluarga Besar Rote Hailiteik (IKBRH), Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), Kerukunan Keluarga Madura Flobamora, Paguyuban Betawi, serta Perkumpulan Keluarga Pasundan Mangle.
Rombongan Safari Kebangsaan bertolak dari Kupang menuju Ende menggunakan KM Wilis pada 28 Mei 2026 dengan Ketua Tim Safari, Siprianus Reda, ST.
Setibanya di Ende pada 29 Mei, rombongan langsung menuju kawasan wisata Kelimutu dan bermalam di Desa Wisata Waturaka. Di desa tersebut, peserta diterima secara adat oleh Mosalaki Yohan dan Kepala Desa Yoseph Wawo.
Dalam kesempatan itu, FPK NTT juga menyerahkan bantuan sembako kepada masyarakat setempat serta menggelar pentas budaya sebagai simbol kebersamaan dalam keberagaman.
Puncak kegiatan berlangsung pada 30 Mei 2026 saat rombongan mendaki Gunung Kelimutu dan melaksanakan upacara pengibaran Bendera Merah Putih di puncak gunung dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila.
Upacara dipimpin oleh AKBP (Purn) Gede Aria Bawa, S.Sos., M.H. sebagai pembina upacara, sementara Ketua FPK NTT Ir. Theodorus Widodo bertindak sebagai inspektur upacara. Pengibaran bendera dilakukan oleh Kiyai Pono Musariyokerto dan Christina Tri Handayani, S.Ag., M.Pd., sedangkan doa dibawakan oleh Yuvenaris dari KKSS.
“Upacara pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Kelimutu menjadi simbol kuat semangat persatuan bangsa serta penghormatan terhadap nilai-nilai Pancasila yang menyatukan seluruh elemen masyarakat Indonesia,” ujar Theodorus Widodo.
Setelah upacara, rombongan melanjutkan perjalanan ke lokasi wisata Air Tiga Rasa dan menikmati pemandian air panas di Desa Waturaka.
Pada 31 Mei, peserta Safari Kebangsaan mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno di Jalan Perwira, Kampung Ambugaga, Kelurahan Kota Raja, Ende.
Lokasi tersebut menjadi saksi sejarah ketika Presiden pertama Republik Indonesia itu menjalani masa pengasingan pada tahun 1934 hingga 1938.
Rombongan juga mengunjungi Taman Renungan Bung Karno yang menjadi salah satu situs penting lahirnya gagasan kebangsaan dan nilai-nilai yang kemudian menjadi dasar negara Indonesia.
Kegiatan berlanjut di Desa Nuabosi, di mana peserta diterima secara adat oleh Mosalaki dan pemerintah desa. Selain mengikuti panen ubi secara langsung di kebun masyarakat, peserta juga mengikuti ramah tamah yang diwarnai pertunjukan musik, lagu daerah, tarian gawi, hingga lagu “Ave Maria” yang dinyanyikan bersama oleh seluruh peserta tanpa memandang latar belakang agama.
Kebersamaan tersebut semakin memperlihatkan semangat toleransi dan harmoni yang menjadi tujuan utama Safari Kebangsaan FPK NTT.
Pada 1 Juni 2026, rombongan mengikuti Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Lapangan Pancasila, Kota Ende. Upacara tersebut dipimpin oleh Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf.
Usai upacara, peserta mengunjungi Serambi Bung Karno di Biara St. Yoseph SVD. Tempat tersebut memiliki nilai sejarah penting karena menjadi lokasi Sang Proklamator meminjam dan membaca berbagai buku dari perpustakaan biara selama masa pengasingannya di Ende.
Menurut Theodorus Widodo, rangkaian Safari Kebangsaan ini tidak hanya menjadi perjalanan wisata sejarah dan budaya, tetapi juga sarana memperkuat rasa persaudaraan antar suku, agama, dan kelompok masyarakat di NTT.
“Melalui Safari Kebangsaan ini, kami ingin meneguhkan bahwa keberagaman adalah kekuatan bangsa. Nilai-nilai Pancasila harus terus dirawat melalui kebersamaan, dialog, serta penghormatan terhadap perbedaan,” tegasnya.
Kegiatan Safari Kebangsaan FPK NTT dijadwalkan berakhir pada 2 Juni 2026 setelah seluruh rangkaian agenda kebangsaan, sosial, budaya, dan sejarah selesai dilaksanakan di Kabupaten Ende. (MI)
