Kupang nwartapedia.com — Pelaksanaan ujian sekolah berbasis proyek di SMA Negeri 1 Amarasi Barat resmi memasuki hari terakhir, Jumat (17/4/2026).
Kepala sekolah, Thomas Doni, S.Pd., MM, menyampaikan bahwa model ujian ini membawa dampak positif, meski diakui masih terdapat sejumlah tantangan.
Saat ditemui di ruang kerjanya, Thomas mengungkapkan bahwa salah satu kendala utama adalah kesiapan mental siswa, khususnya dalam hal keberanian berbicara di depan umum.
“Awalnya memang ada siswa yang masih minder dan takut tampil. Tapi dengan pendampingan guru pembimbing dan moderator, mereka akhirnya mampu melewati proses ini dengan baik dan percaya diri,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam ujian ini, setiap siswa diuji oleh dua penguji dan didampingi satu moderator. Selain itu, presentasi juga disaksikan oleh teman sekelas dan orang tua yang hadir langsung di dalam ruangan.
“Setiap hari ada enam siswa yang presentasi. Orang tua kami libatkan untuk duduk di belakang anaknya sebagai bentuk dukungan moral. Ini menjadi motivasi besar bagi siswa,” jelasnya.
Salah satu momen yang paling berkesan, menurut Thomas, terjadi ketika seorang siswa menangis haru karena untuk pertama kalinya orang tuanya hadir menyaksikan ujian.
“Ada siswa yang mengatakan selama tiga tahun sekolah, orang tuanya tidak pernah hadir. Tapi saat ujian ini, orang tuanya datang. Itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi siswa tersebut,” ungkapnya.
Meski demikian, ia juga mengakui masih ada kendala teknis, seperti keseragaman penulisan karya ilmiah serta keterbatasan fasilitas, di mana sebagian siswa belum memiliki perangkat seperti laptop.
Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat siswa untuk tetap mengikuti ujian hingga selesai.
“Semua siswa tetap berpartisipasi penuh. Bahkan yang sudah ujian di hari pertama tetap hadir untuk mendukung teman-temannya. Ini menunjukkan semangat kebersamaan yang luar biasa,” tambahnya.
Thomas juga menegaskan bahwa sekolah akan melakukan evaluasi melalui angket yang dibagikan kepada siswa guna menyempurnakan pelaksanaan di tahun berikutnya.
Ia berharap konsep “rumah belajar” yang selama ini diterapkan di sekolah dapat terus mempererat hubungan antara sekolah, siswa, dan orang tua.
“Kami ingin sekolah ini bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga menjadi rumah bagi siswa dan orang tua,” katanya. (MI)
