Kupang, nwartapedia.com — SMAN 1 Amarasi Barat terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui inovasi sistem evaluasi pembelajaran. Sekolah ini kini menerapkan Ujian Sekolah berbasis proyek bagi siswa kelas XII sebagai bagian dari transformasi penilaian akhir yang lebih komprehensif.
Kebijakan tersebut dinilai menjadi langkah strategis dalam membangun kompetensi akademik sekaligus membentuk karakter peserta didik secara menyeluruh.
Kepala SMAN 1 Amarasi Barat, Thomas Doni, S.Pd., MM, mengungkapkan bahwa penerapan sistem ini telah berjalan selama dua tahun terakhir dan memberikan dampak positif terhadap proses belajar siswa.
“Selama ini kita tidak lagi menggunakan pola ujian konvensional berbasis soal. Sebagai gantinya, siswa diwajibkan menyusun karya tulis ilmiah sebagai bentuk penilaian akhir,” jelasnya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/4/2026).
Menurutnya, pendekatan ini dirancang untuk mendorong siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran, tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada proses berpikir dan pemahaman.
“Melalui metode ini, siswa dilatih untuk berpikir kritis, menganalisis persoalan, serta meningkatkan kemampuan literasi melalui penelitian sederhana yang kontekstual dengan kehidupan mereka,” ujarnya.
Sebanyak 136 siswa kelas XII terlibat dalam program ini dan dibagi dalam kelompok bimbingan kecil. Setiap guru membimbing antara tiga hingga enam siswa guna memastikan proses penelitian dan penulisan berjalan efektif.
Proses penyusunan karya tulis dimulai sejak Oktober 2025 dan rampung pada akhir Maret 2026. Setiap siswa diwajibkan menyerahkan karya tulis dalam tiga rangkap sebagai bagian dari kelengkapan ujian.
Tahapan selanjutnya adalah presentasi karya ilmiah yang dijadwalkan berlangsung pada 13 hingga 18 April 2026. Sistem ini mengadopsi pola sidang ilmiah, di mana siswa memaparkan serta mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya di hadapan tim penguji.
“Dari presentasi itu, kami dapat menilai sejauh mana pemahaman siswa terhadap karya yang mereka susun, sekaligus mengukur kesiapan mental mereka dalam menyampaikan gagasan,” terang Thomas.
Nilai dari presentasi tersebut kemudian akan diintegrasikan dengan hasil ujian teori yang telah dilaksanakan sebelumnya, sehingga menghasilkan penilaian akhir yang lebih komprehensif dan terukur.
Dalam pelaksanaannya, sekolah turut melibatkan empat pengawas dari Dinas Pendidikan Provinsi NTT sebagai penguji eksternal, sementara 22 guru internal berperan sebagai pembimbing. Secara keseluruhan, sekolah ini didukung oleh 35 tenaga pendidik dan lima tenaga kependidikan.
Thomas menegaskan bahwa penelitian yang dilakukan siswa dirancang sederhana dan berbasis lingkungan sekitar, sehingga tidak membebani siswa secara finansial.
“Kami arahkan agar topik penelitian tetap dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa, sehingga tidak membutuhkan biaya besar. Umumnya hanya untuk pengetikan dan pencetakan karya tulis,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa sistem ini tidak hanya berorientasi pada nilai akhir, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesiapan siswa menghadapi jenjang pendidikan berikutnya.
“Kami ingin memastikan siswa siap secara akademik maupun mental. Pengalaman ini diharapkan menjadi bekal penting saat mereka melanjutkan ke perguruan tinggi,” tambahnya.
Di sisi lain, sekolah juga mengakui masih terdapat sejumlah kendala, terutama terkait keterbatasan sarana pendukung seperti komputer dan akses layanan percetakan, mengingat lokasi sekolah yang relatif jauh dari pusat kota.
Sebagai solusi, pihak sekolah menyediakan fasilitas laboratorium komputer yang dapat dimanfaatkan siswa secara bergantian di luar jam pembelajaran.
Ke depan, evaluasi rutin akan terus dilakukan guna menyempurnakan pelaksanaan ujian berbasis proyek ini.
“Ini merupakan upaya berkelanjutan kami dalam meningkatkan mutu pendidikan. Kami akan terus melakukan pembenahan agar sistem ini semakin efektif dan memberikan manfaat nyata bagi siswa,” tutup Thomas Doni. (MI)
