Kupang,nwartapedia.com — Pagi itu, matahari baru saja naik, menyinari jalanan Bello Kota Kupang yang masih lengang. Sekitar pukul 09.00 WITA, saya bersama seorang tante menyalakan sepeda motor tua, meluncur pelan menuju Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Naimata.
Di tangan tante, sebuah termos berisi air panas dan bekal makan siang sederhana: tanda kasih sayang yang tulus untuk salah satu ponakan kami, pasien ODGJ yang baru sehari menjalani perawatan.
Perjalanan tak sampai 20 menit. Begitu memasuki gerbang RSJ, suasana senyap menyambut. Gedung-gedung kokoh berdiri, namun halaman terasa lengang.
Beberapa pasien tampak berjalan pelan, sebagian duduk termenung di bangku taman. Ada rasa asing sekaligus hening yang menyelimuti.
Setelah melapor di resepsionis, kami diarahkan ke Unit Gawat Darurat (UGD). Di ruang berukuran sekitar lima kali lima meter itu, ponakan kami terbaring ditemani ibunya.
Hanya ada tiga ranjang besi dua beralas kasur tipis, satu lainnya kosong tanpa alas. Cahaya matahari menembus lewat enam jendela besar berterali besi, menghadirkan terang sekaligus bayangan keheningan.
Seorang satpam berbadan tegap mengantar kami masuk, lalu pintu besi dikunci kembali dari luar. Dari balik gembok itu,
ruang semakin terasa asing. Ada kamar mandi kecil tanpa pintu di pojok, menambah rasa sempit sekaligus kaku.
Kami hanya bisa duduk, hadir dalam diam. Ponakan kami lebih banyak tertidur. Sesekali ia terbangun sebentar, cukup untuk meneguk teh hangat yang disodorkan perawat, lalu kembali terlelap.
Hampir satu jam kami menunggu tanpa banyak kata, tanpa banyak interaksi. Di ruang sunyi itu, waktu seolah berjalan lambat.
Ketika pamit, satpam kembali membuka pintu besi. Kami melangkah keluar, meninggalkan ruang hening dengan hati yang berat. Ada kesadaran sederhana yang kami bawa pulang: menjenguk pasien ODGJ bukan sekadar membawakan bekal, tetapi menghadirkan dukungan meski lewat kehadiran yang diam, meski tanpa kata-kata.
(goe)
