
Kupang,nwartapedia.com – Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat dukungan penuh dari Deputi Pemantauan dan Pengawasan (Tawas) Badan Gizi Nasional I (BGN).
Untuk memastikan kelancaran program, Deputi Tawas BGN, Mayjen (Purn) Dadang Hendrayudha, bersama Direktur Tawas, Kol Armed Rudi Setiawan, S.IP., M.Han melakukan kunjungan langsung ke Kota Kupang, ibukota NTT, pada Kamis (20/3).
Dalam kunjungan ini, Deputi Tawas BGN menginspeksi dapur mandiri MBG di Kecamatan Oebobo, yakni dapur Kota Kupang Oebobo.
Kunjungan ini bertujuan untuk melihat langsung aktivitas penyediaan makanan bergizi, mengevaluasi sarana dan prasarana, serta memastikan bahwa standar operasional prosedur (SOP) MBG telah diterapkan dengan baik.
Setelah kunjungan lapangan, pertemuan dengan para Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI), yayasan, dan mitra BGN digelar di Hotel Harper Kupang.
Acara ini diadakan secara hybrid, dihadiri 40 peserta secara langsung, serta lebih dari 80 peserta dari berbagai kabupaten yang mengikuti secara daring melalui Zoom.
Deputi Tawas BGN menekankan bahwa pertemuan ini sangat penting untuk menyamakan pemahaman terkait regulasi dan kebijakan MBG, sekaligus menjadi wadah bagi dapur-dapur yang telah beroperasi untuk berbagi pengalaman dan kendala yang dihadapi.
“Saat ini di NTT sudah ada 65 SPPI, terdiri dari 18 dari batch 1 dan 47 dari batch 2, dan saat ini sedang dipersiapkan batch 3. Target kami di tahun 2025 adalah mendirikan 498 dapur MBG di seluruh NTT,” ujar Deputi Tawas BGN.
Beliau juga menjelaskan bahwa BGN berdiri berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 83 Tahun 2024 tentang Badan Gizi Nasional.
Hingga saat ini, telah terbentuk 745 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) aktif dengan total 2.162.585 penerima manfaat di seluruh Indonesia.
“Target BGN tahun 2025 adalah membangun 5.000 SPPG di seluruh Indonesia yang melayani 15 – 17,5 juta penerima manfaat, dengan dukungan anggaran sebesar Rp 71 triliun. Karena itu, ada tiga kunci sukses MBG yang harus diperhatikan, yaitu anggaran, infrastruktur, dan sumber daya manusia,” jelasnya.
Beliau juga mengingatkan agar semua pihak, termasuk SPPI, yayasan, dan mitra, bersinergi untuk menyukseskan program MBG.
“SPPI sebagai kepala SPPG, yayasan, dan mitra memiliki tugas dan peran masing-masing. Jalankan tanggung jawab secara profesional, tingkatkan komunikasi dan koordinasi, agar program MBG dapat berjalan dengan sukses,” tegasnya.
Di akhir arahannya, Deputi Tawas BGN menekankan pentingnya transparansi dalam pengelolaan anggaran.
“Anggaran untuk bahan baku, sewa, dan operasional harus digunakan sesuai ketentuan. Jangan sampai ada pemotongan anggaran oleh yayasan atau mitra, karena penggunaan dana ini akan diaudit oleh Inspektorat Utama BGN, BPKP, BPK, dan KPK,” ujarnya.
Mitra BGN di Kota Kupang, Antonio PD Sarmento, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan kunjungan Deputi dan Direktur Tawas ke dapur MBG Oebobo.
“Kami sangat mendukung program MBG ini dan siap melaksanakan arahan Pak Deputi. Ini adalah bukti kecintaan kami kepada Bapak Prabowo Subianto yang telah melahirkan program MBG ini. Kami berharap masyarakat juga ikut mendukung agar program ini berjalan sukses,” ungkapnya.
Sementara itu, Rita Wadu, PIC Yayasan No Fitu Timor di SPPG Noelbaki, menilai bahwa kerja sama antara SPPI, yayasan, dan mitra menjadi faktor kunci dalam keberhasilan MBG.
“Program ini sangat penting, terutama bagi NTT yang masih menghadapi angka stunting tinggi serta menjadi provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi ketiga di Indonesia,”katanya.
“MBG juga memberikan peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Terima kasih kepada Bapak Prabowo atas program luar biasa ini,” tambahnya. ***
