Kupang, nwartapedia.com — Sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata dapat menjadi sumber manfaat ekonomi apabila dikelola dengan baik.
Hal tersebut disampaikan pendiri Bank Sampah Muara Abu Oesapa, Ir. Gusmawati, S.T., M.Eng., saat berbagi pengalaman kepada masyarakat di Kelurahan Kuanino, Kota Kupang.
Gusmawati menjadi pemateri dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang digelar melalui kerja sama Program Studi Arsitektur Fakultas Sains dan Teknik Universitas Nusa Cendana (Undana) dengan LPM Kelurahan Kuanino.
Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor Lurah Kuanino pada Sabtu (12/9/2026), dengan mengusung tema “Undana Berdampak untuk Provinsi NTT: Mewujudkan World Class-Locally Relevant University melalui Kolaborasi Menuju Pembangunan Berdampak Berkelanjutan.”
Dalam kesempatan tersebut, Gusmawati tidak hanya berbicara mengenai persoalan sampah, tetapi juga menceritakan perjalanan dan pengalaman membangun Bank Sampah Muara Abu.
Ia mengatakan, pengelolaan sampah harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga. Masyarakat perlu membiasakan diri memilah sampah sebelum dibuang sehingga sampah yang masih memiliki nilai dapat dimanfaatkan.
“Saya hadir berbagi bukan karena lebih pintar, tetapi karena memiliki pengalaman. Mudah-mudahan pengalaman ini dapat membantu bapak dan ibu dalam mengelola sampah dari rumah,” kata Gusmawati.
Menurutnya, sampah seperti botol plastik, kertas dan berbagai jenis sampah anorganik lainnya sebenarnya mempunyai nilai ekonomi. Dengan sistem bank sampah, masyarakat dapat mengumpulkan sampah, menimbang dan mencatatnya sebagai tabungan.
Konsep tersebut, kata Gusmawati, menjadi salah satu cara untuk mengubah pandangan masyarakat bahwa sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang.
“Jadi seperti tabungan. Sampah yang kita kumpulkan kemudian dinilai dengan uang,” jelasnya.
Dimulai dari Rumah
Gusmawati menceritakan, gagasan pengelolaan sampah yang dikembangkannya mulai lebih serius sejak 2023. Berbagai upaya dilakukan untuk mengolah sampah rumah tangga menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Selanjutnya, pada 2024 dibentuk Bank Sampah Muara Abu yang mulai beroperasi pada 23 November 2024.
Dalam perkembangannya, masyarakat yang menjadi nasabah membawa sampah dari rumah masing-masing. Sampah kemudian dipilah berdasarkan jenisnya, ditimbang dan dicatat dalam buku tabungan.
Menurut Gusmawati, mekanisme tersebut memberikan motivasi tersendiri kepada masyarakat karena sampah yang dikumpulkan dapat menghasilkan uang.
Ia juga mendorong agar bank sampah tidak hanya menjadi tempat menerima sampah dari nasabah, tetapi berkembang menjadi pusat edukasi dan pengolahan sampah.
Pengurus juga didorong memiliki keterampilan untuk mengolah sampah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Anak-Anak Perlu Dilibatkan
Gusmawati menilai keterlibatan anak-anak sangat penting dalam membangun kebiasaan memilah sampah sejak dini.
Menurutnya, anak-anak dapat diajarkan mengumpulkan sampah dari lingkungan rumah maupun sekolah, kemudian menyetorkannya ke bank sampah.
Cara tersebut sekaligus menjadi pembelajaran sederhana mengenai lingkungan, tanggung jawab dan pengelolaan keuangan.
Ia berharap kebiasaan tersebut dapat terus terbawa hingga anak-anak tumbuh dewasa.
Sampah Harus Dipilah dari Sumber
Dalam pemaparannya, Gusmawati juga menjelaskan pentingnya membedakan sampah organik dan anorganik.
Sampah organik seperti sisa makanan, daun dan rumput dapat dikelola kembali, sedangkan sampah anorganik seperti botol plastik, kertas dan berbagai kemasan dapat dipilah untuk dimanfaatkan atau memiliki nilai jual.
Selain memilah sampah, masyarakat juga diajak mengurangi penggunaan barang sekali pakai dan membiasakan menggunakan barang yang dapat dipakai berulang kali.
Gusmawati mengingatkan bahwa persoalan sampah bukan hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga memiliki dampak terhadap kehidupan masyarakat apabila tidak dikelola dengan baik.
Karena itu, menurut dia, gerakan pengelolaan sampah harus dilakukan bersama dan dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah.
Bank Sampah Berikan Manfaat Ekonomi
Gusmawati memaparkan, sejak Bank Sampah Muara Abu beroperasi pada 23 November 2024 hingga 5 September 2026, nilai tabungan nasabah yang terkumpul telah mencapai sekitar Rp22,7 juta. Jumlah nasabah juga telah mencapai sekitar 1.190 orang.
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah secara terorganisasi dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus membantu menjaga lingkungan.
Ia berharap pengalaman Bank Sampah Muara Abu dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Kuanino untuk membangun gerakan serupa.
Menurutnya, perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Masyarakat dapat memulainya dengan memilah sampah di rumah, mengurangi sampah sekali pakai dan memanfaatkan sampah yang masih memiliki nilai.
“Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai sekarang dan jangan menunda-nunda,” pungkas Gusmawati. (MI)


