Kupang, nwartapedia.com – Komitmen bersama untuk menuntaskan pembangunan Monumen Flobamora Rumah Pancasila kembali ditegaskan oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, bersama Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, dan Bupati Kupang, Yosef Lede.
Monumen yang berlokasi di Desa Nitneo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang tersebut dinilai memiliki nilai strategis, baik dari sisi sejarah, ideologi, maupun pengembangan ekonomi masyarakat.
Komitmen itu disampaikan saat Gubernur NTT melakukan peninjauan langsung ke lokasi monumen, Kamis (22/1), didampingi Wali Kota Kupang, Bupati Kupang, serta Ketua DPRD Kota Kupang, Richard E. Odja.
Monumen Flobamora Rumah Pancasila yang berbentuk burung Garuda menghadap ke Laut Sawu dengan ketinggian sekitar 50 meter ini berdiri di atas lahan hibah dari Bapak Theo Widodo, orang tua Wali Kota Kupang, kepada Pemerintah Provinsi NTT.
Keberadaan monumen ini dipandang bukan sekadar bangunan monumental, tetapi simbol nilai Pancasila, persatuan, dan kebanggaan masyarakat Flobamora.
Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menegaskan dukungan penuh Pemerintah Kota Kupang terhadap langkah Gubernur NTT untuk melibatkan Pemerintah Kota Kupang dan Pemerintah Kabupaten Kupang dalam kelanjutan pembangunan monumen tersebut.
“Monumen Flobamora Rumah Pancasila harus menjadi milik bersama masyarakat. Selain sebagai destinasi wisata dan sejarah, monumen ini juga harus menjadi ruang edukasi dan penggerak ekonomi warga, baik Kota Kupang maupun Kabupaten Kupang, mengingat lokasinya berada di wilayah perbatasan dua daerah,” ujar dr. Christian Widodo.
Sementara itu, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan bahwa pembangunan Monumen Flobamora Rumah Pancasila harus dilanjutkan hingga tuntas.
Menurutnya, monumen ini dibangun sebagai simbol kebanggaan masyarakat NTT sekaligus pengingat peran daerah ini dalam sejarah lahirnya gagasan Pancasila.
“Dari NTT, nilai-nilai Pancasila ingin kita kumandangkan ke seluruh Nusantara. Monumen ini bukan hanya simbol fisik, tetapi pesan ideologis yang harus terus hidup dan diwariskan,” jelas Gubernur.
Gubernur mengakui bahwa pembangunan monumen sempat terhenti sehingga belum dapat difungsikan secara optimal.
Peninjauan lapangan dilakukan untuk memastikan arah pembangunan ke depan lebih terencana, terukur, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ke depan, Monumen Flobamora Rumah Pancasila direncanakan dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan ideologi Pancasila yang dikelola dan dimanfaatkan secara bersama oleh Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kota Kupang, dan Pemerintah Kabupaten Kupang, serta terbuka untuk seluruh masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, Gubernur NTT juga menyampaikan apresiasi atas hibah lahan dari Bapak Theo Widodo kepada Pemerintah Provinsi NTT. Ia menilai hibah tersebut sebagai wujud nyata semangat gotong royong dan kecintaan terhadap daerah.
“Kami menargetkan pembangunan monumen ini dapat diselesaikan tahun ini. Untuk pembiayaan, kami sepakat mencari skema pendanaan alternatif tanpa membebani APBD, sehingga monumen ini benar-benar menjadi kebanggaan bersama masyarakat NTT,” tegasnya.
Monumen Flobamora Rumah Pancasila diharapkan tidak hanya berdiri megah, tetapi berfungsi sebagai ruang edukasi, pusat sejarah, serta destinasi wisata yang mampu memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur. ***
