Kupang nwartapedia.com – Di RW 003 Kelurahan Bello, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, bendera merah putih berkibar tegak di ujung tiang bambu sederhana.
Kainnya memang tak baru, warnanya sedikit pudar, dan tiangnya jauh dari megah. Namun, semangat yang mengibarkannya begitu berhargalebih mahal dari sekadar kemewahan.
Warga Bello, yang tinggal di pinggiran kota dan kerap luput dari sentuhan pembangunan infrastruktur, tak pernah alpa menegakkan simbol negara.
Menjelang peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia, tangan-tangan sederhana itu memasang bendera dengan penuh hormat, seakan berjanji untuk terus menjaga warisan kemerdekaan.
Meski hidup dalam keterbatasan ekonomi, mereka membuktikan bahwa nasionalisme tak diukur dari tebal tipisnya dompet, melainkan dari ketulusan hati.
“Kami bagian dari Indonesia, dan Indonesia ada di hati kami,” begitu pesan yang terasa dari kibaran merah putih di tengah jalan berbatu dan rumah-rumah sederhana itu.
Merah pada bendera mencerminkan keberanian melawan keterbatasan, sementara putihnya melambangkan ketulusan cinta tanah air.
Dari lorong-lorong kecil di Bello, kita belajar bahwa membangun Indonesia tidak selalu dimulai dari pusat kekuasaan.
Semangat itu bisa tumbuh dari desa terpencil, gang sempit, hingga rumah sederhana di pinggiran kota.
Bendera itu bukan hanya kain dua warna, melainkan simbol janji setia: kemerdekaan akan dijaga, dan pembangunan harus berjalan meratadari pinggiran hingga pusat, dengan semangat yang sama.
Sebab sejatinya, nasionalisme adalah tentang menjaga, mengisi, dan mencintai negeri ini dalam kondisi apa pun. (Goe)
