Kupang,nwartapedia.com – DPD Pemuda Tani Indonesia (PTI) Nusa Tenggara Timur bersama PT Silvano Maynardi Jaya (SMJ) melaksanakan kegiatan tanam perdana jagung hibrida di area depan Hotel Harper Kupang, Sabtu (13/12/2025).
Kegiatan ini menjadi langkah awal kolaborasi strategis dalam mendorong ketahanan pangan dan pemberdayaan petani di NTT.
Ketua DPD Pemuda Tani Indonesia NTT, Bobby Lianto, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut cepat pascapelantikan kepengurusan PTI NTT pada 27 Desember 2025.
“Sehari setelah pelantikan, tepatnya tanggal 28 kami sudah melakukantanam jagung di Kelurahan Penfui dan kami juga langsung bergerak melakukan survei lahan-lahan di Kota Kupang dan kabupaten sekitar. Hari ini kita langsung mulai lagi penanaman jagung hibrida di lahan sekitar Hotel Harper,” ujar Bobby.
Ia menyampaikan bahwa penanaman ini merupakan bagian dari program kolaborasi antara Pemuda Tani Indonesia dan PT SMJ untuk memanfaatkan lahan-lahan produktif, sekaligus memberdayakan petani, termasuk mereka yang tidak memiliki modal memadai.
Menjawab pertanyaan terkait pola kerja sama dengan petani yang tidak memiliki lahan atau modal, Bobby Lianto menegaskan bahwa sistem yang diterapkan adalah pemberdayaan petani berbasis kemitraan.
“Jagung yang ditanam ini sudah ada penjamin pembelinya. Semua hasil panen akan dibeli kembali dengan harga yang pantas oleh mitra PT SMJ, sehingga petani tidak perlu khawatir soal pemasaran,” jelasnya.
Bobby Lianto berharap program ini dapat menjadi contoh dan diperluas ke seluruh kabupaten/kota di NTT.
“Kalau ini sukses, kita akan evaluasi dan kembangkan lebih luas. Target kita bukan hanya tanam, tapi memastikan petani sejahtera dan NTT tidak lagi bergantung pada impor,”tutupnya.
Sementara itu, Direktur PT. Silvano Maynardi Jaya, Silvester Sudin, menjelaskan bahwa perusahaan hadir untuk menjawab persoalan klasik petani, yakni keterbatasan modal, sarana produksi, dan akses pasar.
“Untuk petani yang hanya punya lahan tapi tidak punya modal, seluruh sarana produksi seperti benih, pupuk, dan pendukung lainnya ditanggung oleh PT SMJ. Saat panen, hasil produksi dikurangi biaya operasional, dan 100 persen sisanya menjadi hak petani,” tegasnya.
PT SMJ juga menjamin pembelian seluruh hasil panen, baik dalam skala ratusan hingga jutaan ton. Bahkan, perusahaan siap menyiapkan jalur distribusi besar, termasuk pengiriman antarpulau.
Dalam kegiatan tersebut, digunakan benih jagung hibrida bioteknologi unggulan yang mampu beradaptasi di berbagai kondisi lahan, baik dataran rendah maupun perbukitan.
Selain itu, teknologi pertanian modern juga diterapkan, seperti alat semprot bertenaga baterai serta pupuk khusus yang telah disesuaikan dengan kondisi tanah di NTT.
“Biaya produksi ditekan seminimal mungkin, sementara produktivitas diharapkan maksimal. Ini yang kami dorong agar petani benar-benar merasakan manfaat,” ungkap perwakilan perusahaan.
Kegiatan tanam perdana ini juga melibatkan berbagai pihak, termasuk kelompok petani, warga binaan lembaga pemasyarakatan, serta mitra penyedia sarana pertanian. Kolaborasi lintas sektor ini dinilai menjadi kekuatan utama dalam membangun pertanian NTT yang modern dan berkelanjutan. (MI)
