Lewoleba,nwartapedia.com — Suasana haru dan syukur menyelimuti rumah keluarga Betekeneng di Lewoleba, Lembata, saat Pater Fransiskus Betekeneng, SVD merayakan pesta perak 25 tahun imamatnya.
Perayaan yang berlangsung di Lembata pada Jumat (11/7) ini dihadiri keluarga, sahabat, umat, dan para imam, dengan puncak misa syukur diiringi homili penuh refleksi dari sang yubilaris sendiri.
Lahir di Karangora pada 10 Oktober 1969 sebagai putra kedelapan dari sembilan bersaudara, Pater Fransiskus tumbuh dalam keluarga sederhana yang kuat dalam iman dan pendidikan.
Ayahnya, almarhum Petrus Gute Betekeneng, dikenal sebagai guru Sekolah Rakyat (SR), sementara ibunya, almarhumah Elisabeth Letek Pureklolon, adalah sosok ibu rumah tangga yang religius dan penuh kasih.
Meski berasal dari kampung Atawatung, Desa Lamagute, Kecamatan Ile Ape, pendidikan dasarnya ia tempuh di SDK Lewoleba II dan selesai pada 1983, lalu melanjutkan ke SMP Santo Pius X Lewoleba hingga lulus 1986.
Sejak remaja, panggilannya menuju imamat mulai terasah ketika ia masuk Seminari Menengah San Dominggo Hokeng (1986–1990), kemudian Novisiat SVD Nenuk, Atambua (1990–1991), dan melanjutkan studi filsafat dan teologi di Seminari Tinggi Ledalero (1992–1994).
Menembus Pelosok Amerika Latin
Dedikasi dan panggilan Pater Fransiskus membawa langkahnya melintasi samudra, menimba ilmu teologi di Bogotá, Kolombia (1995–2000), di mana ia ditahbiskan sebagai diakon pada tahun 2000. Setahun kemudian, pada 24 November 2001, ia kembali ke kampung halaman dan ditahbiskan sebagai imam oleh Mgr. Darius Nggawa, SVD, Uskup Larantuka saat itu.
Ia mengusung motto tahbisannya dari Kejadian 12:1: “Pergilah ke tanah yang akan Kutunjukkan kepadamu.”
Motto itu terbukti nyata ketika Pater Fransiskus menjalani misi pastoral di pelosok-pelosok Amerika Latin. Saat ini ia dipercaya sebagai pastor kepala di Paroki Tritunggal Mahakudus (Parroquia Santísima Trinidad), Rafael Calzada, Buenos Aires, di bawah Keuskupan Lomas de Zamora, Argentina.
Ia menggembalakan sekitar 65.000 umat yang tersebar di 10 stasi, sebuah tanggung jawab besar yang ia jalani dengan penuh cinta dan dedikasi.
Dalam homilinya, Pater Fransiskus mengajak umat untuk tetap setia pada iman dan terbuka terhadap panggilan Tuhan, meski sering kali jalan yang ditunjukkan tidak selalu mudah.
“Tuhan selalu setia menuntun kita, asalkan kita mau berjalan bersama-Nya,” pesannya.
Perayaan 25 tahun imamat ini menjadi momentum syukur dan inspirasi bagi banyak orang yang hadir, sekaligus mengingatkan bahwa panggilan Tuhan bisa membawa siapa saja melintasi batas-batas bangsa dan benua demi karya pelayanan. (MI)

