Kupang, nwartapedia.com – Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT), Charlie Paulus, menegaskan bahwa pihaknya terus memperkuat sistem pengawasan transaksi elektronik selama 24 jam untuk mengantisipasi ancaman kejahatan siber yang semakin menjadi perhatian di sektor perbankan.
Charlie mengatakan, kejahatan siber merupakan salah satu tantangan serius yang dihadapi industri perbankan.
Karena itu, Bank NTT terus meningkatkan kesiapan sistem pengawasan agar potensi transaksi mencurigakan dapat terdeteksi sedini mungkin.
Ia mengungkapkan, hingga saat ini Bank NTT belum mengalami kejadian kejahatan siber seperti yang pernah dialami sejumlah bank lain. Meski demikian, pihaknya tidak ingin lengah dan tetap mengambil langkah pencegahan dengan memperkuat pemantauan transaksi elektronik.
“Bank NTT bersyukur karena sampai saat ini belum pernah mengalami hal tersebut. Namun, kami belajar dari pengalaman bank-bank lain dan sudah memperkuat sistem pengawasan,” ujar Charlie kepada awak media usai pelantikan Komisaris Independen Senin (26/10/2026).
Menurutnya, Bank NTT telah menyiapkan petugas khusus yang melakukan pemantauan transaksi elektronik selama 24 jam.
Langkah ini bertujuan untuk mengidentifikasi aktivitas yang tidak biasa, termasuk transaksi dengan pola berulang atau nominal besar yang berpotensi menimbulkan risiko.
Charlie menjelaskan bahwa apabila ditemukan transaksi yang menunjukkan indikasi kejanggalan, aktivitas tersebut dapat dipantau lebih lanjut sehingga langkah penanganan dapat dilakukan sesuai prosedur yang berlaku.
Ia menilai penguatan pengawasan menjadi penting karena pelaku kejahatan siber terus mengembangkan berbagai cara untuk melakukan aksinya.
Oleh sebab itu, pihak perbankan juga harus terus meningkatkan kemampuan, teknologi, dan sistem pengamanan.
“Ini seperti perlombaan antara pelaku pencurian yang terus mengembangkan cara untuk mencuri dan pihak bank yang terus meningkatkan kemampuan untuk mengawasi serta melindungi sistemnya,” jelasnya.
Charlie berharap upaya pencegahan yang dilakukan dapat menjaga keamanan transaksi serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan Bank NTT.
Selain menyoroti keamanan transaksi elektronik, Charlie juga menyinggung pentingnya kelengkapan struktur organisasi dan sumber daya manusia dalam penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG).
Menurutnya, struktur organisasi, ketersediaan personel, dan pelaksanaan fungsi pengawasan merupakan bagian penting dalam mendukung tata kelola perusahaan yang profesional.
Ia menjelaskan bahwa penguatan struktur organisasi perlu berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pengawasan dan koordinasi, sehingga seluruh aktivitas perusahaan dapat dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam konteks tersebut, Bank NTT juga perlu menjaga hubungan komunikasi dan kerja sama dengan pemerintah daerah sebagai salah satu unsur penting dalam kegiatan bisnis perusahaan.
Charlie menegaskan bahwa hubungan Bank NTT dengan pemerintah daerah, baik pemerintah provinsi maupun kabupaten dan kota, merupakan bagian penting dari keberlangsungan bisnis bank pembangunan daerah tersebut.
Menurutnya, Bank NTT tidak dapat dipisahkan dari hubungan bisnis dan koordinasi dengan pemerintah daerah sebagai pemegang saham sekaligus mitra strategis dalam pembangunan daerah.
Karena itu, komunikasi dan hubungan kerja sama yang baik perlu terus dipelihara untuk mendukung pelaksanaan kegiatan usaha serta menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan.
Ia berharap penguatan sistem pengawasan, peningkatan tata kelola perusahaan, dan hubungan yang baik dengan pemerintah daerah dapat berjalan beriringan untuk mendukung perkembangan Bank NTT.
Melalui berbagai langkah tersebut, Bank NTT berupaya menjaga keamanan transaksi, meningkatkan kualitas pengelolaan perusahaan, serta memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan di Nusa Tenggara Timur. (MI)


