Kupang,nwartapedia.com —
Pagi Jumat (9/1/2026) itu, halaman aula Susteran Ssps Bello, Kota Kupang, seakan menyimpan kisahnya sendiri. Sisa hujan semalam masih meninggalkan udara sejuk, namun suasana terasa hangat,bukan oleh terik matahari yang perlahan menampakkan wajahnya, melainkan oleh sukacita Natal yang memancar dari senyum polos anak-anak Taman Kanak-kanak Katolik Santa Maria Helena Bello.
Langkah demi langkah para orang tua, guru, dan para suster SSPS mengalir menuju aula susteran Bello. Saat perayaan Misa Natal keluarga besar sekolah hendak dimulai, keheningan pagi tiba-tiba terpecah oleh alunan suara bening. Koor suara cilik anak-anak TKK Santa Maria Helena Bello mengalun lembut, sederhana, dan jujur,seolah lahir langsung dari hati yang masih murni.
Nada demi nada melayang perlahan, menghipnotis siapa pun yang hadir. Para orang tua terdiam, mengikuti setiap bait nyanyian dari awal hingga akhir misa.
Beberapa suster dan orang tua tersenyum haru, sementara yang lain tak kuasa menyeka sudut mata.
Para guru berdiri mematung, menatap dengan bangga. Di hadapan mereka, anak-anak kecil itu bernyanyi tentang kelahiran Sang Juruselamat tanpa beban, tanpa kepura-puraan, hanya ketulusan, diiringi petikan musik yang dimainkan Jhon Samara, salah satu orang tua murid.
Kepala Sekolah TKK Santa Maria Helena Bello, Sr Helena, SSPS, menuturkan bahwa perayaan Natal bersama ini bukan sekadar agenda tahunan. Lebih dari itu, Natal menjadi ruang perjumpaan iman, cinta, dan harapan.
“Melalui suara dan kehadiran anak-anak, kita diingatkan kembali bahwa iman tumbuh dari kesederhanaan dan kasih yang tulus,” ujarnya.
Dalam suasana khidmat, Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RD Toni Kobesi. Dalam homilinya, ia mengajak seluruh komunitas sekolah, anak-anak, orang tua, guru, dan para suster, untuk memaknai Natal sebagai panggilan hidup untuk berbagi.
“Yesus Kristus, Sang Guru Ilahi, mengajarkan kita untuk peduli dan mengasihi tanpa syarat. Nilai-nilai inilah yang perlu ditanamkan sejak dini kepada anak-anak,” tutur RD Toni dengan suara tenang namun sarat makna.
Ia menegaskan, pendidikan iman tidak hanya berlangsung di ruang kelas atau di dalam gereja, tetapi terutama melalui teladan hidup sehari-hari di dalam keluarga. Anak-anak belajar bukan dari banyaknya kata, melainkan dari apa yang mereka lihat, rasakan, dan alami.
Usai misa, suasana kembali mencair. Tawa anak-anak memenuhi ruangan, berpadu dengan canda para orang tua dan guru.
Di sela kebersamaan itu, salah seorang anak TKK Santa Maria Helena dengan polos menyampaikan ungkapan hatinya di hadapan semua yang hadir.
Dengan suara lirih namun tulus, ia berkata bahwa ia senang bisa bernyanyi untuk Yesus dan bahagia karena bisa merayakan Natal bersama mama, papa, guru, dan teman-temannya.
Kalimat sederhana itu justru menggetarkan hati, menutup perayaan dengan Pertunjukan Drama Natal oleh seluruh anak anak TKK Maria Helena, dangan rasa syukur yang mendalam.
Kebersamaan pun dilanjutkan dengan makan siang bersama. Di meja-meja sederhana, Natal menjelma menjadi pengalaman iman yang hidup, hadir dalam tawa, dalam cerita, dan dalam kepolosan anak-anak.
Dan pagi itu, semua yang hadir seakan sepakat dalam diam: Natal sungguh hadir di TKK Santa Maria Helena Bello, dalam kasih yang sederhana dan kebersamaan yang tulus.
(goe)
