{"id":2371,"date":"2021-04-20T14:59:00","date_gmt":"2021-04-20T07:59:00","guid":{"rendered":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/2021\/04\/20\/gerakan-meldy-hagur-nabit-sebagai-contoh-gerakan-kartini-masa-kini-manggarai-3\/"},"modified":"2021-04-20T14:59:00","modified_gmt":"2021-04-20T07:59:00","slug":"gerakan-meldy-hagur-nabit-sebagai-contoh-gerakan-kartini-masa-kini-manggarai-3","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/2021\/04\/20\/gerakan-meldy-hagur-nabit-sebagai-contoh-gerakan-kartini-masa-kini-manggarai-3\/","title":{"rendered":"Gerakan Meldy Hagur-Nabit Sebagai Contoh Gerakan Kartini Masa Kini Manggarai"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-e60ytyoDSaU\/YH6JZd6AS0I\/AAAAAAAAChk\/gx3MLDKqfCI8jkEMtm5HerCYiS_2slo7QCLcBGAsYHQ\/s720\/IMG-20210420-WA0032.jpg\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"480\" data-original-width=\"720\" src=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-e60ytyoDSaU\/YH6JZd6AS0I\/AAAAAAAAChk\/gx3MLDKqfCI8jkEMtm5HerCYiS_2slo7QCLcBGAsYHQ\/s320\/IMG-20210420-WA0032.jpg\" width=\"320\" \/><\/a><\/div>\n<\/p>\n<p><span style=\"color: red; font-family: times; font-size: medium;\">Oleh: Odilia Jayanti Mahu,&nbsp;<\/span><span style=\"font-family: times; font-size: large;\"><span style=\"color: #073763;\">Dosen di STIE Karya Ruteng&nbsp;<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: red; font-family: times; font-size: medium;\">Manggarai, mwartapedia.com<\/span><span style=\"color: #073763; font-family: times; font-size: medium;\">&nbsp; &#8211;&nbsp; Meldy Hagur merupakan ketua TP PKK (Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga) di Kabupaten Manggarai. Mengutip RealitaNTT.com, wanita yang biasa disapa Meldy ini menyampaikan bahwa \u201ckehadiran TP PKK Kabupaten Manggarai kedepannya tidak hanya sebatas organisasi isteri bupati dan wakil bupati, karena organisasi tersebut seharusnya merupakan organisasi kemasyarakatan yang memberdayaakan wanita untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan\u201d (RealitaNTT.com, 1 Maret 2021). Dalam hal ini saya beranggapan bahwa semangat ibu Meldy adalah semangat Kartini masa kini yang patut ditiru oleh anak-anak milenial.&nbsp; Membuktikan pernyataan ini Ibu Meldy setiap hari seperti sedang berjualan, jalan dari satu komunitas ke komunitas yang lain guna memberi stimulus kepada kaum-kaum yang tadinya tak terlihat agar berkembang untuk memberi sumbangsih terhadap perkembangan perekonomian di bumi Congkasae baik dalam ranah lokal maupun global.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #073763; font-family: times; font-size: medium;\">Kaum tak terlihat, siapakan sebenarnya mereka itu? Jujur saja, selama ini Manggarai terlalu lama berada di zona nyaman. Saking lamanya, sampai \u201cmalas\u201d untuk bangun dan melihat potensi sumber daya manusia yang jika diselami lebih jauh mampu menggerakan roda perekonomian. Pertanyaanya, mengapa demikian? Apakah karena kebijakan tidak pernah memberikan mereka ruang? Atau kebijakannya ada, tetapi sang pemangku kepentingan lebih memperhatikan diri sendiri ? Sudahlah jika mencari jawaban dari pertanyaan ini maka kita tidak akan bergerak maju. Biarkan yang berlalu tetap berlalu mari kita hidup untuk masa depan.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #073763; font-family: times; font-size: medium;\">Ibu Meldy Hagur sangat menyadari \u201ccedera pembangunan\u201d ini, tetapi saat itu beliau tak punya kuasa untuk mengubah dan mengangkat kaum terpinggirkan ke permukaan publik dan menyadarkan masyarakat luas bahwa \u201cini loh mereka, yang punya segudang bakat dan kemampuan yang memiliki nilai jual dan bisa mengembangkan usaha mikro kecil serta memberikan sumbangsih terhadap pergerakan industri kerajinan ekonomi kreatif (Ekraf) di tanah Nuca Lale ini\u201d. Kaum terpinggirkan inipun seakan dianaktirikan. Mereka tak punya ruang untuk berekspresi. Suara mereka seakan bungkam, tak mampu berteriak kepada penguasa. Merekapun memilih untuk bermetamorfosis sendiri, mengasah kemampuan lebih bagus lagi,sehingga hari demi hari mampu menciptakan karya yang mengagumkan. Hingga tiba saatnya semesta seakan mendengarkan doa mereka, dikirimkan wanita yang sangat energik, cerdas, dan selalu tampil memukau dengan retorika bahasanya, gaya komunikasi yang persuasif mampu membuat mereka percaya&nbsp; bahwa di tangan wanita ini kami bukan lagi kaum yang tidak dilihat, tetapi akan menjadi kekuatan besar untuk ikut bertisipasi dalam membangun Manggarai yang lebih baik lagi.&nbsp;&nbsp;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #073763; font-family: times; font-size: medium;\">Kehadiran Meldy Hagur-Nabit sungguh memberikan angin segar kepada kaum subalternitas atau mereka yang memiliki posisi tetapi tidak memiliki identitas (Morton, S. 2008 : 159) di bumi Congka Sae ini. Mereka kesulitan untuk memperkenalkan diri ke ranah global. Identias dalam konteks ini berarti nama khas yang akan menjadi tanda pengenal pada suatu hasil karya. Mengutip apa yang disampaikan oleh ibu Meldy bahwa \u201cyang penting adalah kita harus memiliki brand, supaya mudah dikenal, sehingga produk kreatif lokal betul-betul menjadi tuan rumah di Manggarai\u201d (News Report, 06 Maret 2021).&nbsp;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #073763; font-family: times; font-size: medium;\">Perjuangan ibu Meldy tentu saja tidak mudah. Hal yang paling sulit menurut saya adalah mengubah pola pikir atau mindset masyarakat terhadap pola penjualan manual ke berbasis oline. Bagi masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan tentu saja mudah dilakukan, tetapi bagaimana jika menyentuh komunitas ibu-ibu di desa? Sudah menjadi pengetahuan publik bahwa daerah Manggarai merupakan tempat produksi tenunan yang kualitasnya sangat bagus, sebut saja yang menjadi tenunan khas adalah kain Songke Manggarai dan kain Todo. Sebagian besar masyarakat yang memproduksi tenunan kain songke dan kain Todo adalah ibu-ibu yang tinggal di daerah Satarmese, Cibal, Reok dan masih ada beberapa tempat lainnya yang nota bene bermukim di Desa. Pola penjualan mereka adalah door to door. Tentu saja hal ini sangat tidak efektif, memakan waktu, tenaga dan uang. Ditambah lagi strategi penjualan ini sangat tidak cocok di masa pandemi covid-19. Indah Andayani, dll dalam artikelnya menjelaskan kendala pelaku UMKM dalam menghadapi situasi pandemu Covid-19 belum memahami cara pemasaran produk&nbsp; secara digital, mulai dari pemfotoan, perancangan iklan, hingga publikasi produk di platform online (Andayani, I. 2021: 13).&nbsp;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #073763; font-family: times; font-size: medium;\">Oleh karena itu, hal ini merupakan tantangan bagi ketua TP PKK ini, yaitu menemukan solusi bagi pelaku UMKM di berbagai lapisan masyarakat Manggarai. Program pemberdayaan marketing berbasis digital mesti dilakukan. Hal ini bertujuan agar strategi penjualan konvensional dikurangi, masyarakat benar-benar merasakan perubahan sampai menyentuh berbagai aplikasi penjualan seperti shopee, lazada, buka lapak, promosi menggunakan alamat sosial media seperti facebook, Instagram, twitter, dll. Mengunjungi mereka, menyaksikan cara mereka bekerja sangat mudah dilakukan. Namun mengubah pola pikir sangat tidak mudah dilakukan. Apakah Ibu Meldy mampu membawa \u201cperubahan\u201d itu untuk kita semua di tanah Nuca Lale ini? Mari menunggu, sembari kita berharap semoga kesehatan selalu ada padanya, agar beliau bisa merealisasikan setiap rencana dan masyarakatpun menikmati hasilnya.&nbsp; (ML\/IB)<\/span><\/p>\n<div><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Oleh: Odilia Jayanti Mahu,&nbsp;Dosen di STIE Karya Ruteng&nbsp; Manggarai, mwartapedia.com&nbsp; &#8211;&nbsp; Meldy Hagur merupakan ketua TP PKK<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-2371","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2371","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2371"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2371\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2371"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2371"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/nwartapedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2371"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}