{"id":7730,"date":"2025-07-19T08:59:05","date_gmt":"2025-07-19T01:59:05","guid":{"rendered":"https:\/\/nwartapedia.com\/?p=7730"},"modified":"2025-07-28T16:06:11","modified_gmt":"2025-07-28T09:06:11","slug":"membaca-suara-perempuan-yang-tersembunyi-dalam-kiasan-telaah-metafora-bahasa-sikka-krowe","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/2025\/07\/19\/membaca-suara-perempuan-yang-tersembunyi-dalam-kiasan-telaah-metafora-bahasa-sikka-krowe\/","title":{"rendered":"Membaca\u00a0Suara Perempuan yang Tersembunyi Dalam Kiasan: Telaah Metafora Bahasa Sikka Krowe"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-size: 18px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\"><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>Oleh<\/strong><\/span>: <span style=\"color: #000080;\"><strong>E. Nong Jonson sebagai Pemerhati Bahasa &amp; Budaya<\/strong><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 18px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\"><a style=\"color: #000000;\" href=\"https:\/\/nwartapedia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG-20250718-WA0081.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-7706\" src=\"https:\/\/nwartapedia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG-20250718-WA0081-300x272.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"272\" srcset=\"https:\/\/nwartapedia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG-20250718-WA0081-300x272.jpg 300w, https:\/\/nwartapedia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG-20250718-WA0081-1024x928.jpg 1024w, https:\/\/nwartapedia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG-20250718-WA0081-768x696.jpg 768w, https:\/\/nwartapedia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG-20250718-WA0081-1536x1392.jpg 1536w, https:\/\/nwartapedia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG-20250718-WA0081.jpg 1599w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\"><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>Kupang,nwartapedia.com<\/strong><\/span>\u00a0 &#8211;\u00a0 Perempuan Sikka Krowe memainkan peran yang sangat unik. Tidak hanya dalam kehidupan sosial dan budaya, tetapi juga dalam praktik berbahasa. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Salah satu cara perempuan mengekspresikan pandangannya terhadap laki-laki adalah melalui metafora \u2018<strong>Peleng Patang<\/strong><em>\u2019<\/em>. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Metafora bukan sekadar gaya bahasa, melainkan ornamen penyampai nilai, kritik sosial, serta ekspresi perasaan yang terselubung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\"> Secara singkat, metafora seperti menikam tetapi dengan lidah. Lembut ditelinga, hancur di hati. Atau dalam hal perilaku, ciuman Yudas terhadap Yesus adalah contoh bentuk metafora.\u00a0 \u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Telaah ini secara implisit menggunakan pendekatan Feminist Linguistic Anthropology, sebagaimana dikembangkan oleh Deborah Tannen dan Jennifer Coates, kita melihat bahwa perempuan menggunakan metafora untuk membentuk narasi alternatif tentang relasi gender. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Dalam budaya patriarkis seperti di Sikka, metafora menjadi senjata halus bagi perempuan untuk menyuarakan ketidaksetaraan, tanpa menantang norma secara frontal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Dalam konteks ini, metafora yang digunakan oleh perempuan menjadi refleksi dari konstruksi sosial, relasi perasaan, dan cara menerjemahkan laki-laki dalam perpektif mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\"> Telaah ini juga menggunakan pendekatan metafora konseptual yang dikembangkan oleh George Lakoff dan Mark Johnson dalam karya mereka Metaphors We Live By (1980).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Menurut mereka, metafora adalah proses kognitif. Memperkenalkan satu domain pengalaman dipahami dalam istilah domain lain. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Artinya, ketika seorang perempuan menyebut laki-laki sebagai <strong>Jarang talin betan \u2018Kuda lepas tali<\/strong>\u2019, dia sedang mengaktifkan struktur konseptual yang memproyeksikan sifat kuda, yaitu liar, tidak terkendali, ke dalam gambaran tentang pribadi laki-laki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Selain itu, pengandaian perempuan terhadap laki-laki kadang di luar dari pembayangan. Semisal, <strong>Du ganu mu\u2019u, nora poi tetor \u2018Seperti pisang, hanya memiliki jantung tetapi tidak berhati\u2019.<\/strong> Perempuan bahkan mengidektikkan laki-laki seperti pisang. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Hanya memiliki jantung tetapi tidak memiliki hati. Metafora ini merujuk pada ketidakpekaan laki-laki terhadap kode-kode yang disampaikan secara verbal, ekspresi, dan gestur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\"> Perempuan, melalui tuturan-tuturan metaforis, menyampaikan evaluasi sosial-individual terhadap laki-laki yang tidak bisa dikritik secara langsung. Sebab ada norma kesopanan dan budaya yang hidup sebagai ciri khas patriartki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Ungkapan lain, seperti <strong>du ganu awu go\u2019on \u2018Seperti panas dalam abu\u2019.<\/strong> Metafora ini menggambarkan laki-laki yang tampaknya tenang, tetapi menyimpan kemarahan atau niat buruk. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Panas dalam abu secara harfiah tidak terlihat menyala, tetapi bila disentuh bisa membakar. Perempuan menggunakan ungkapan ini untuk menggambarkan laki-laki yang manipulatif atau tidak jujur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Beberapa kemarahan juga disampaikan perempuan dengan bentuk bahasa yang lembut tetapi sangat menusuk. Seperti, <strong>Ti toki pare \u2018Burung makan padi<\/strong>\u2019.Metafora ini digunakan untuk menyebut laki-laki yang tidak produktif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\"> Namun, menikmati hasil kerja perempuan. Ini mencerminkan kritik sosial terhadap relasi ekonomi dalam rumah tangga, yang menempatkan perempuan sering kali bekerja keras dan hasilnya dinikmati oleh suami yang malas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Metafora atau Peleng Patang bukan sekadar deskriptif tetapi juga preskriptif. Ketika perempuan menggunakan metafora tertentu, mereka tidak hanya mendeskripsikan laki-laki, tetapi juga menetapkan standar perilaku yang diterima.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\"> Contohnya, metafora <strong>Wawi anak ninu leten lakat \u2018Anak babi minum di dua air<\/strong>\u2019. Ungkapan ini ditujukan pada laki-laki yang berpoligami secara sembunyi-sembunyi. Fungsinya sebagai kecaman sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Metafora-metafora ini hidup dalam percakapan sehari-hari, lagu rakyat, dan cerita adat. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa perempuan membentuk semacam counter-narrative terhadap dominasi laki-laki dalam wacana resmi (adat, agama). Dengan demikian, bahasa menjadi ruang negosiasi identitas dan kekuasaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Meskipun mengandung kritik, penggunaan metafora oleh perempuan tetap tunduk pada norma kesopanan lokal. Mereka jarang menggunakan bahasa kasar atau frontal. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Sebaliknya, sindiran halus, ironi, dan metafora agraris menjadi cara yang efektif dan aman secara sosial untuk menyampaikan pesan mereka. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Metafora menjadi bentuk linguistic resistance bagi perempuan yang tidak memiliki ruang politik atau sosial yang luas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\"> Dalam keterbatasan kesempatan berbicara, perempuan memilih bahasa kiasan untuk melindungi diri. Sambil tetap menyampaikan suara hati dan ketidakpuasan mereka terhadap situasi sosial yang tidak adil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Mtafora yang digunakan perempuan Sikka dialek Krowe untuk laki-laki memiliki fungsi yang kompleks. Menggambarkan realitas, mengkritik perilaku, dan mempertahankan norma komunitas. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Bahasa metaforis perempuan mencerminkan daya tahan budaya dan kearifan lokal dalam menghadapi ketimpangan gender.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Perlu dilakukan dokumentasi lebih lanjut terhadap metafora-metafora lokal ini agar tidak ditelan modernisasi. Juga penting bagi pendidikan lokal untuk mengintegrasikan kesadaran gender dan nilai-nilai kultural yang terkandung dalam bahasa sehari-hari. Agar anak-anak belajar menghargai kesetaraan sejak dini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Kita semua, baik peneliti, pendidik, maupun anggota masyarakat, memiliki tanggung jawab untuk mendengarkan suara perempuan yang sering tersembunyi dalam kiasan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Mari kita lestarikan bahasa daerah dan makna-makna tersembunyinya, sebagai cermin kebijaksanaan leluhur dan modal sosial untuk masa depan yang lebih adil dan setara. (MI)<\/span><\/p>\n<div class=\"pdfprnt-buttons pdfprnt-buttons-post pdfprnt-bottom-left\"><a href=\"javascript: imageToPdf(7730)\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-pdf\" target=\"_self\" ><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/nwartapedia.com\/wp-content\/plugins\/pdf-print\/images\/pdf.png\" alt=\"image_pdf\" title=\"View PDF\" \/><\/a><a href=\"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7730?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><\/a> <span class=\"pdfprnt-count-generation\">8<\/span><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: E. Nong Jonson sebagai Pemerhati Bahasa &amp; Budaya &nbsp; Kupang,nwartapedia.com\u00a0 &#8211;\u00a0 Perempuan Sikka Krowe memainkan peran yang<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-7730","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-daerah"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7730","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7730"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7730\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7849,"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7730\/revisions\/7849"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7730"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7730"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7730"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}