Kupang,nwartapedia.com — Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, membuka kegiatan “Mengukir Jejak-Jejak Perempuan GMIT” yang digelar Unit Pembantu Pelayanan (UPP) Perempuan Klasis Kota Kupang.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 3–5 Juli 2025 di Gedung Pramuka ini menghadirkan 78 orang dari 37 jemaat di Klasis Kota Kupang, sebagai bentuk penghargaan dan refleksi atas peran penting perempuan dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat.
Dalam sambutannya, Serena Francis menyampaikan kebanggaannya bisa hadir di tengah para perempuan hebat yang tidak hanya mengenang warisan iman, kasih, dan pelayanan, tetapi juga memberi teladan dan inspirasi bagi generasi kini dan mendatang.
“Saya merasa sangat terhormat berdiri di hadapan ibu-ibu hebat. Ini bukan sekadar seremoni, tetapi sebuah panggilan untuk melanjutkan karya besar Tuhan melalui tangan-tangan perempuan yang setia,” ungkap Serena.
Ia menyoroti bahwa perempuan-perempuan GMIT telah menunjukkan kontribusi luar biasa dalam pengasuhan, pelayanan, serta kehidupan sosial di Kota Kupang.
Kegiatan ini pun sejalan dengan visi Pemerintah Kota Kupang sebagai “Rumah Bersama yang Maju, Mandiri, Sejahtera, dan Berbudaya”.
Serena juga mengapresiasi materi-materi dalam kegiatan ini yang mencakup pelatihan kesehatan mental, pemilihan obat yang tepat, tata busana, hingga perawatan diri.
Menurutnya, ini merupakan bagian penting dari pemberdayaan perempuan, termasuk untuk meningkatkan rasa percaya diri dan citra positif di tengah masyarakat.
“Perempuan harus aktif merawat diri, bukan untuk pamer, tetapi untuk menunjukkan jati diri yang kuat dan penuh kasih. Ketika perempuan maju, Kota Kupang juga ikut maju,” lanjutnya.
Tak hanya itu, Serena juga menyinggung inovasi Pemkot Kupang seperti peluncuran Kelurahan Ramah Disabilitas serta Sunday Market Buat Orang Kupang (SABOAK), yang dirancang untuk memberdayakan UMKM lokal, termasuk yang dijalankan oleh perempuan.
“Di minggu pertama saja perputaran uang mencapai 100 juta rupiah, dan meningkat jadi 150 juta di minggu kedua. Ini bukti bahwa ekonomi kreatif perempuan bisa berkembang pesat jika difasilitasi dengan baik,” jelasnya.
Ia pun mengajak para ibu-ibu untuk mendaftarkan usaha mereka agar bisa terlibat aktif dalam program-program pemberdayaan ekonomi yang sedang digalakkan Pemkot Kupang.
Serena Francis juga menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Kupang terus berkomitmen menjaga nilai-nilai toleransi dan kasih dalam masyarakat. Kota Kupang tercatat sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia sejak 2018, dan peran perempuan serta gereja sangat besar dalam mempertahankan reputasi ini.
“Kita butuh lebih banyak perempuan yang berani bersuara, yang bisa merangkul sesama, melindungi korban KDRT, dan memimpin dengan hati. Mari bersama membangun Kota Kupang yang lebih ramah, adil, dan penuh harapan,” tutup Wakil Wali Kota Kupang.
Kegiatan “Mengukir Jejak-Jejak Perempuan GMIT” merupakan program dari bidang marturia (pelayanan) pelayanan perempuan Klasis Kota Kupang.
Ketua Tim Pelayanan, Ostin Leo Lede Malogha, S.Sos; menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sejak tiga bulan lalu dan bertujuan antara lain:
1. Meningkatkan kesadaran hak perempuan di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan politik.
2. Memperkuat solidaritas perempuan melalui diskusi dan kegiatan kolaboratif.
3. Membekali keterampilan dan pengetahuan agar perempuan tangguh menghadapi zaman.
4. Meneladani perempuan-perempuan hebat dalam Alkitab dan pelayanan Kristus.
5. Mencetak pemimpin perempuan yang mampu membagikan ilmu dan memberdayakan lingkungan sekitar.
Meskipun dari 47 jemaat yang ada di Klasis Kota Kupang hanya 37 yang berpartisipasi, para panitia berharap peserta dapat menjadi agen perubahan di jemaat masing-masing.
Acara ditutup dengan foto bersama serta harapan agar semangat perempuan GMIT terus menyala, bukan hanya dalam pelayanan tetapi juga dalam membangun peradaban kasih yang lebih luas di Kota Kupang. (MI)

