Kupang,nwartapedia.com — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kupang membuka secara resmi kegiatan Penguatan Kapasitas Kawasan melalui fasilitasi pembentukan Kelurahan Tangguh Bencana (Keltana) di Kelurahan Bonipoi, Kecamatan Kota Lama, Rabu (23/7).
Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Kupang, Elsje W.A.Sjioen,S.Sos.,Msi didampingi oleh Forum Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim (PRB-API) Kota Kupang.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Perwakilan Lurah Bonipoi, Ketua LPM, Karang Taruna, perwakilan RT/RW, PKK, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, perwakilan dari kaum disabilitas, media, serta para peserta lainnya.
Dalam sambutannya, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Kepala BPBD Kota Kupang yang sedang mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) II di Surabaya dan baru akan kembali pada Oktober mendatang.
“Kami ditugaskan untuk mewakili beliau dan memastikan seluruh proses berjalan sesuai rencana. Mengapa kita membentuk Kelurahan Tangguh Bencana? Karena Kota Kupang memiliki 10 jenis ancaman bencana, yang kejadiannya meningkat akhir-akhir ini, dengan kerentanan yang juga semakin tinggi akibat pembangunan yang tidak berbasis pengurangan risiko, padatnya penduduk, urbanisasi, dan keterbatasan ruang,” jelasnya.
Elsje Sjioen menegaskan bahwa masyarakat adalah pihak pertama yang berhadapan dengan bencana, namun kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana masih rendah.
“Karena itu, Kelurahan Bonipoi dipilih sebagai salah satu sasaran karena termasuk rawan bencana dan masih memiliki kapasitas yang perlu ditingkatkan,” tegasnya.
Ia berharap kegiatan fasilitasi ini dapat meningkatkan kemampuan masyarakat sehingga ketika bencana terjadi, dampak yang ditimbulkan dapat diminimalisir.
“Terdapat 20 indikator dalam penilaian Kelurahan Tangguh Bencana, namun untuk tahap awal ini, fasilitasi difokuskan pada indikator-indikator utama sebagai embrio yang akan dikembangkan lebih lanjut,”harapnya.
Proses fasilitasi yang akan berlangsung dalam lima pertemuan ini diawali dengan Penilaian Ketangguhan Desa/Kelurahan (PKD) untuk mengetahui tingkat ketangguhan Bonipoi. Tingkat ketangguhan sendiri terbagi menjadi tiga level: pratama, madya, dan utama.
Lebih lanjut. Elsje Sjioen menjelaskan, masyarakat bersama fasilitator akan membentuk Forum PRB-API tingkat kelurahan, merekrut lima orang relawan inti yang menjadi ujung tombak penanggulangan bencana, serta melakukan kajian risiko bencana partisipatif.
“Kajian ini mencakup analisis ancaman, kerentanan, kapasitas, hingga penyusunan peta risiko bencana,” jelasnya.
Selain itu, warga akan didampingi untuk menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Kelurahan, mengikuti pelatihan penanggulangan bencana, serta melakukan simulasi evakuasi mandiri dan pertolongan pertama.
Menurutnya, kegiatan ini juga memperkenalkan Keluarga Tangguh Bencana (Katana) sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan di tingkat keluarga. Sebagai bentuk apresiasi, panitia dan fasilitator menyiapkan empat tas siaga yang akan diberikan kepada peserta forum paling aktif, yang hadir penuh dan berkontribusi selama lima pertemuan.
“Empat peserta terbaik tersebut juga akan didata keluarganya untuk mengikuti program Katana pada tahun berikutnya,”pungkasnya. (MI)

