Kupang,nwartapedia.com — Upaya menekan angka stunting di Kabupaten Kupang kini mendapat perhatian khusus. Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Kemenkes Kupang mengadakan program Pemberdayaan Kader Kesehatan Posyandu dan Ibu Balita Stunting di Desa Oeltua, Kecamatan Taebenu, dengan fokus pada pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut balita serta pemberian makanan tambahan (PMT) bergizi.
Desa Oeltua dipilih bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang, prevalensi stunting di desa ini masih tinggi, yakni 37% pada tahun 2020—jauh di atas rata-rata nasional.
Kondisi sosial ekonomi, keterbatasan akses layanan kesehatan, serta pola asuh yang belum optimal menjadi faktor utama tingginya kasus stunting di wilayah ini.
Stunting selama ini identik dengan kurang gizi, padahal ada kaitan erat dengan kesehatan gigi dan mulut.
Balita stunting lebih rentan mengalami karies, penyakit gusi, hingga infeksi mulut yang dapat memperburuk kondisi kesehatan mereka.
“Mulut adalah pintu gerbang masuknya makanan ke dalam tubuh. Di dalam mulut makanan mengalami proses pencernaan mekanik oleh gigi. Gigi dan mulut harus dijaga kebersihannya karena berbagai kuman dapat masuk ke dalam tubuh melalui organ ini. Jika kesehatan gigi terganggu, otomatis penyerapan gizi anak juga ikut terhambat,” jelas Agusthinus Wali, Dosen Poltekkes Kemenkes Kupang yang memimpin program ini.
Agusthinus mengatakan, program ini melibatkan para kader posyandu sebagai ujung tombak kesehatan desa dan ibu dari balita sebagai penggerak pendidikan kesehatan kepada anak.
“Mereka dibekali pelatihan mengenai cara merawat kesehatan gigi balita, cara menyikat gigi yang benar sebagai upaya pencegahan karies, serta pentingnya PMT bergizi seimbang,”ungkapnya.
Tak hanya itu, lanjut Agusthinus, para ibu balita juga mendapatkan edukasi langsung dengan metode sederhana, menggunakan leaflet dan poster, agar lebih mudah dipahami dan dipraktikkan sehari-hari bagi anaknya di rumah.
“Selain penyuluhan, kader posyandu melakukan pendampingan langsung ke rumah-rumah balita stunting. Program ini juga disertai monitoring dan evaluasi untuk mengukur keberhasilan sekaligus merancang tindak lanjut kegiatan,”tambahnya.
Sementara itu, Melkisedek O. Nubatonis, anggota tim pelaksana, menegaskan bahwa keterlibatan aktif masyarakat sangat penting dalam keberhasilan program.
“Kami ingin menciptakan kemandirian. Dengan kader kesehatan dan ibu balita yang paham tentang pentingnya pemeliharaan kesehatan gigi balita, maka status kesehatan balita bisa terjaga dan di tingkatkan, sehingga angka stunting perlahan ditekan,” ujarnya.
Program pemberdayaan di Desa Oeltua ini diharapkan menjadi model percontohan yang dapat direplikasi di desa-desa lain di Kabupaten Kupang dan Nusa Tenggara Timur, Provinsi yang masih mencatat prevalensi stunting cukup tinggi di Indonesia.
Tim Dosen Jurusan Kesehatan Gigi, Poltekkes Kemenkes Kupang yang tergabung dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini yakni :
Ketua: Agusthinus Wali1
Anggota: Melkisedek O. Nubatonis2 dan Mery Novaria Pay3,
Email : agusthinuswali@gmail.com ***


