Kupang,nwartapedia.com — Kepala Bidang Layanan dan Pembinaan Perpustakaan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dollyres Chandra, S.Sos., menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk terus mendorong literasi masyarakat melalui berbagai inovasi layanan perpustakaan.
Hal ini disampaikan dalam kegiatan Bimbingan Teknis Literasi Informasi untuk Pustakawan, Guru, dan Pegiat Literasi tingkat provinsi NTT yang berlangsung di Aula Kantor Dinas Kominfo Provinsi NTT pada Kamis (10/7).
Dalam kesempatan itu, Dollyres juga menjelaskan tentang program Duta Baca yang pernah diadakan terakhir kali pada tahun 2021.
Menurutnya, usia ideal untuk Duta Baca adalah 18–35 tahun, dengan syarat utama memiliki hobi membaca, kemampuan komunikasi yang baik, kreativitas, prestasi akademik, inovasi, serta kesediaan waktu untuk menjalankan berbagai kegiatan literasi.
Namun, keterbatasan anggaran dan efisiensi belanja membuat pemilihan Duta Baca baru belum dapat dilaksanakan lagi sejak saat itu.
“Karena kita sudah tidak ada lagi Duta Baca, maka kami turun langsung ke sekolah-sekolah untuk sosialisasi gemar membaca dan layanan perpustakaan. Tujuannya untuk meningkatkan minat baca masyarakat,” ujar Dollyres.
Ia menyampaikan bahwa berdasarkan kajian Perpustakaan Nasional RI, tingkat kegemaran membaca masyarakat NTT cukup tinggi, dengan skor 70,34 pada tahun 2024. Bahkan, pada 2022 NTT menduduki peringkat ke-8 secara nasional.
Namun, tantangan tetap ada, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi yang menggeser peran tradisional perpustakaan.
Untuk menjawab tantangan itu, pihaknya telah meluncurkan berbagai inovasi layanan, seperti:
– Layanan pinjam buku antar ke rumah atau sekolah secara gratis, yang bisa dipesan melalui grup WhatsApp.
– Pendaftaran anggota online untuk mempermudah akses layanan.
– Layanan bantuan teknis untuk mahasiswa, misalnya memperbaiki laptop atau komputer rusak.
– Ruang belajar online dan ujian daring, lengkap dengan fasilitas internet.
– Bimbingan belajar membaca dan menulis bagi anak-anak yang masih kesulitan membaca.
– Kerja sama dengan toko-toko untuk menghadirkan fasilitas tambahan, seperti internet gratis.
“Perpustakaan bukan lagi sekadar tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi menjadi pusat kegiatan masyarakat dan ruang belajar bersama. Orang tua yang mengantar anak, guru, mahasiswa, bahkan masyarakat umum bisa memanfaatkan fasilitas yang kami sediakan,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa kini jumlah pengunjung perpustakaan per hari sudah mencapai lebih dari 100 orang, terutama saat sekolah dan kuliah aktif.
“Ketika kegiatan belajar mengajar berjalan, itulah waktu paling ramai bagi kami,” katanya.
Melalui semua inovasi tersebut, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTT ingin mematahkan anggapan bahwa perpustakaan hanyalah tempat yang sepi dan membosankan.
“Kami berusaha membuat perpustakaan menjadi lebih ramah, cepat melayani, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini,” tutup Dollyres.
Kegiatan Bimtek ini sendiri diharapkan dapat memperkuat kemampuan pustakawan, guru, dan pegiat literasi dalam mengelola serta menyebarluaskan informasi kepada masyarakat luas. (MI)

