Kupang,nwartapedia.com – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, menegaskan pentingnya persatuan dan kesatuan sebagai fondasi utama pembangunan daerah.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Deklarasi Damai yang digelar Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) NTT bersama 38 paguyuban etnis di halaman Kantor Gubernur NTT, Rabu (3/9/2025).
“Atas nama Pemerintah Provinsi NTT, saya menyampaikan apresiasi atas deklarasi ini. Walaupun kita berbeda etnis, suku, dan agama, kita memiliki tujuan yang sama membangun NTT yang maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berkelanjutan. Tanpa suasana yang aman dan damai, pembangunan tidak akan berjalan,” ungkap Johni Asadoma.
Wagub juga menilai keberadaan FPK sebagai wadah yang sangat strategis untuk memperkuat kebersamaan.
Dengan bergabungnya 38 paguyuban etnis, forum ini diharapkan mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat, mulai dari keamanan, pendidikan, hingga kemiskinan.
“Deklarasi ini menjadi momentum penting untuk terus melakukan kegiatan positif dan produktif demi kemajuan daerah. Kekompakan ini adalah modal besar bagi pembangunan NTT,” tambahnya.
Ketua FPK NTT, Ir. Theodorus Widodo, yang akrab disapa Theo Widodo dalam keterangannya menyebutkan bahwa deklarasi damai dilakukan sebagai respons atas dinamika situasi nasional belakangan ini.
“Setelah melalui diskusi bersama, kami di FPK NTT bersepakat menggelar deklarasi damai bersama 38 etnis. Kami menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat untuk menjaga suasana aman dan damai, baik di Indonesia maupun di NTT,” jelas Theo Widodo.
Deklarasi yang dibacakan Ketua FPK menekankan lima komitmen utama yakni menghargai aspirasi dengan tujuan mulia, menyampaikan aspirasi secara santun, menjaga harmoni, menolak tindakan anarkis, serta memperkokoh persatuan demi kelanjutan pembangunan bangsa.
Acara ditutup dengan doa bersama lintas agama dan penampilan puisi dari perwakilan paguyuban etnis.
Doa pembukaan dipimpin Kiai Pono dari etnis Jawa, doa penutup oleh Pendeta Thomas Eli Marsudi, serta puisi dibawakan oleh Nunu Nurdiana dari etnis Sulawesi Selatan. (MI)


