Kupang,nwartapedia.com – Di tengah hembusan angin dan keheningan alam Fulanfehan, langkah-langkah penuh makna dari para anggota Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Paroki St. Fransiskus Assisi BTN Kolhua menapaki tanah ziarah dengan hati yang menyala oleh cinta.
Ziarah ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi sebuah pulang ke dalam batin yang terdalam, tempat Tuhan hadir dalam sunyi dan kasih menemukan bentuknya yang paling murni: pelayanan dalam keheningan.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa anggota WKRI bukan hanya hadir dalam kegiatan-kegiatan liturgis gereja, tetapi juga menjelma sebagai cahaya kecil di banyak ruang kehidupan umat.
Mereka hadir dalam dapur pelayanan, ruang-ruang diskusi komunitas, rumah-rumah sakit, hingga lorong-lorong yang jarang tersentuh, menjadi pelita yang tak padam meski dalam gelap.
“Ziarah ini menjadi momentum kontemplasi yang menghidupkan kembali semangat kami untuk terus melayani, bahkan ketika dunia tidak melihat,” ujar salah satu peserta dengan mata yang berkaca-kaca.
Di bukit sunyi dan langit yang luas, para peziarah mendengarkan ulang bisikan kasih dari Sang Pencipta, menyadari kembali bahwa tugas pelayanan bukanlah beban, melainkan rahmat yang dipercayakan kepada hati-hati yang terbuka.
Mereka merenungkan kata-kata Santo Fransiskus dari Assisi, pelindung paroki mereka:
“Mulailah dengan melakukan apa yang perlu, lalu apa yang mungkin; dan kelak engkau akan melakukan yang tidak mungkin.” Kalimat itu menjadi napas bagi langkah mereka yang tak hanya berjalan di bumi, tetapi juga menapak di dalam jiwa, menuju kedalaman iman dan cinta.
Romo Kondradus dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas semangat WKRI yang terus konsisten menjadi garda terdepan dalam pelayanan sosial dan rohani.
“Terima kasih atas pengorbanan dan catatan indah yang ditorehkan bagi WKRI Paroki kita. Pergi dengan sukacita dan pulang dengan tetap membawa sukacita,” ungkapnya.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Ibu Ketua WKRI DPC Assisi, Ketua Panitia, serta seluruh sahabat hati dan tim yang telah menjalin kebersamaan dalam perjalanan rohani ini.
“Semoga sukacita yang kami alami dalam ziarah ini juga mengalir dalam tugas pelayanan kami di tengah keluarga dan masyarakat,” tambah salah satu pengurus.
Ziarah iman ini menegaskan bahwa pelayanan sejati tidak selalu diukur dari besar kecilnya peran, tetapi dari kesetiaan dalam melayani dengan cinta. WKRI Paroki BTN Kolhua telah menorehkan kisah indah.
Kisah tentang kasih yang bekerja dalam diam, tentang tangan seorang ibu yang tak lelah membasuh luka dunia dengan ketulusan. (RD Dus)

