Kupang, nwartapedia.com – Langkah serius Pemerintah Kota Kupang dalam membenahi sistem pengelolaan sampah mendapat penguatan dari pemerintah pusat.
Hal ini mengemuka dalam audiensi antara Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, bersama Direktur Mitigasi Perubahan Iklim, Haruki Agustina, serta jajaran Pusdal Lingkungan Hidup Bali Nusra di ruang kerja Wali Kota Kupang, Rabu (8/4).
Turut hadir mendampingi, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Kupang, Ignasius R. Lega, SH, Kepala DPMTSP Kota Kupang, Wildrian Ronald Otta, S.STP, MM, serta Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHK Kota Kupang, Achmad Likur.
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah pusat menyampaikan apresiasi atas progres nyata yang telah dicapai Kota Kupang. Direktur Mitigasi Perubahan Iklim, Haruki Agustina, menilai komitmen yang ditunjukkan menjadi modal penting untuk mendorong Kupang tampil sebagai daerah percontohan di Nusa Tenggara Timur, bahkan di tingkat nasional.
“Sebagai ibu kota provinsi, Kupang memiliki peran strategis. Apa yang dilakukan di sini bisa menjadi acuan bagi daerah lain. Kami melihat keseriusan yang patut diapresiasi dan didorong lebih jauh,” ujarnya.
Data terbaru menunjukkan peningkatan capaian pengelolaan sampah Kota Kupang dari 41,93 menjadi 50,8. Meski masih dalam kategori pembinaan, tren ini dinilai sebagai fondasi kuat untuk akselerasi ke depan.
Pemerintah pusat pun mendorong peningkatan yang lebih ambisius agar Kupang mampu melampaui target nasional.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Kementerian Lingkungan Hidup akan memberikan pendampingan menyeluruh, mencakup penguatan kapasitas sumber daya manusia, intensifikasi edukasi publik, hingga pengembangan kemitraan dengan sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Salah satu langkah strategis yang akan dijalankan adalah pengembangan proyek percontohan pengelolaan sampah terpadu berbasis kecamatan dengan pendekatan zero waste.
Program ini dirancang melibatkan berbagai pihak, termasuk BUMN seperti Pertamina dan PLN, untuk mengoptimalkan pengolahan sampah menjadi energi alternatif dan produk bernilai ekonomi.
Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menegaskan bahwa pemerintah daerah siap menjalankan transformasi secara bertahap namun konsisten.
Ia menyebut pembenahan sistem pengelolaan sampah menjadi salah satu prioritas utama pembangunan kota.
“Kami tidak ingin lagi hanya memindahkan sampah. Yang kami bangun adalah sistem pengelolaan yang menyeluruh, dari hulu hingga hilir. Ini proses besar, tapi kami siap menjalaninya,” tegasnya.
Saat ini, produksi sampah di Kota Kupang mencapai sekitar 267 ton per hari. Untuk mengatasinya, Pemkot telah menyiapkan skema pengelolaan berbasis wilayah dengan target setiap kecamatan memiliki Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), sehingga hanya sebagian kecil residu yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Target kami jelas, hanya sekitar 15 persen residu yang masuk ke TPA. Sisanya harus diolah dan dimanfaatkan secara optimal,” jelasnya.
Berbagai inovasi juga telah diimplementasikan, seperti pembentukan Satgas Penanganan Sampah, pengaturan waktu pembuangan, penyediaan kontainer sampah, hingga program kompetisi kebersihan antar kelurahan dengan insentif mencapai Rp1 miliar.
Meski demikian, tantangan utama masih terletak pada perubahan perilaku masyarakat. Pemerintah terus menggencarkan edukasi melalui berbagai pendekatan, mulai dari lingkungan pendidikan, tempat ibadah, hingga komunitas warga.
Haruki menekankan bahwa keberhasilan program pengelolaan sampah sangat ditentukan oleh kolaborasi antara sistem yang baik dan partisipasi aktif masyarakat.
Oleh karena itu, pemerintah pusat juga mendorong pelibatan tenaga penyuluh lintas sektor guna memperkuat edukasi pemilahan sampah sejak dari sumber.
Audiensi ini menghasilkan komitmen bersama untuk memperkuat koordinasi dan pendampingan berkelanjutan, termasuk pemantauan progres secara rutin.
Dengan sinergi yang semakin solid antara pemerintah pusat dan daerah, Kota Kupang kini berada di jalur strategis menuju kota percontohan pengelolaan sampah tidak hanya di NTT, tetapi juga berpotensi menjadi inspirasi di tingkat nasional. *
