Kupang nwartapedia.com – Camat Amarasi Barat, Desy L. Tupa, S.STP melakukan kunjungan ke SMA Negeri 1 Amarasi Barat pada Jumat (17/4/2026) dan memberikan apresiasi atas pelaksanaan Ujian Sekolah Berbasis Proyek (USBP) yang dinilai inovatif dan berdampak positif bagi siswa.
Dalam kunjungannya, Desy menyampaikan penghargaan kepada kepala sekolah, dewan guru, serta orang tua siswa yang telah bekerja sama secara maksimal dalam mendukung proses pembelajaran hingga pelaksanaan ujian berbasis proyek tersebut.
“Sebagai pemerintah kecamatan, kami sangat mengapresiasi kerja keras para guru, kepala sekolah, dan orang tua murid. Ini adalah langkah maju dalam dunia pendidikan, karena siswa tidak hanya diuji secara teori, tetapi juga melalui praktik nyata yang menjadi bekal penting untuk masa depan mereka,” ujarnya.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh siswa melalui ujian berbasis proyek ini dapat menjadi fondasi kuat, baik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Camat Desy juga memberikan motivasi langsung kepada para siswa agar terus membentuk karakter yang baik.
Ia mengingatkan pentingnya kecerdasan, sikap religius, serta penghormatan kepada guru dalam menempuh pendidikan.
“Ingat, harus jadi anak yang pintar, takut akan Tuhan, dan hormat pada guru,” pesannya di hadapan para siswa.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Amarasi Barat, Thomas Doni, S.Pd., MM, menjelaskan bahwa konsep ujian berbasis proyek ini dirancang menyerupai penulisan semi-skripsi.
Program tersebut telah dipersiapkan sejak Oktober 2025, di mana para siswa mulai melakukan penelitian sederhana di desa-desa.
“Kami memberikan topik kepada siswa melalui sistem undian, kemudian mereka turun langsung ke lapangan untuk mengumpulkan data. Proses ini berlangsung dari Oktober hingga Januari,” jelasnya.
Setelah tahap pengumpulan data, siswa mulai menyusun laporan secara bertahap layaknya skripsi, dimulai dari Bab I hingga proses konsultasi dengan guru pembimbing. Seluruh rangkaian penulisan diselesaikan pada akhir Maret 2026.
“Ujian berbasis proyek ini dilaksanakan pada 13 hingga 17 April, di mana siswa mempresentasikan hasil penelitian mereka di hadapan penguji, teman sekelas, dan juga orang tua,” tambah Thomas.
Menurutnya, inovasi ini bertujuan membekali siswa dengan kemampuan menulis ilmiah dan berpikir kritis sejak dini, sehingga mereka tidak mengalami kesulitan saat menghadapi tugas akhir di perguruan tinggi.
Ia juga menekankan bahwa model pembelajaran ini telah disosialisasikan kepada orang tua siswa sejak dua tahun terakhir, termasuk saat siswa melakukan penelitian lapangan dengan membawa surat resmi dari sekolah.
“Ini bukan sekadar ujian, tetapi juga proses pembelajaran menyeluruh. Kami ingin siswa memiliki kesiapan mental, akademik, dan pengalaman sebelum melangkah ke jenjang berikutnya,” ungkapnya.
Menariknya, pelaksanaan ujian ini melibatkan dua penguji untuk setiap siswa, serta dihadiri oleh teman sekelas dan orang tua, sehingga menciptakan suasana akademik yang terbuka sekaligus mempererat hubungan antara sekolah dan keluarga.
SMAN 1 Amarasi Barat menjadi salah satu sekolah di Kabupaten Kupang yang menerapkan inovasi ujian berbasis proyek, sebagai upaya meningkatkan kualitas lulusan dan menjawab tantangan pendidikan di masa depan. (MI)
