Oleh: E. Nong Jonson sebagai Pemerhati Bahasa & Budaya
Kupang,nwartapedia.com – Perempuan Sikka Krowe memainkan peran yang sangat unik. Tidak hanya dalam kehidupan sosial dan budaya, tetapi juga dalam praktik berbahasa.
Salah satu cara perempuan mengekspresikan pandangannya terhadap laki-laki adalah melalui metafora ‘Peleng Patang’.
Metafora bukan sekadar gaya bahasa, melainkan ornamen penyampai nilai, kritik sosial, serta ekspresi perasaan yang terselubung.
Secara singkat, metafora seperti menikam tetapi dengan lidah. Lembut ditelinga, hancur di hati. Atau dalam hal perilaku, ciuman Yudas terhadap Yesus adalah contoh bentuk metafora.
Telaah ini secara implisit menggunakan pendekatan Feminist Linguistic Anthropology, sebagaimana dikembangkan oleh Deborah Tannen dan Jennifer Coates, kita melihat bahwa perempuan menggunakan metafora untuk membentuk narasi alternatif tentang relasi gender.
Dalam budaya patriarkis seperti di Sikka, metafora menjadi senjata halus bagi perempuan untuk menyuarakan ketidaksetaraan, tanpa menantang norma secara frontal.
Dalam konteks ini, metafora yang digunakan oleh perempuan menjadi refleksi dari konstruksi sosial, relasi perasaan, dan cara menerjemahkan laki-laki dalam perpektif mereka.
Telaah ini juga menggunakan pendekatan metafora konseptual yang dikembangkan oleh George Lakoff dan Mark Johnson dalam karya mereka Metaphors We Live By (1980).
Menurut mereka, metafora adalah proses kognitif. Memperkenalkan satu domain pengalaman dipahami dalam istilah domain lain.
Artinya, ketika seorang perempuan menyebut laki-laki sebagai Jarang talin betan ‘Kuda lepas tali’, dia sedang mengaktifkan struktur konseptual yang memproyeksikan sifat kuda, yaitu liar, tidak terkendali, ke dalam gambaran tentang pribadi laki-laki.
Selain itu, pengandaian perempuan terhadap laki-laki kadang di luar dari pembayangan. Semisal, Du ganu mu’u, nora poi tetor ‘Seperti pisang, hanya memiliki jantung tetapi tidak berhati’. Perempuan bahkan mengidektikkan laki-laki seperti pisang.
Hanya memiliki jantung tetapi tidak memiliki hati. Metafora ini merujuk pada ketidakpekaan laki-laki terhadap kode-kode yang disampaikan secara verbal, ekspresi, dan gestur.
Perempuan, melalui tuturan-tuturan metaforis, menyampaikan evaluasi sosial-individual terhadap laki-laki yang tidak bisa dikritik secara langsung. Sebab ada norma kesopanan dan budaya yang hidup sebagai ciri khas patriartki.
Ungkapan lain, seperti du ganu awu go’on ‘Seperti panas dalam abu’. Metafora ini menggambarkan laki-laki yang tampaknya tenang, tetapi menyimpan kemarahan atau niat buruk.
Panas dalam abu secara harfiah tidak terlihat menyala, tetapi bila disentuh bisa membakar. Perempuan menggunakan ungkapan ini untuk menggambarkan laki-laki yang manipulatif atau tidak jujur.
Beberapa kemarahan juga disampaikan perempuan dengan bentuk bahasa yang lembut tetapi sangat menusuk. Seperti, Ti toki pare ‘Burung makan padi’.Metafora ini digunakan untuk menyebut laki-laki yang tidak produktif.
Namun, menikmati hasil kerja perempuan. Ini mencerminkan kritik sosial terhadap relasi ekonomi dalam rumah tangga, yang menempatkan perempuan sering kali bekerja keras dan hasilnya dinikmati oleh suami yang malas.
Metafora atau Peleng Patang bukan sekadar deskriptif tetapi juga preskriptif. Ketika perempuan menggunakan metafora tertentu, mereka tidak hanya mendeskripsikan laki-laki, tetapi juga menetapkan standar perilaku yang diterima.
Contohnya, metafora Wawi anak ninu leten lakat ‘Anak babi minum di dua air’. Ungkapan ini ditujukan pada laki-laki yang berpoligami secara sembunyi-sembunyi. Fungsinya sebagai kecaman sosial.
Metafora-metafora ini hidup dalam percakapan sehari-hari, lagu rakyat, dan cerita adat. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa perempuan membentuk semacam counter-narrative terhadap dominasi laki-laki dalam wacana resmi (adat, agama). Dengan demikian, bahasa menjadi ruang negosiasi identitas dan kekuasaan.
Meskipun mengandung kritik, penggunaan metafora oleh perempuan tetap tunduk pada norma kesopanan lokal. Mereka jarang menggunakan bahasa kasar atau frontal.
Sebaliknya, sindiran halus, ironi, dan metafora agraris menjadi cara yang efektif dan aman secara sosial untuk menyampaikan pesan mereka.
Metafora menjadi bentuk linguistic resistance bagi perempuan yang tidak memiliki ruang politik atau sosial yang luas.
Dalam keterbatasan kesempatan berbicara, perempuan memilih bahasa kiasan untuk melindungi diri. Sambil tetap menyampaikan suara hati dan ketidakpuasan mereka terhadap situasi sosial yang tidak adil.
Mtafora yang digunakan perempuan Sikka dialek Krowe untuk laki-laki memiliki fungsi yang kompleks. Menggambarkan realitas, mengkritik perilaku, dan mempertahankan norma komunitas.
Bahasa metaforis perempuan mencerminkan daya tahan budaya dan kearifan lokal dalam menghadapi ketimpangan gender.
Perlu dilakukan dokumentasi lebih lanjut terhadap metafora-metafora lokal ini agar tidak ditelan modernisasi. Juga penting bagi pendidikan lokal untuk mengintegrasikan kesadaran gender dan nilai-nilai kultural yang terkandung dalam bahasa sehari-hari. Agar anak-anak belajar menghargai kesetaraan sejak dini.
Kita semua, baik peneliti, pendidik, maupun anggota masyarakat, memiliki tanggung jawab untuk mendengarkan suara perempuan yang sering tersembunyi dalam kiasan.
Mari kita lestarikan bahasa daerah dan makna-makna tersembunyinya, sebagai cermin kebijaksanaan leluhur dan modal sosial untuk masa depan yang lebih adil dan setara. (MI)

