Kupang,nwartapedia.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah pusat kini mulai berjalan di Kota Kupang. Di Kecamatan Kota Lama, sasaran program ini mencakup peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA/sederajat.
Program ini bertujuan meningkatkan asupan gizi anak dan mencegah kasus stunting di kalangan pelajar.
Salah satu sekolah yang telah menerima manfaat dari program MBG adalah SMA Katolik Geovani Kupang.
Antusiasme peserta didik terlihat jelas. Banyak dari mereka merasa senang karena selain mendapat makanan sehat, mereka juga bisa menghemat uang jajan harian.
Kepala SMA Katolik Geovani Kupang, Rm. Drs. Stefanus Mau, Pr., menyampaikan bahwa hari ini sekolah kembali menerima menu makanan dari Badan Gizi Nasional.
Dalam pelaksanaannya, sekolah bertugas menyiapkan tempat, mengatur jalannya distribusi makanan, dan memastikan siswa mematuhi aturan.
Termasuk di dalamnya, menyiapkan menu khusus bagi siswa yang memiliki alergi makanan tertentu.
“Makanan yang disajikan sudah sesuai dengan takaran gizi yang ditentukan. Siswa juga diharapkan menghabiskan makanan yang diberikan, karena meskipun menunya sederhana dan berbeda dari yang biasa mereka makan di rumah atau restoran, semua sudah memenuhi standar gizi yang ketat,” jelas Rm. Stefanus.
Ia juga menambahkan bahwa program ini tidak hanya fokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga mengenalkan berbagai jenis makanan dan buah-buahan kepada para peserta didik.
Bila terdapat keluhan terkait makanan, pihak sekolah siap menerima laporan dari siswa untuk diteruskan ke penyedia makanan.
“Dari tahap pertama ini, respons siswa sangat positif. Bahkan ada yang bilang porsinya kurang karena rasanya enak dan mereka menghabiskan semuanya,” tambahnya.
Jumlah siswa penerima manfaat MBG di SMA Katolik Geovani Kupang tahap pertama ini mencapai 690 siswa kelas 10 dan 11.
Ucapan terima kasih juga disampaikan pihak sekolah kepada pemerintah, khususnya kepada Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto, Wakil Presiden, dan Badan Gizi Nasional atas perhatian dan komitmennya dalam meningkatkan kesehatan gizi anak-anak Indonesia melalui program ini.
Sementara itu, Guru Pendamping MBG, Marini Faujizen Djelil, S.Pd., menjelaskan bahwa proses distribusi makanan di sekolah berjalan dengan rapi dan bersih.
Setiap piring yang telah digunakan diperiksa dan dicuci sebelum digunakan kembali. Menu pada tahap pertama mencakup ayam, tempe, dan sayur—yang mendapatkan sambutan hangat dari para siswa.
Program MBG ini diharapkan dapat terus berlanjut dan menjadi salah satu upaya nyata dalam mencetak generasi muda yang sehat, cerdas, dan bebas dari stunting. (MI)

