Surabaya,Mwartapedia.com – Artikel dari Sisilia Margaretha seorang Mahasiswi Alih Jenis Angkatan B22, Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya.
Pengantar
Pertanyaan ”berubahkah hidup saya pada situasi masa covid 19 ini?” adalah sebuah pertanyaan reflektif yang mengajak kita untuk sejenak merenungkan kehidupan disekitar kita pada masa pandemi. Masa pandemi covid 19 adalah “konteks” dimana kita hidup untuk menghadapi dan mengalaminya. Apabila isu covid 19 tampaknya terus-menerus menjadi salah satu isu utama dunia, maka kehidupan dan aktivitas kita pun terganggu, terusik dan berubah. Kita tidak pernah membayangkan sebelumnya akan terjadi wabah yang berdampak pada setiap sisi kehidupan kita. Interaksi sosial sebagian besar dilakukan secara virtual. Pandemi ini telah memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru yang melompati apa yang biasanya kita lakukan. Covid-19 berhasil mengubah kebiasaan yang kita lakukan sehari-hari baik di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di jalan, dan dimanapun. Kita dibuatnya seakan tak berdaya, karena gerak langkah kita dibatasi dengan adanya Covid-19, sehingga membuat kita tidak produktif yang berdampak pada masalah hidup keluarga, masyarakat, daerah dan negara.
Tulisan di bawah ini disajikan untuk mengajak kita semua merenung dan merefleksikan sejenak keadaan serta status hidup kita. Semoga tulisan ini dapat menjadi “cambuk” yang semakin menyadarkan kita akan penyebaran virus corona yang sudah dan sedang terjadi. Hingga kini, masih banyak ketidakpastian tentang kapan berakhirnya pandemi Covid-19, ada yang mengatakan secara alamiah virus akan terurai walaupun memerlukan waktu relatif lama. Bahwa Covid-19 ini akan tetap ada sepanjang masa.
Dengan demikian kesehatan dan imunitas kita harus dijaga, serta mau tidak mau kita dipaksa untuk beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang bisa jadi merupakan norma baru dalam kehidupan kita. Pertama-tama kita akan mencoba menjawab pertanyaan paling mendasar yaitu mengapa hidup kita perlu berubah pada masa covid 19? Kita juga akan melihat sejauh mana cakupan masalah covid 19, adaptasi dan pola hidup baru pada masa covid dalam konteks kehidupan manusia dan interaksinya dengan ligkungan hidup. Pada bagian terakhir kita akan melihat gumpalan refleksi bahwa kita sendiri memiliki tanggugjawab dan kewajiban untuk memelihara dan merawat diri dan hidup.
Mengapa Hidup Kita Harus Berubah Pada Masa Covid 19?
Covid 19 merupakan salah satu jenis penyakit yang muncul bukanlah suatu hal yang asing lagi ditelinga kita. Dengan mudah dan sistematis kita dapat mengetahui apa saja akibat dan pengaruh dari munculnya penyakit ini. Bahwa pada akhir tahun 2019, muncul sebuah virus yang dengan cepat mewabah ke seluruh dunia. Virus korona, yang kemudian dikenal dengan nama Coronavirus disease 2019 (COVID- 19), tersebut diberitakan telah merenggut nyawa ribuan orang. Karena itu pada masa pandemi masyarakat Indonesia diharuskan hidup dengan tatanan hidup baru, yang dapat ‘berdamai’ dengan Covid-19. Adapun yang dimaksud dengan New Normal adalah suatu tindakan atau perilaku yang dilakukan oleh masyarakat dan semua institusi yang ada di wilayah tersebut untuk melakukan pola harian atau pola kerja atau pola hidup baru yang berbeda dengan sebelumnya. Bila hal ini tidak dilakukan, akan terjadi risiko penularan Tujuan dari New Normal adalah agar masyarakat tetap produktif dan aman dari Covid-19 di masa pandemi. Selanjutnya agar New Normal lebih mudah diinternalisasikan oleh masyarakat maka “New Normal” dinarasikan menjadi “Adaptasi Kebiasaan Baru”.
Adaptasi Kebiasaan Baru
Adaptasi kebiasaan baru membuka ruang bagi manusia tentang apa yang perlu segara dilakukan dan apa yang sangat didambakan tetapi tidak mendesak. Manusia harus mengakui dia adalah makhluk adaptif. Manusia harus membangun alternatif untuk mampu menyesuaikan diri dan bergantung sama lain. Bahwa semua bentuk kehidupan mempunyai keunikan sendiri-sendiri, termasuk manusia itu justru memperkayaa dan bukan dimaksudkan yang satu lebih tinggi dan bernilai sehingga mendominasi yang lain.
Misalnya saja, yang dikemukakan Callista Roy (seorang Biarawati Amerika, seorang perawat, guru, dan ahli dalam teori agama, ahli teori keperawatan, seorang profesor dan penulis). Memang tindakan manusia ditentukan niat, nilai, ide, norma-norma tertentu. Selain itu juga ditentukan oleh lingkungan. Ketika lingkungan berubah, tindakan juga bisa berubah. Artinya, manusia beradaptasi. Pendeknya, manusia dimampukan untuk beradaptasi seperti yang dikatakan Roy. Dalam teorinya tentang adaptasi, Roy menganggap, penyesuaian diri terhadap lingkungan diperlukan agar organisme bertahan hidup. Artinya, jika tidak ada adaptasi, itu justru akan membahayakan kehidupan. Sebaliknya dengan adaptasi terutama adaptasi Kebiasaan Baru, maka kita bisa bekerja, belajar dan beraktivitas dengan produktif di era Pandemi Covid-19.
Virus ini telah mendorong kita untuk lebih peduli dengan kebersihan dan memaksa kita untuk mematuhi protokol kesehatan demi mencegah penyebarannya. Hal ini menunjukkan bahwa virus covid 19 telah mengubah cara hidup kita. Hidup baru dalam pandangan Callista Roy dapat diwujudkan dengan adanya kesatuan yang harmonis antara manusia dan alam lingkungan, manusia dengan manusia lainnya dan manusia dengan Sang Pencipta. Dengan menerapkan tatanan kehidupan baru diharapkan kita dapat mencapai kesejahteraan jasmani, rohani, sosial, spiritual dan menjaga serta memelihara kesehatan.
Hidup Baru Sebagai Suatu Realitas dan Reaksi
Realitas kehidupan sosial kita begitu terganggu dengan pandemi Covid-19. Dari keadaan kehidupan yang normal, tiba-tiba dikejutkan dengan penyebaran Covid-19 beserta resiko dan pembatasan dalam upaya pencegahannya, mengakibatkan kita mengalami kekacauan, ketidakpastian dan ketakutan. Rumah sakit sebagai tempat pengobatan penyakit dikhawatirkan menjadi sumber penyakit. Ada batasan sosial, batasan jarak, perubahan penggunaan atribut tertentu dalam berinteraksi dengan orang lain. Kebiasaan dalam kehidupan normal dibatasi, seperti bersentuhan, berjabat tangan, dan berpelukan untuk mencegah penyebaran Covid-19.
Demikian halnya dengan interaksi sosial yang sangat khas dengan keramahtamahan tidak lagi terlihat karena tertutup oleh masker wajah. Facial expression atau gerak wajah yang menarik tidak lagi tampak. Ekspresi wajah melalui sorot mata dan gerak bibir yang disebut ramah atau sombong tidak lagi begitu dominan. Proksemika (semiotika ruang) atau jarak fisik yang berkisar 60 hingga 75 cm, sudah semakin jauh dengan minimal 1,5 meter. Jarak spasial yang digunakan manusia ketika berkomunikasi dengan orang lain tergantung pada transaksi, hubungan individu yang berinteraksi, serta bagaimana perasaan mereka dan apa yang akan mereka lakukan. Ternyata, dalam situasi pandemi, jarak tidak hanya berpengaruh luas terhadap segala aspek kehidupan, dimana luas ruang menjadi lebih terbatas karena carrying capacity dibatasi. Menjaga kebersihan area dan personal menjadi sangat penting bahkan yang terpenting saat ini. Peraturan mencuci tangan, menggunakan masker dan menjaga jarak menjadi sangat penting untuk dilaksanakan.
Reaksi yang mungkin terjadi pada orang yang mengalami tatanan hidup baru adalah sebagai berikut: pertama, Antagonis atau memusuhi lingkungan baru. Hampir semua orang sulit menerima situasi tidak menyenangkan yang memutus hubungan kekerabatan, persaudaraan, persahabatan, dan hubungan kerja. Putusnya relasi sosial menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan terhadap keadaan tersebut, khususnya bagi masyarakat Indonesia yang merupakan masyarakat kolektif, yaitu relasi sosial yang tinggi antar anggota masyarakat sesuai dengan sistem tradisi dan identitas bersama. Orang Indonesia pada umumnya suka berkumpul. Budaya kolektif ini runtuh karena adanya pembatasan dalam pola hidup baru, manusia merasa ada bagian dari dunianya yang hilang. Kedua, Rasa kehilangan arah. Dengan dirumahkannya manusia, mereka merasakan kehilangan arah karena rutinitas kerjanya sudah terputus yang menyebabkan ketidakpastian hari demi hari. Ketiga, Rasa penolakan. Munculnya kekecewaan, penentangan terhadap situasi ini merupakan gambaran penolakan terhadap situasi yang terjadi. kita yang aktif atau tidak aktif tentunya merasa penolakan dengan keadaan ini namun ini merupakan kenyataan yang terjadi dan harus dihadapi.
Keempat, Merindukan teman dan kerabat. Kerinduan kita untuk bertemu, berinteraksi, dan beraktivitas bersama merupakan cerminan bahwa kita adalah makhluk sosial yang sangat membutuhkan orang lain. Kelima, Merasa kehilangan status. Dalam kondisi khusus ada yang merasa telah kehilangan statusnya, karena budaya sebelumnya telah berubah, misalnya protokol kesehatan baru, penampilan baru, jarak sosial baru, sehingga merasa kehilangan atau mengalami perubahan identitas atau status. Keempat, Penarikan diri. Orang yang mengalami hidup juga mungkin mengalami penarikan diri dari lingkungan baru mereka, merasa tidak cocok atau tidak memadai yang disebut penarikan diri.
Penutup
Covid 19 yang sedang merubah tatanan di kehidupan, suka atau tidak suka, kondisi ini menuntut individu melakukan penyesuaian untuk bisa bertahan hidup (survival). Adapun tahapan adaptasi kita dalam perubahan adalah sebagai berikut: pertama, Honeymoon period atau initial euphoria stage, merupakan masa awal memasuki lingkungan baru dimana seseorang memasuki masa bahagia dan mengagumi lingkungan barunya. Namun dalam hal ini tahapan ini merupakan masa euforia dalam keadaan normal, nyaman dan stabil dimana kehidupan kita dalam kondisi stabil, usaha berjalan normal, individu dalam komunitas bekerja dalam situasi normal. Kedua, Crisis period atau frustation stage adalah munculnya perasaan yang tidak menyenangkan dalam situasi barunya sebagai akibat dari pemberitaan media massa mengenai Covid-19 yang sangat menakutkan. Ketiga, Adjustment period merupakan masa dimana kita memasuki masa sadar dimana kita mulai terbuka dan memahami bahwa kita telah memasuki lingkungan baru dan menghadapi permasalahan yang dialami dengan sikap yang positif. Situasi ini membuat kita berubah, ada semangat untuk bangkit dari situasi krisis dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Kempat, Biculturalism period/Mastery period merupakan masa adaptasi penuh yang dialami seseorang, walaupun mungkin masih terdapat ketegangan diri, namun individu dalam komunitas tertentu berusaha untuk mengendalikan perasaannya, yang lama kelamaan ketegangan tersebut akan hilang.
Episode pandemi covid 19 merupakan sejarah bagi kita yang terpilih untuk menghadapi tantangan ini. Kita tidak sendiri dan hampir seluruh dunia mengalami hal yang sama. Tidak elok apabila kita hanya menyalahkan keadaan ini. Saatnya kita beradaptasi dengan “kehidupan baru” dan kita jadikan setiap langkah kita relevan dalam merespon perubahan sehingga mampu melewati pandemi ini. “Berpikir positf dan menyesuaikan diri dengan perubahan merupakan sebuah rangsangan hidup baru”. Kutipan dari Callista Roy tersebut relevan dengan masa-masa pandemi dan semoga kita dapat melewati tantangan ini dengan beradaptasi dengan “kehidupan baru”.


