Kupang,nwartapedia.com — Forum Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim (FPRB API) Kota Kupang melaksanakan rapat evaluasi kinerja bersama unsur pentahelix sekaligus membahas agenda kerja tahun 2026. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Garuda, Kantor Wali Kota Kupang, Rabu (29/10/2025).
Rapat tersebut dihadiri oleh berbagai unsur pentahelix, antara lain pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, serta kelompok disabilitas yang juga dilibatkan dalam upaya pengurangan risiko bencana secara inklusif.
Dukungan BPBD untuk Penguatan Forum
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kupang, Ernest Ludji, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kerja keras forum selama tiga tahun terakhir meski menghadapi keterbatasan anggaran.
“Selama tiga tahun ini teman-teman forum sudah bekerja luar biasa, walaupun dengan dukungan pendanaan yang terbatas. Ini menunjukkan komitmen kuat dari semua pihak,” ujar Ernest.
Ia menegaskan pentingnya keberlanjutan pendanaan dan upaya mitigasi di tingkat kelurahan agar forum-forum pengurangan risiko bencana tetap aktif dan efektif.
“Forum ini ibarat bayi yang sudah kita lahirkan, jadi kita harus rawat bersama. Tanpa dukungan yang konsisten, forum bisa mati suri. Karena itu, mulai tahun depan kami akan berupaya agar dukungan pendanaan bisa lebih terstruktur,” tambahnya.
Ernest juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman bencana, sekaligus mendorong keterlibatan kelompok rentan seperti perempuan dan penyandang disabilitas.
Rencana Kegiatan dan Fokus Tahun 2026
Sementara itu, Ketua FPRB API Kota Kupang, Silvester Daparoka, menjelaskan bahwa rapat ini menjadi ajang evaluasi program tahun berjalan sekaligus penyusunan rencana kerja tahun 2026.
“Hari ini kami mengevaluasi program 2025 dan menyiapkan rencana kerja baru untuk 2026. Fokus utama kami adalah penguatan forum di tingkat kelurahan, peningkatan kapasitas mitigasi bencana, serta integrasi adaptasi perubahan iklim,” ujar Silvester.
Silvester menambahkan bahwa pada 4–5 November 2025, FPRB API akan menggelar kegiatan penguatan kapasitas bagi pengurus forum pengurangan risiko bencana di tingkat kelurahan.
Materi yang akan dibahas mencakup adaptasi perubahan iklim, strategi pendanaan, serta penyusunan rencana pendidikan tsunami.
“Kami juga ingin memastikan bahwa kelompok disabilitas mendapat ruang dalam setiap kegiatan forum. Mereka adalah kelompok rentan yang perlu kita libatkan secara aktif,” tambahnya.
Selain itu, forum juga berencana melakukan penyesuaian nama organisasi dengan menambahkan kata “mitigasi” agar cakupan kerja lebih luas dan mencerminkan fokus utama forum ke depan.
Harapan untuk Sinergi Ke Depan
Menutup kegiatan, para peserta sepakat untuk terus memperkuat sinergi antarunsur pentahelix dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana.
“Yang kami harapkan tahun depan, sinergi dengan semua pihak tetap berjalan baik. Pendanaan harus menjadi bagian dari perencanaan bersama, karena pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan,” ujar salah satu peserta rapat, Merry.
Rapat evaluasi FPRB API Kota Kupang ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat kesiapsiagaan dan mitigasi bencana di tingkat komunitas serta membangun Kota Kupang yang lebih tangguh terhadap ancaman perubahan iklim. (MI)
