
Kupang,nwartapedia.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur kembali merilis data terbaru mengenai Nilai Tukar Petani (NTP) bulan Februari 2025.
Kepala BPS NTT, Matamira B. Kale, menyampaikan bahwa NTP Februari 2025 tercatat sebesar 101,43 atau mengalami penurunan sebesar 0,16 persen dibandingkan bulan Januari 2025.
NTP merupakan salah satu indikator penting yang mencerminkan keseimbangan antara harga hasil pertanian yang diterima petani dengan harga barang dan jasa yang harus dibayar petani untuk kebutuhan produksi maupun konsumsi rumah tangga.
Penurunan NTP ini menunjukkan bahwa daya beli dan kesejahteraan petani NTT mengalami sedikit tekanan.
BPS juga mencatat perkembangan NTP di lima subsektor utama, yakni, Tanaman Padi dan Palawija: 99,70, Hortikultura: 98,39, Tanaman Perkebunan Rakyat: 104,17, Peternakan: 107,63, Perikanan: 94,10.
Dari data tersebut, terlihat bahwa subsektor Perikanan menjadi satu-satunya subsektor yang tidak mengalami penurunan signifikan dibandingkan subsektor lainnya.
Menurut BPS, penurunan NTP Februari 2025 disebabkan oleh lambatnya kenaikan harga hasil pertanian yang diterima petani, sementara harga barang dan jasa yang dibayar petani terus meningkat.
Kenaikan biaya konsumsi rumah tangga dan kebutuhan produksi turut membebani kondisi ekonomi petani.
Selain itu, inflasi di wilayah perdesaan selama Februari 2025 tercatat sebesar 0,28 persen.
Inflasi ini terutama disebabkan oleh kenaikan harga pada subkelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang turut mempersempit daya beli petani di pedesaan NTT. (MI)
