Kupang,nwartapedia.com – Cornelis Frans Agripa bukan sekadar pengusaha muda di bidang properti. Di balik ketenangannya, pria kelahiran Kupang, 11 Mei 1989 itu, menyimpan rekam jejak perjuangan panjang yang membentuknya menjadi figur yang kini dikenal sebagai pelaku usaha sosial berbasis komunitas.
Dikenal akrab sebagai Orlan, masa mudanya diwarnai dengan kerja keras dan ketekunan. Ia pernah menjajakan bensin eceran, menjadi tukang ojek, hingga bekerja sebagai sales dana tunai di Jakarta.
Semua itu dijalaninya tanpa latar belakang pendidikan formal di bidang teknik atau bisnis properti.
Namun, justru dari situ ia belajar menghadapi realitas dan mengasah naluri wirausaha.
“Saya terbiasa hidup sederhana, tapi saya percaya bahwa setiap orang punya peluang untuk berkembang asal mau kerja keras,” ujarnya saat ditemui di kediamannya di kawasan Bello, Kota Kupang.
Sepulang dari perantauan, ia meniti karier di sektor perumahan sebagai tenaga pemasaran di proyek Sejahgad Town House. Pengalaman itu menjadi titik balik.
Ia belajar memahami dinamika pasar perumahan, membaca kebutuhan masyarakat, dan membangun jaringan. Tahun 2020, ia mendirikan Arland Civa Property dan memulai proyek perumahan sendiri.
Kini, melalui Civa Residence Bello, ia tidak hanya membangun rumah, tetapi juga ekosistem sosial. Kawasan hunian tersebut dirancang untuk masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, dengan konsep inklusif.
Salah satu inisiatifnya adalah membangun kafe publik serbaguna berkapasitas 700 orang—bukan sekadar tempat makan, tapi ruang perjumpaan warga, panggung bagi komunitas, dan arena bagi pelaku UMKM tanpa pungutan sewa.
“Saya ingin menciptakan ruang yang memberdayakan. Semua orang harus punya akses untuk tumbuh bersama,” kata alumnus FISIP Universitas Nusa Cendana itu.
Komitmennya tak berhenti di situ. Orlan kini merancang program listrik rumah tangga terjangkau dan pembangunan supermarket pedesaan di wilayah Kabupaten Kupang, sebagai bagian dari upaya membuka akses bahan pokok bagi masyarakat terpencil.
Ia juga aktif mengembangkan perumahan subsidi untuk mendukung Program Sejuta Rumah, menyasar keluarga muda yang belum memiliki hunian layak.
Baginya, properti bukan semata bisnis, melainkan medium untuk menghadirkan keadilan sosial.
“Kalau orang punya rumah yang aman dan layak, kehidupannya akan lebih tertata. Anak-anak bisa tumbuh lebih baik, dan keluarga punya masa depan,” ujarnya.
Di tengah geliat pembangunan Kota Kupang, Cornelis Frans Agripa tampil sebagai wajah baru generasi penggerak. Ia tidak hanya menumbuhkan aset, tetapi juga harapan.
Prinsip hidupnya sederhana namun kuat: bekerja dengan rendah hati, percaya pada proses, dan selalu berpijak pada nilai spiritual.
“Saya yakin, keberhasilan yang sejati dimulai dari ketulusan dan niat untuk berbagi,” pungkasnya.
(goe)
