{"id":7705,"date":"2025-07-18T13:12:43","date_gmt":"2025-07-18T06:12:43","guid":{"rendered":"https:\/\/nwartapedia.com\/?p=7705"},"modified":"2025-07-18T13:15:57","modified_gmt":"2025-07-18T06:15:57","slug":"telaah-ekspresif-simbolis-bahasa-sikka-dialek-krowe","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/2025\/07\/18\/telaah-ekspresif-simbolis-bahasa-sikka-dialek-krowe\/","title":{"rendered":"Telaah Ekspresif-Simbolis Bahasa Sikka Dialek Krowe"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #000000;\"><strong><span style=\"font-size: 18px;\"><span style=\"font-size: 19px; color: #333399; font-family: georgia, palatino;\">Oleh<\/span>:\u00a0<span style=\"font-size: 19px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\"> E. Nong Yonson sebagai <\/span><\/span><\/strong><\/span><span style=\"color: #000000; font-size: 19px; font-family: georgia, palatino;\"><strong>Pemerhati Bahasa &amp; Budaya<\/strong><\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/nwartapedia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG-20250718-WA0081.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-7706\" src=\"https:\/\/nwartapedia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG-20250718-WA0081-300x272.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"272\" srcset=\"https:\/\/nwartapedia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG-20250718-WA0081-300x272.jpg 300w, https:\/\/nwartapedia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG-20250718-WA0081-1024x928.jpg 1024w, https:\/\/nwartapedia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG-20250718-WA0081-768x696.jpg 768w, https:\/\/nwartapedia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG-20250718-WA0081-1536x1392.jpg 1536w, https:\/\/nwartapedia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG-20250718-WA0081.jpg 1599w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\"><strong><span style=\"color: #ff0000;\">Kupang,nwartapedia.com\u00a0<\/span><\/strong> &#8211;\u00a0 Bahasa Sikka, terutama dialek Krowe, menjadi salah satu warisan budaya lisan masyarakat Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Sebagai bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan berelasi sehari-hari. Dalam Bahasa Sikka Dialek Krowe tersimpan kekayaan ekspresif-simbolis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Ferdinand de Saussure seorang tokoh linguistik struktural terkenal menjelaskan bahwa bahasa adalah sistem tanda (sign) yang terdiri atas signifier (penanda) dan signfied (petanda). <\/span><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Penanda adalah bentuk fisik seperti suara atau tulisan, sedangkan petanda adalah konsep atau makna. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Dengan demikian, bahasa sebagai ekspresi simbolis merujuk pada relasi antara simbol dan makna bukan semata-mata penamaan objek. Ekspresi simbolis bahasa Sikka bermuara pada pencerminan nilai-nilai budaya, kepercayaan, serta struktur sosial masyarakat penuturnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Telaah terhadap bentuk ekspresif-simbolis dalam bahasa ini menjadi bagian yang sangat penting. Tujuannya, untuk memahami cara masyarakat Krowe menyampaikan emosi, identitas, dan makna melalui simbol bahasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Bentuk ekspresif dalam Bahasa Sikka Krowe banyak ditemukan dalam tuturan sehari-hari, baik berupa upacara adat, nyanyian rakyat, dan ungkapan tradisional. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Ekspresi ini tidak hanya menyampaikan emosi atau perasaan, tetapi juga memperlihatkan cara berpikir dan nilai yang dianut masyarakat. Contohnya sebagai berikut.<\/span><\/p>\n<p><em><strong><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Sir naha li\u2019i, ga\u2019i naha da\u2019a.<\/span><\/strong><\/em><\/p>\n<p><strong><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\"><em>\u2018Pilihlah pasangan hidup yang tepat.<\/em>\u2019<\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Ungkapan ini secara simbolis menggambarkan petuah kepada muda-mudi untuk selektif dalam hal pasangan hidup. Sir \u2018 pacaran\u2019 dan ga\u2019i \u2018mau dengan\u2019. Artinya, dalam usaha untuk mau dengan siapa, melalui pacaran, harus da\u2019a \u2018tepat\u2019. <\/span><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Apakah ungkapan ini biasa, tentu tidak. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Ungkapan ini selain memiliki kedalaman makna juga merujuk pada kedekatan emosional antara penyampai pesan dan sasarannya. Sebab, ungkapan ini sekaligus sebagai simbol kedekatan emosional dan tanggung jawab. Tidak elok jika disampaikan oleh seseorang kepada orang lain yang tidak saling mengenal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Lanjutan dari ungkapan itu merujuk pada pesan kehati-hatian dan dampak terhadap keberlangsungan hidup.<\/span><\/p>\n<p><em><strong><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Lopa sir dena de\u2019a, ga\u2019i dena \u2018lebe<\/span><\/strong><\/em><\/p>\n<p><em><strong><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Loning du\u2019a naha nora lin, la\u2019i nowa welin<\/span><\/strong><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">\u2018<em><strong>Jangan bercanda, karena perempuan dan laki-laki memiliki nilai\u2019\u00a0<\/strong><\/em>\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Bentuk simbolis-ekspresi ini menonjolkan struktur pesan yang disertai dengan seruan adat berupa larangan dan konsukensianya. Di sini terdapat dualitas simbolik antara ruang kebiasaan muda-mudi dan ruang tradisi kodrat sebagai perempuan dan laki-laki.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Dalam ungkapan Ekspresi-simbolis, Bahasa Sikka Krowe juga memiliki gaya retorik yang khas. Bentuknya, berupa paralelisme simbol. Contohnya sebagai berikut.<\/span><\/p>\n<p><strong><em><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Diri inan tutur, plina aman tatar<\/span><\/em><\/strong><\/p>\n<p><strong><em><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">\u2018Patuhi nasihat orang tua\u2019<\/span><\/em><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Diri dan plina merujuk pada makna yang sama, yaitu \u2018mendengar\/mengikuti\u2019. Sedangkan tutur dan tatar juga bermuara pada maksud yang sama, yaitu \u2018pembicaraan\/penyampaian\u2019. Ekspesi-simbolis dalam bentuk paralelisme tidak bisa ditukar posisinya juga diganti dengan bentuk yang lain. Selain akan berpengeruh pada makna juga pada estetika dan struktur kalimat.\u00a0 \u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Konstruksi paralel ini digunakan untuk menekankan kedalaman rasa dan kesungguhan niat. Kata-kata ini digunakan untuk menegaskan bahwa keputusan yang diambil telah melibatkan seluruh aspek diri: hati, napas, mata, dan darah. Bahasa di sini menjadi alat untuk menyampaikan komitmen kolektif yang sakral.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Dari perspektif linguistik dan semiotik, bentuk-bentuk ekspresif-simbolik ini menunjukkan bahwa Bahasa Sikka Krowe tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sistem makna budaya. Setiap ungkapan bukan hanya memiliki arti denotatif, melainkan konotatif bahkan pesan mendalam yang dipengaruhi oleh konteks budaya dan peradapan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Telaah ini memperlihatkan bahwa untuk memahami Bahasa Sikka Krowe secara mendalam, kita perlu melihatnya dalam kerangka hubungan antara ekspresi, simbol, konteks bahasa, dan budaya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 17px; color: #000000; font-family: georgia, palatino;\">Ekspresi dan simbol yang terkandung dalam bahasa ini merupakan representasi dari gambaran batin dan sistem nilai masyarakat Krowe, yang jika tidak dilestarikan, akan menghilang bersama perubahan realitas kehidupan. ***<\/span><\/p>\n<div class=\"pdfprnt-buttons pdfprnt-buttons-post pdfprnt-bottom-left\"><a href=\"javascript: imageToPdf(7705)\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-pdf\" target=\"_self\" ><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/nwartapedia.com\/wp-content\/plugins\/pdf-print\/images\/pdf.png\" alt=\"image_pdf\" title=\"View PDF\" \/><\/a><a href=\"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7705?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><\/a> <span class=\"pdfprnt-count-generation\">13<\/span><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh:\u00a0 E. Nong Yonson sebagai Pemerhati Bahasa &amp; Budaya &nbsp; Kupang,nwartapedia.com\u00a0 &#8211;\u00a0 Bahasa Sikka, terutama dialek Krowe, menjadi<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6,4],"tags":[],"class_list":["post-7705","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-daerah","category-pendidikan"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7705","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7705"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7705\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7709,"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7705\/revisions\/7709"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7705"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7705"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7705"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}