Kupang, nwartapedia.com — Pelaksanaan ujian sekolah berbasis proyek di SMA Negeri 1 Amarasi Barat tidak hanya menjadi ajang evaluasi akademik, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi para siswa yang menjalaninya.
Sejumlah siswa berbagi pengalaman mereka setelah mengikuti ujian tersebut, yang dinilai mampu membentuk karakter sekaligus meningkatkan kepercayaan diri.
Salah satu siswa kelas XII, Isna Nepa Burini, mengaku bahwa ujian berbasis proyek menjadi momen penting dalam perjalanan pendidikannya.
Ia menilai proses yang dijalani bukan sekadar ujian, tetapi bagian dari pembelajaran yang membentuk mental dan kemampuan diri.
“Ini bukan beban, tetapi bagian dari proses pembelajaran. Saya yang dulunya pemalu, sekarang bisa lebih berani tampil dan percaya diri,” ungkap Isna kepada media ini, Jumat (17/4/2026).
Ia menjelaskan, seluruh tahapan ujian telah dipersiapkan sejak lama, mulai dari penentuan topik, penelitian lapangan, hingga penyusunan karya tulis ilmiah.
Menariknya, dalam presentasi, Isna memilih menggunakan bahasa Inggris sebagai bentuk pembuktian kemampuan diri.
“Saya ingin menunjukkan bahwa walaupun kami dari Amarasi Barat, kami juga mampu bersaing dan menggunakan bahasa Inggris dengan baik,” ujarnya.
Isna juga mengungkapkan cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan ke Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Ia pun berpesan kepada adik-adik kelas agar terus percaya diri dan tidak ragu mengembangkan potensi yang dimiliki.
“Setiap orang punya potensi. Tinggal bagaimana kita berani mengembangkan dan percaya pada diri sendiri,” tambahnya.
Hal senada disampaikan siswa lainnya, Maria Bait Tnunai, yang mengaku awalnya merasa ragu menghadapi ujian. Namun, berkat dukungan dari orang tua, guru, dan teman-teman, ia mampu melewati proses tersebut dengan baik.
“Ujian ini sangat membantu kami untuk belajar seperti menyusun skripsi dan menghadapi tantangan ke depan. Kami juga belajar menyelesaikan masalah secara mandiri,” katanya.
Maria juga menyoroti berbagai tantangan selama proses penelitian lapangan, seperti kesulitan menemukan narasumber.
Namun, dari pengalaman tersebut, ia dan teman-temannya belajar tentang kesabaran dan ketekunan.
Ia mengaku bangga dengan inovasi yang diterapkan sekolah, karena tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga membentuk karakter siswa secara menyeluruh.
“Yang paling berkesan adalah kehadiran orang tua. Itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami,” tuturnya.
Dengan berakhirnya ujian berbasis proyek ini, SMA Negeri 1 Amarasi Barat kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga menekankan proses serta pembentukan karakter siswa sebagai bekal menghadapi masa depan. (MI)
