Kefamanan,nwartapedia.com – Kepala Desa Napan, Wendelinus Kefi, dengan tegas membantah tuduhan bahwa dirinya terlibat dalam kasus pengeroyokan yang terjadi pada 12 Februari 2025 di Desa Napan, Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).
Ia menyebut tuduhan tersebut sebagai fitnah yang mencemarkan nama baiknya dan bertekad untuk menempuh jalur hukum.
“Saya tidak terlibat dalam pengeroyokan. Bahkan saya sendiri sempat dicekik oleh staf Karo Umum Kantor Desa Napan, Yoseph Restu Siki (Yoris). Meski demikian, saya tetap berusaha menenangkan situasi dan mendamaikan Yoris dengan Roni Siki. Ini murni fitnah yang harus diluruskan,” tegas Wendelinus kepada media ini pada Sabtu (15/02/2025).
Sebagai langkah hukum, Wendelinus telah membuat laporan balik terkait penganiayaan yang dialaminya dan menegaskan bahwa kasus ini akan diusut hingga tuntas.
“Saya pastikan akan mengambil langkah hukum dengan pendamping saya. Saya juga meminta pihak kepolisian bekerja sama untuk menyelesaikan masalah ini dengan adil dan transparan,” tambahnya.
Kronologi Kejadian: Dari Musyawarah Desa hingga Keributan
Menurut Wendelinus, insiden ini bermula pada 12 Februari 2025 sekitar pukul 19.00 WITA, setelah berlangsungnya Musyawarah Desa (Musdes). Setelah pertemuan, seluruh peserta makan bersama dalam suasana yang akrab, diiringi nyanyian dan cerita santai. Dalam kesempatan tersebut, Yoris menuangkan minuman sopi kepada peserta yang hadir.
Namun, dalam keadaan mabuk, Yoris tiba-tiba mengkritik Wendelinus secara terbuka.
Ia menuduh Wendelinus tidak melibatkan staf desa dalam pengambilan keputusan serta hanya membuat kebijakan yang menguntungkan tim suksesnya.
Mendengar hal tersebut, Wendelinus membantah dan menjelaskan bahwa semua kebijakan desa dibuat untuk kepentingan seluruh masyarakat, bukan kelompok tertentu. Namun, Yoris tetap bersikeras dan mulai berbicara dengan nada tinggi hingga akhirnya terjadi ketegangan.
“Saya berusaha menenangkannya, tetapi dia tiba-tiba berdiri dan mencekik saya. Saat itu, teman-teman segera melerai, dan saudaranya, Roni Siki, marah. Roni berkata lebih baik dia sendiri yang memukul Yoris daripada orang lain. Setelah itu, mereka mulai bertengkar,” ungkap Wendelinus.
Melihat situasi semakin tidak terkendali, Wendelinus membawa Yoris ke ruangan PKK untuk menenangkan dirinya. Namun, Yoris tetap tidak terima dan malah kembali ke kantor desa dalam keadaan emosi.
Ia menendang Roni hingga jatuh di depan pengurus desa, yang memicu perkelahian hebat hingga menyebabkan beberapa perabotan kantor rusak.
Saat kejadian berlangsung, Wendelinus mengaku hanya berdiri di depan pintu dan menyaksikan pertikaian tersebut tanpa ikut campur.
Upaya Damai Gagal, Kasus Berlanjut ke Jalur Hukum
Beberapa saat kemudian, Kapospol setempat menelepon Wendelinus dan melaporkan adanya keributan di kantor desa. Wendelinus pun segera datang ke kantor untuk menenangkan situasi.
Di sana, Yoris yang wajahnya mengalami luka akibat perkelahiannya dengan Roni, tiba-tiba menuduh Wendelinus sebagai pelaku pemukulan.
“Dia bilang, ‘Kenapa Pak Desa pukul saya?’ Saya langsung jawab, ‘Jadi kamu berpikir saya yang pukul kamu?’ Padahal jelas-jelas yang baku pukul adalah dia dan Roni. Ini tuduhan yang tidak berdasar,” tegas Wendelinus.
Kapospol kemudian mencoba menawarkan jalan damai kepada kedua belah pihak. Namun, seorang warga bernama Bene Baluk menolak dan meminta agar kasus ini tetap diproses secara hukum.
Hingga saat ini, kasus ini masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Wendelinus berharap agar proses hukum berjalan dengan adil dan transparan agar kebenaran dapat terungkap.
“Saya percaya pada hukum dan siap mengikuti prosesnya. Saya hanya ingin semuanya diselesaikan dengan baik agar tidak ada fitnah yang berlarut-larut,” pungkasnya. (MI)

