Kupang,nwartapedia.com — Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Frederik Christian Purwanto Koenunu, menjadi pembicara utama dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi bagi Pustakawan, Guru, dan Pegiat Literasi yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTT.
Kegiatan in8 berlangsung di Aula Kantor Kominfo NTT, Kamis (10/7/2025), dan dihadiri peserta dari pustakawan, guru dan pegiat literasi di NTT.
Bimtek ini bertujuan meningkatkan kemampuan para peserta dalam mengelola dan menyebarkan informasi yang akurat, relevan, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
Acara dipandu oleh Silvia Cornelia Francis, Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo NTT, yang juga bertindak sebagai moderator.
Dalam sambutannya, Silvia menyampaikan bahwa literasi informasi kini menjadi kebutuhan mendasar di era digital, bukan hanya bagi pustakawan dan guru, tetapi juga bagi semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan dan literasi.
Materi utama disampaikan Frederik Koenunu dengan tema Kemampuan Menganalisis dan Menyebarluaskan Informasi.
Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa literasi informasi tidak hanya berarti bisa membaca atau menyampaikan data, tetapi juga kemampuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara tepat dalam mengambil keputusan.
“Informasi yang kita sebarkan harus memenuhi kriteria akurasi, relevansi, dan etika. Komunikasi yang baik adalah yang membangun, bukan yang merusak. Pustakawan dan guru memiliki peran strategis untuk mencerdaskan masyarakat melalui informasi yang berkualitas,” tegas Frederik.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas informasi, mengingat derasnya arus informasi saat ini. Menurutnya, pemerintah berkewajiban membuka akses terhadap informasi publik tertentu, namun tetap dalam koridor hukum dan etika.
Dalam kesempatan itu, Frederik juga menyoroti kondisi literasi di Indonesia, termasuk di NTT, yang masih memerlukan perhatian serius. Tantangan seperti rendahnya minat baca, keterbatasan akses informasi, dan kurangnya fasilitas literasi masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
“Komunikasi adalah jembatan yang menghubungkan ide, pengalaman, dan pengetahuan. Mari kita gunakan komunikasi yang sehat, efektif, dan penuh etika untuk kemajuan bersama,” tambahnya.
Kegiatan ini berlangsung interaktif, dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang dimanfaatkan peserta untuk berbagi pengalaman dan memperoleh wawasan baru mengenai pengelolaan informasi.
Silvia menutup kegiatan dengan harapan agar para peserta dapat menerapkan ilmu yang didapat, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk memberdayakan lingkungan sekitar.
“Semoga materi yang diperoleh hari ini menjadi bekal untuk memperkuat literasi informasi di NTT, demi menciptakan masyarakat yang lebih cerdas, kritis, dan berdaya,” pungkasnya. (MI)

