Kupang, nwartapedia.com — Terik matahari siang menyorot tajam di perbukitan kering Kelurahan Bello, Kota Kupang. Di tengah debu dan jalanan berbatu RW 003, dua petugas dari Puskesmas Sikumana menembus panas untuk menjalankan misi kemanusiaan: menyisir rumah-rumah warga yang menjadi korban gigitan anjing liar.
Serangan anjing liar yang terjadi selama dua hari berturut-turut, Sabtu dan Minggu (18–19 Oktober 2025), telah menggemparkan warga setempat.
Tujuh orang menjadi korban, sebagian besar mengalami luka gigitan serius dan harus menjalani perawatan serta vaksinasi rabies.
Blandina Wila dan Roberti Jaur, petugas surveilans kesehatan dari Puskesmas Sikumana, menyambangi satu per satu rumah korban, didampingi Ketua RW 003 Goris Takene dan Babinsa Kelurahan Bello Serka Frans.
Selain memastikan penanganan medis, mereka juga memetakan titik-titik rawan kemunculan anjing liar yang diduga membawa virus rabies.
“Setiap informasi dari warga sangat penting untuk penelusuran sumber penularan,” ujar Blandina Wila di sela-sela wawancara dengan salah satu keluarga korban pada Senin (20/10/2025).
Aurelius Mengi Uly (37), warga RW 003, menjadi salah satu korban yang mengalami luka robek di kaki kanannya saat hendak pergi ke gereja bersama istri dan anaknya.
“Minggu pagi, sekitar jam 6:50, tiba-tiba seekor anjing datang dan menggigit kaki saya. Untung saya langsung dibawa ke RSUD SK Lerik dan mendapat suntikan vaksin anti rabies,” tuturnya.
Maria Bire Doko (65), warga RT 004/RW 002, juga tak luput dari serangan. Ia digigit di bagian tangan saat berjalan tidak jauh dari Gereja Effata Bello.
“Saya kaget, dari belakang anjing itu langsung gigit tangan saya. Sekarang dengar gonggongan anjing saja saya langsung takut,” ucapnya dengan nada trauma.
Korban lainnya, Servanda Tuan (19), meminta pemerintah bertindak tegas.
“Kami minta semua anjing liar ditangkap atau divaksin. Ini sudah berulang kali terjadi,” ujarnya.
Dinas Peternakan Provinsi NTT melalui dokter hewan Nita Ninef menyatakan seluruh korban telah ditangani dengan pemberian vaksin rabies dan dalam kondisi stabil.
“Kami tetap pantau kondisi korban di rumah masing-masing. Kami minta masyarakat segera melapor jika melihat anjing dengan perilaku mencurigakan,” tegasnya.
Kegiatan ini merupakan upaya gabungan antara Dinas Peternakan Provinsi NTT, Dinas Pertanian Kota Kupang, dan Puskesmas Sikumana untuk mencegah penyebaran rabies di kawasan padat penduduk.
Ketua RW 003 Goris Takene berharap ada tindak lanjut berkelanjutan.
“Ini bukan sekadar soal hewan, tapi soal rasa aman warga. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi,” katanya.
Daftar Korban Gigitan Anjing Liar di Bello:
- Stefen Rihi (18) – Luka gigitan di kaki kanan (Sabtu, 18/10/2025)
- Nehe Tuan (24) – Luka gigitan di tangan kiri
- Fanda Tuan (20) – Luka gigitan di kaki kanan
- Aurelius Mengi Uly (38) – Luka robek di kaki kanan
- Maria Bire Doko (65) – Luka gigitan di tangan kanan
- Rhido Haga Ly (46) – Selamat tanpa luka, celana robek akibat gigitan
- Mikael Koro (45) – Selamat tanpa luka, sepatu robek akibat gigitan
Hingga saat ini, tim gabungan masih terus melakukan survei dan pemantauan di wilayah sekitar. Warga diminta meningkatkan kewaspadaan dan menjaga hewan peliharaan agar tidak berkeliaran tanpa pengawasan. (goe)
