Kupang, nwartapedia.com – Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) NTT menggelar kegiatan buka puasa bersama di kawasan Monumen Flobamora Rumah Pancasila, Desa Nitneo, Kabupaten Kupang, Selasa (10/3).
Kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan lintas agama sekaligus momentum memperkuat nilai persatuan dan kebangsaan.
Ketua FPK NTT, Ir. Theodorus Widodo, mengatakan kegiatan buka puasa bersama tersebut sengaja dilaksanakan di lokasi monumen sebagai bentuk persaudaraan dengan umat Muslim yang tengah menjalankan ibadah Ramadan, sekaligus memanjatkan doa agar pembangunan Monumen Flobamora Rumah Pancasila dapat segera dilanjutkan dan diselesaikan.
Acara diawali dengan pengantar dari Ketua FPK NTT, kemudian dipandu oleh Ustaz Mu’alim Chaniago sebagai pembawa acara.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan lantunan salawat, tauziah oleh Kiai Pono Musariyokerto , serta dialog kebangsaan sambil menunggu waktu berbuka puasa.
Dalam dialog tersebut, Theo Widodo sapaan akrabnya menceritakan sejarah lahirnya gagasan pembangunan Monumen Flobamora Rumah Pancasila.
Ia menjelaskan bahwa ide pembangunan monumen muncul dari diskusi para pengurus FPK NTT yang ingin menghadirkan simbol nyata penguatan nilai-nilai Pancasila di tengah tantangan ideologi yang dapat mengancam persatuan bangsa.
“Pancasila adalah dasar negara dan perekat bangsa. Karena itu kami di FPK NTT merasa perlu menghadirkan simbol yang mengingatkan bangsa akan pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila,” ujarnya.
Menurut Theo Widodo, gagasan pembangunan monumen tersebut bermula dari diskusi para pengurus FPK yang menilai bahwa penguatan wawasan kebangsaan tidak cukup hanya dilakukan melalui diskusi, tetapi harus diwujudkan melalui langkah nyata.
Bersama sejumlah tokoh FPK seperti Raymundus Lema dan Pius Rengka, mereka kemudian berupaya mencari lokasi yang tepat untuk pembangunan monumen tersebut.
Namun upaya mencari lahan tidaklah mudah. Akhirnya, Theo Widodo bersama keluarganya memutuskan untuk menghibahkan sebagian lahan miliknya seluas sekitar 5.000 meter persegi yang berada di puncak Desa Nitneo, Kabupaten Kupang, yang berbatasan langsung dengan wilayah Kota Kupang.
Theo Widodo mengungkapkan, keputusan tersebut juga melalui diskusi bersama keluarga di rumah. Dalam perbincangan tersebut, putranya, dr. Christian Widodo yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota Kupang turut memberikan dukungan.
“Dalam diskusi keluarga itu, putra saya dr.Christian Widodo yang saat itu mengatakan bahwa kalau untuk negara, kita harus memberikan yang terbaik,” ungkap Theo Widodo.
Dukungan keluarga tersebut semakin menguatkan keputusannya untuk menghibahkan lahan tersebut demi pembangunan Monumen Flobamora Rumah Pancasila.
Rencana pembangunan monumen kemudian disampaikan kepada Gubernur Frans Lebu Raya dan ketua DPRD NTT Anwar Pua Geno.
Setelah melalui proses pembahasan dan persetujuan, pembangunan monumen dimulai dengan peletakan batu pertama pada tahun 2018.
Namun pembangunan monumen tersebut belum sepenuhnya rampung setelah berakhirnya masa jabatan kepala daerah saat itu.
Aloysius Dando dari Ikatan Keluarga Besar Nagekeo (Ikebana) selanjutnya menambahkan, harapan untuk melanjutkan pembangunan kembali muncul setelah Gubernur NTT Melkiades Laka Lena bersama Bupati Kupang dan Wali Kota Kupang mengunjungi langsung lokasi pembangunan monumen tersebut.
Menurutnya, ketiga kepala daerah tersebut memiliki komitmen untuk melanjutkan dan menyelesaikan pembangunan monumen yang diharapkan menjadi ikon baru bagi Kota dan Kabupaten Kupang.
Selain sebagai simbol kebangsaan, Monumen Flobamora Rumah Pancasila juga diyakini memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi baru di kawasan tersebut.
“Selama ini, pertumbuhan ekonomi Kota Kupang dinilai lebih berkembang ke arah timur. Kehadiran monumen di kawasan Nitneo diharapkan mampu membuka pusat aktivitas ekonomi baru di wilayah perbatasan Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.” Imbuh ketua Banjar Darma Agung Bali Gede Aribawa.
Monumen Flobamora Rumah Pancasila dirancang memiliki tinggi sekitar 40 meter dan berdiri di atas bukit dengan ketinggian sekitar 101 meter di atas permukaan laut, sehingga puncaknya mencapai sekitar 141 meter di atas permukaan laut.
Bangunan ini terdiri dari empat lantai yang dilengkapi berbagai fasilitas seperti teater, diorama sejarah, perpustakaan, hall, aula pertemuan, ruang rapat, serta fasilitas edukasi kebangsaan lainnya.
Dari puncak monumen yang nantinya dapat diakses menggunakan lift, pengunjung akan dapat menikmati panorama kawasan perairan selatan Kupang hingga gugusan pulau-pulau di sekitarnya.
Bahkan monumen tersebut dapat terlihat dari kejauhan oleh kapal yang melintas di perairan selatan pulau Timor maupun pesawat yang terbang di atas wilayah Kupang.
FPK NTT berharap pembangunan Monumen Flobamora Rumah Pancasila dapat segera diselesaikan sehingga tidak hanya menjadi simbol persatuan bangsa, tetapi juga menjadi destinasi wisata dan pusat pertumbuhan ekonomi baru di Nusa Tenggara Timur. (MI)
