Kupang,nwartapedia.com — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kupang terus memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana dengan melakukan serangkaian kegiatan kajian risiko dan perencanaan berbasis komunitas di Kelurahan Nunleu. Kegiatan ini memasuki pertemuan ketiga yang digelar di Kantor Lurah Nunleu, Kamis (24/7/2025).
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Kupang, Elsje W.A. Sjioen, S.Sos., Ms, menjelaskan kepada media bahwa rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari program pembentukan Kelurahan Tangguh Bencana (KELTANA), yang diawali sejak beberapa waktu lalu.
“Pada pertemuan pertama, kami membentuk forum relawan dan menghasilkan nilai awal ketangguhan dari Kelurahan Nunleu. Selanjutnya di pertemuan kedua, kami melakukan kajian ancaman dan kapasitas sumber daya,” ujar Elsje.
Pada pertemuan ketiga yang berlangsung hari ini, tim BPBD bersama masyarakat dan forum relawan menyusun tiga peta penting, yakni peta ancaman, peta kerentanan, dan peta kapasitas.
Masing-masing peta ini disusun berdasarkan pengamatan dan pengalaman lokal serta hasil diskusi kelompok.
“Setelah peta-peta itu jadi, kami mengkaji dan mengklasifikasikan setiap wilayah apakah berada dalam zona risiko tinggi, sedang, atau rendah. Ini penting agar masyarakat tahu di bagian mana wilayah mereka rawan bencana seperti banjir, longsor, atau angin kencang,” jelasnya.
Lebih lanjut Elsje, usai istirahat siang, kegiatan akan dilanjutkan dengan penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) khusus untuk Kelurahan Nunleu, yang bersifat spesifik terhadap ancaman bencana dominan di wilayah tersebut.
“Misalnya, jika ancamannya longsor atau banjir, maka masyarakat bersama forum akan menyusun langkah-langkah mitigasi: apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana. Dengan begitu, masyarakat tidak panik dan tahu tindakan apa yang tepat,” tegas Elsje.
Program ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang BPBD Kota Kupang dalam membangun ketangguhan berbasis komunitas, dengan menjadikan masyarakat sebagai subjek utama dalam upaya pengurangan risiko bencana. (Mai)

