Kupang, nwartapedia.com – Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Perubahan Iklim Kota Kupang, Wildrian Ronald Otta yang akrab disapa Andre Otta, mendorong penguatan strategi komunikasi publik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perubahan iklim dan dampaknya bagi kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan Andre Otta, yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Kupang, dalam rapat bersama Pokja Perubahan Iklim di ruang rapat kantor Dinas PMPTSP, Kamis (16/10/2026).
Dalam rapat tersebut, Andre menegaskan bahwa penyampaian informasi mengenai perubahan iklim tidak cukup hanya dilakukan melalui sosialisasi.
Pemerintah juga perlu memastikan informasi yang disampaikan benar-benar menjangkau masyarakat, dipahami dengan baik, dan mampu mendorong perubahan perilaku.
Menurutnya, langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengetahui sejauh mana masyarakat memahami perubahan iklim, termasuk dampaknya terhadap lingkungan, kenaikan permukaan air laut, gelombang tinggi, serta berbagai risiko yang dapat memengaruhi kehidupan masyarakat.
Pemahaman tersebut penting agar program edukasi yang dirancang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat di lapangan.
Andre menjelaskan, strategi komunikasi publik perlu memperhatikan penggunaan bahasa yang sederhana, materi yang relevan, serta visual yang mudah dipahami.
Informasi yang terlalu teknis berisiko sulit diterima apabila tidak disesuaikan dengan karakteristik masyarakat sebagai penerima pesan.
Untuk memperluas jangkauan informasi, berbagai saluran komunikasi dapat dimanfaatkan, mulai dari media online, media sosial, radio, papan reklame, hingga jaringan komunikasi di tingkat kelurahan, RT, dan RW.
Menurutnya, setiap saluran memiliki karakteristik dan jangkauan berbeda sehingga penyajian informasi perlu disesuaikan tanpa mengubah pesan utama yang ingin disampaikan.
Edukasi perubahan iklim juga perlu dikaitkan dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti kebiasaan membuang sampah sembarangan, pencemaran lingkungan, serta dampak perubahan kondisi cuaca dan laut.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga memahami peran dan tanggung jawabnya dalam menjaga lingkungan serta mendukung upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Andre turut menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas, media, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem komunikasi publik yang berkelanjutan.
Menurutnya, kerja sama tersebut perlu didukung pembagian peran yang jelas dan penyampaian informasi yang konsisten agar pesan mengenai perubahan iklim dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
Selain penyampaian informasi, evaluasi terhadap respons masyarakat juga menjadi bagian penting dari strategi komunikasi publik. Pemerintah perlu mengetahui apakah informasi yang disampaikan sudah dipahami atau masih memerlukan perbaikan.
Evaluasi dapat dilakukan melalui survei sederhana, kuesioner, serta pengumpulan masukan masyarakat melalui saluran komunikasi yang tersedia.
Hasilnya dapat digunakan untuk memperbaiki materi, bahasa, visual, dan metode penyampaian informasi.
Melalui strategi komunikasi publik yang terarah, terukur, dan berkelanjutan, Pokja Perubahan Iklim Kota Kupang diharapkan mampu memperkuat kesadaran serta partisipasi masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga lingkungan dan membangun Kota Kupang yang lebih bersih, tangguh, serta berkelanjutan. (MI)


