Perpustakaan NTT Terus Berinovasi Dorong Literasi dan Minat Baca Generasi Muda

 

Kupang,nwartapedia.com  — Kepala Bidang Layanan dan Pembinaan Perpustakaan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dollyres Chandra, S.Sos., menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk terus mendorong literasi masyarakat melalui berbagai inovasi layanan perpustakaan.

Hal ini disampaikan dalam kegiatan Bimbingan Teknis Literasi Informasi untuk Pustakawan, Guru, dan Pegiat Literasi tingkat provinsi NTT yang berlangsung di Aula Kantor Dinas Kominfo Provinsi NTT pada Kamis (10/7).

Dalam kesempatan itu, Dollyres juga menjelaskan tentang program Duta Baca yang pernah diadakan terakhir kali pada tahun 2021. 

Menurutnya, usia ideal untuk Duta Baca adalah 18–35 tahun, dengan syarat utama memiliki hobi membaca, kemampuan komunikasi yang baik, kreativitas, prestasi akademik, inovasi, serta kesediaan waktu untuk menjalankan berbagai kegiatan literasi.

Namun, keterbatasan anggaran dan efisiensi belanja membuat pemilihan Duta Baca baru belum dapat dilaksanakan lagi sejak saat itu.

“Karena kita sudah tidak ada lagi Duta Baca, maka kami turun langsung ke sekolah-sekolah untuk sosialisasi gemar membaca dan layanan perpustakaan. Tujuannya untuk meningkatkan minat baca masyarakat,” ujar Dollyres.

Ia menyampaikan bahwa berdasarkan kajian Perpustakaan Nasional RI, tingkat kegemaran membaca masyarakat NTT cukup tinggi, dengan skor 70,34 pada tahun 2024. Bahkan, pada 2022 NTT menduduki peringkat ke-8 secara nasional.

Namun, tantangan tetap ada, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi yang menggeser peran tradisional perpustakaan.

Untuk menjawab tantangan itu, pihaknya telah meluncurkan berbagai inovasi layanan, seperti:

– Layanan pinjam buku antar ke rumah atau sekolah secara gratis, yang bisa dipesan melalui grup WhatsApp.

– Pendaftaran anggota online untuk mempermudah akses layanan.

– Layanan bantuan teknis untuk mahasiswa, misalnya memperbaiki laptop atau komputer rusak.

– Ruang belajar online dan ujian daring, lengkap dengan fasilitas internet.

– Bimbingan belajar membaca dan menulis bagi anak-anak yang masih kesulitan membaca.

– Kerja sama dengan toko-toko untuk menghadirkan fasilitas tambahan, seperti internet gratis.

“Perpustakaan bukan lagi sekadar tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi menjadi pusat kegiatan masyarakat dan ruang belajar bersama. Orang tua yang mengantar anak, guru, mahasiswa, bahkan masyarakat umum bisa memanfaatkan fasilitas yang kami sediakan,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa kini jumlah pengunjung perpustakaan per hari sudah mencapai lebih dari 100 orang, terutama saat sekolah dan kuliah aktif.

“Ketika kegiatan belajar mengajar berjalan, itulah waktu paling ramai bagi kami,” katanya.

Melalui semua inovasi tersebut, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTT ingin mematahkan anggapan bahwa perpustakaan hanyalah tempat yang sepi dan membosankan.

“Kami berusaha membuat perpustakaan menjadi lebih ramah, cepat melayani, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini,” tutup Dollyres.

Kegiatan Bimtek ini sendiri diharapkan dapat memperkuat kemampuan pustakawan, guru, dan pegiat literasi dalam mengelola serta menyebarluaskan informasi kepada masyarakat luas. (MI)




Kadis Kominfo NTT Tekankan Pentingnya Literasi Informasi pada Bimtek Pustakawan, Guru, dan Pegiat Literasi

 

Kupang,nwartapedia.com  — Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Frederik Christian Purwanto Koenunu, menjadi pembicara utama dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi bagi Pustakawan, Guru, dan Pegiat Literasi yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTT.

Kegiatan in8 berlangsung di Aula Kantor Kominfo NTT, Kamis (10/7/2025), dan dihadiri peserta dari pustakawan, guru dan pegiat literasi di NTT. 

Bimtek ini bertujuan meningkatkan kemampuan para peserta dalam mengelola dan menyebarkan informasi yang akurat, relevan, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Acara dipandu oleh Silvia Cornelia Francis, Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo NTT, yang juga bertindak sebagai moderator.

Dalam sambutannya, Silvia menyampaikan bahwa literasi informasi kini menjadi kebutuhan mendasar di era digital, bukan hanya bagi pustakawan dan guru, tetapi juga bagi semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan dan literasi.

Materi utama disampaikan Frederik Koenunu dengan tema Kemampuan Menganalisis dan Menyebarluaskan Informasi.

Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa literasi informasi tidak hanya berarti bisa membaca atau menyampaikan data, tetapi juga kemampuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara tepat dalam mengambil keputusan.

“Informasi yang kita sebarkan harus memenuhi kriteria akurasi, relevansi, dan etika. Komunikasi yang baik adalah yang membangun, bukan yang merusak. Pustakawan dan guru memiliki peran strategis untuk mencerdaskan masyarakat melalui informasi yang berkualitas,” tegas Frederik.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas informasi, mengingat derasnya arus informasi saat ini. Menurutnya, pemerintah berkewajiban membuka akses terhadap informasi publik tertentu, namun tetap dalam koridor hukum dan etika.

Dalam kesempatan itu, Frederik juga menyoroti kondisi literasi di Indonesia, termasuk di NTT, yang masih memerlukan perhatian serius. Tantangan seperti rendahnya minat baca, keterbatasan akses informasi, dan kurangnya fasilitas literasi masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

“Komunikasi adalah jembatan yang menghubungkan ide, pengalaman, dan pengetahuan. Mari kita gunakan komunikasi yang sehat, efektif, dan penuh etika untuk kemajuan bersama,” tambahnya.

Kegiatan ini berlangsung interaktif, dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang dimanfaatkan peserta untuk berbagi pengalaman dan memperoleh wawasan baru mengenai pengelolaan informasi.

Silvia menutup kegiatan dengan harapan agar para peserta dapat menerapkan ilmu yang didapat, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk memberdayakan lingkungan sekitar.

“Semoga materi yang diperoleh hari ini menjadi bekal untuk memperkuat literasi informasi di NTT, demi menciptakan masyarakat yang lebih cerdas, kritis, dan berdaya,” pungkasnya. (MI)




PLT Kadis Perpustakaan & Kearsipan NTT: Literasi Informasi Kunci Menghadapi Era Digital

 

Kupang,nwartapedia.com  — Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Stefanus G. De Rozari, A.Md.LLAJ., S.E., secara resmi membuka kegiatan Bimbingan Teknis Literasi Informasi bagi pustakawan, guru, dan pegiat literasi di Aula Dinas Komunitas dan Informasi Provinsi NTT, Kamis (10/7).

Dalam sambutannya, Stefanus mengajak seluruh peserta untuk bersyukur atas kesempatan mengikuti kegiatan penting ini dalam keadaan sehat.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para peserta, narasumber, serta semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara.

“Di era yang serba cepat dan penuh tantangan ini, kemampuan literasi informasi sangat penting. Tidak cukup hanya mengetahui informasi, tetapi kita juga harus mampu mengakses, mengelola, dan menggunakan informasi secara tepat sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan dan peraturan perundangan lainnya,” ujar Stefanus.

Menurutnya, seiring perkembangan teknologi informasi digital, masyarakat semakin menuntut kemudahan, kecepatan, dan kualitas dalam memperoleh informasi.

Karena itu, perpustakaan sebagai jantung pendidikan memiliki peran penting dalam menyediakan informasi yang relevan dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Literasi informasi bukan sekadar membaca dan mendengar, tetapi bagaimana informasi tersebut dapat menjadi pengetahuan yang berguna, membentuk pemikiran kritis, dan mendorong perubahan positif dalam masyarakat,” lanjutnya.

Stefanus juga menekankan bahwa kegiatan bimbingan teknis ini bukan hanya ajang pelatihan teknis semata, tetapi juga wadah untuk berbagi inspirasi, pengalaman, dan inovasi di bidang literasi informasi.

“Mari kita jadikan kegiatan ini sebagai momentum untuk memperkuat profesi kita, mengembangkan ekosistem literasi yang inovatif dan berkelanjutan, demi mewujudkan NTT yang sehat, sejahtera, dan maju,” tutupnya.

Kegiatan bimbingan teknis ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas para pustakawan, guru, dan pegiat literasi dalam menyikapi tantangan era digital, serta memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat informasi yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. (MI)




Dirjen Dukcapil Apresiasi Layanan Adminduk Kota Kupang, Dorong Digitalisasi dan Tingkatkan Fasilitas

 

Kupang,nwartapedia.com  — Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri RI, Dr. Teguh Setyabudi, M.Pd., melakukan kunjungan kerja ke Kota Kupang, Rabu (9/7), untuk memantau langsung pelayanan administrasi kependudukan di daerah.

Kehadirannya disambut hangat oleh Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, di Kantor Dinas Dukcapil Kota Kupang.

Kunjungan ini bertujuan memastikan layanan administrasi kependudukan berjalan baik, nyaman, dan sesuai dengan standar pelayanan publik.

Dirjen Teguh bersama jajaran juga meninjau pelayanan di Mal Pelayanan Publik (MPP) serta berdialog dengan warga yang sedang mengurus dokumen kependudukan.

“Kami bersyukur bisa hadir di Kupang, melihat sendiri pelayanan Dukcapil di sini tetap optimal meski fasilitas gedungnya terbatas dan sudah cukup tua. Warga yang kami temui juga mengaku puas dengan pelayanan yang cepat dan gratis,” tutur Dirjen Teguh.

Ia menyampaikan apresiasi kepada jajaran Dinas Dukcapil Kota Kupang atas kerja keras menjaga kualitas layanan, serta berkomitmen membantu memperkuat sarana dan prasarana pelayanan, termasuk pembenahan lingkungan kantor.

“Kami siap mendukung peningkatan fasilitas agar masyarakat semakin nyaman, serta mendorong agar Kota Kupang segera memaksimalkan penerapan Identitas Kependudukan Digital (IKD), yang ke depan akan terintegrasi dengan berbagai layanan publik,” jelasnya.

Dirjen Dukcapil juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga dokumen kependudukan dengan baik, dan segera melapor bila ada perubahan data seperti pindah domisili, pernikahan, kelahiran, atau kematian.

Ia mengajak masyarakat untuk mulai mengaktifkan IKD melalui aplikasi yang dapat diunduh di ponsel pintar.

“IKD akan menjadi tulang punggung sistem layanan digital nasional, terhubung dengan bansos, perbankan, dan berbagai verifikasi data penerima manfaat,” tambahnya.

Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menyampaikan terima kasih atas perhatian dan dukungan yang diberikan Dirjen Dukcapil kepada Kota Kupang. Kehadiran Dirjen bersama tim, menurutnya, membawa semangat baru bagi peningkatan layanan adminduk.

“Kami bersyukur mendapat kunjungan langsung dari Pak Dirjen. Bahkan kami langsung menerima bantuan 4.000 keping blanko KTP elektronik hari ini juga. Arahan beliau untuk mempercepat komunikasi tanpa birokrasi juga menjadi motivasi besar bagi kami,” ujar Wali Kota.

Turut hadir mendampingi Dirjen Dukcapil, Direktur Bina Aparatur Dr. Dra. Hj. Erliani Budi Lestari, M.Si.; Kasubdit Wilayah IV Bina Aparatur Ir. Diana Anggraeni, M.Si.; Kepala Dinas Dukcapil Provinsi NTT Johny Ericson Ataupah, S.P., M.M.; serta para kepala Dinas Dukcapil Kabupaten Kupang, TTS, dan Malaka. Dari Pemkot Kupang turut hadir Kepala Dinas Dukcapil Kota Kupang, Angela Tamo Inya, S.IP., M.M., beserta jajaran.

Kunjungan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk menghadirkan layanan adminduk yang semakin mudah, cepat, nyaman, dan adaptif terhadap kebutuhan digital masyarakat. ***




Wali Kota Kupang Hadiri Pisah Sambut Kapolresta: Apresiasi Dedikasi, Perkuat Sinergi untuk Kota yang Aman dan Tertib

 

Kupang,nwartapedia.com  — Pemerintah Kota Kupang bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menggelar acara pisah sambut Kapolresta Kupang Kota di Resto Suba Suka, Selasa (8/7).

Serah terima jabatan dilakukan dari Kombes Pol. Aldinan R.J.H. Manurung, S.H., S.I.K., M.Si., kepada penggantinya, Kombes Pol. Djoko Lestari, S.I.K., M.M.

Hadir pada kesempatan tersebut Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, didampingi Wakil Wali Kota, Serena Cosgrova Francis, S.Sos., M.Sc., Ketua DPRD Kota Kupang, pimpinan TNI-Polri, perwakilan Bank BRI dan Bank Mandiri, tokoh agama, pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Kupang, insan pers, serta tamu undangan lainnya.

Suasana acara berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan, menjadi ajang silaturahmi sekaligus penghormatan bagi pejabat lama dan sambutan untuk pejabat baru.

Dalam sambutannya, Wali Kota Kupang menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Kombes Pol. Aldinan Manurung atas dedikasi, pengabdian, dan sinergi yang telah terjalin selama masa tugasnya di Kota Kupang.

“Kami sangat terbantu dengan kepemimpinan beliau yang responsif, komunikatif, dan bersinergi dengan pemerintah daerah. Banyak program berjalan baik berkat dukungan dan kerja sama yang solid, khususnya dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan mendukung pembangunan,” ujar Wali Kota.

Kepada Kapolresta yang baru, Kombes Pol. Djoko Lestari, Wali Kota mengucapkan selamat datang serta menegaskan komitmen Pemerintah Kota untuk terus memperkuat kolaborasi.

“Selamat datang dan selamat bertugas di Kota Kupang. Kami berharap sinergi yang sudah terjalin bisa semakin ditingkatkan untuk mewujudkan Kota Kupang yang aman, tertib, bersih, dan semakin maju. Pemerintah Kota siap berkolaborasi dalam berbagai program strategis demi pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat,” tambahnya.

Acara ditutup dengan penyerahan cinderamata sebagai bentuk apresiasi kepada Kombes Pol. Aldinan R.J.H. Manurung atas pengabdiannya selama bertugas di Kota Kupang, serta penyambutan hangat kepada Kombes Pol. Djoko Lestari sebagai Kapolresta yang baru.

Pergantian kepemimpinan ini diharapkan membawa energi baru bagi Polresta Kupang Kota dalam menjalankan tugas, memperkuat sinergi lintas sektor, serta menciptakan suasana yang kondusif bagi masyarakat Kota Kupang. ***




Anwar Jaha dan Siti Ratna Maro Tunaikan Ibadah Haji, Gelar Syukuran Penuh Haru

 

Kupang,nwartapedia.com  — Kebahagiaan mendalam menyelimuti pasangan Anwar Jaha dan Siti Ratna Maro, dua Aparatur Sipil Negara (ASN) yang baru saja memasuki masa purnatugas dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Pemerintah Kota Kupang.

Setelah puluhan tahun mengabdi sebagai abdi negara, pasangan suami istri ini akhirnya mewujudkan impian lama mereka untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Anwar Jaha dan Siti Ratna Maro berangkat bersama rombongan jemaah haji Indonesia pada akhir Juni 2025. Perjalanan spiritual yang telah lama dinanti itu menjadi puncak sekaligus penutup manis perjalanan hidup dan karier mereka sebagai ASN. Pekan lalu, pada awal Juli, mereka kembali ke Kota Kupang dalam keadaan sehat dan selamat.

Sebagai ungkapan syukur atas kelancaran dan keselamatan selama menjalankan ibadah haji, pasangan ini menggelar acara doa syukur pada Rabu (9/7) sore di kediaman mereka di Kelurahan Maulafa, Kota Kupang.

Acara berlangsung hangat dengan dihadiri keluarga besar, kerabat dekat, dan sejumlah rekan kerja dari instansi tempat mereka mengabdi.

“Sebuah anugerah luar biasa. Kami bersyukur bisa menunaikan rukun Islam kelima ini dalam keadaan sehat dan lancar,” ujar Anwar Jaha dalam sambutannya yang penuh haru.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih atas doa dan dukungan keluarga besar serta kolega yang selalu memberi semangat sejak persiapan keberangkatan hingga kepulangan.

“Segala puji bagi Tuhan. Kami bisa menjalankan ibadah haji dengan damai, penuh hikmat, dan semua urusan dilancarkan. Rasa syukur ini tak cukup diungkapkan dengan kata-kata. Terima kasih atas doa dan perhatian semua saudara-saudari, khususnya keluarga besar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang yang selalu mendukung,” tambahnya.

Siti Ratna Maro, yang juga menyampaikan testimoni singkat, mengungkapkan bahwa ibadah haji membawa pengalaman batin yang mendalam dan memperkuat iman mereka berdua.

Ia berharap amalan yang mereka jalankan diterima dan menjadi bekal untuk kehidupan yang lebih baik ke depan.

Suasana kekeluargaan dan syukur terasa kental selama acara yang turut diisi dengan doa bersama dan santap sederhana sebagai bentuk kebersamaan.

Banyak tamu undangan yang menyampaikan ucapan selamat serta doa agar keduanya menjadi haji dan hajjah yang mabrur.

Momentum ini menjadi penutup indah dari perjalanan panjang pengabdian Anwar dan Siti sebagai ASN, sekaligus bukti bahwa dedikasi dan ketulusan dalam bekerja selalu membawa berkah yang tak ternilai. (goe)




Pengkhotbah Cilik Asal NTT, Jaden Lianto, Sampaikan Firman Tuhan di GBI Japan Tokyo

 

Tokyo,nwartapedia.com  — Pengkhotbah cilik berbakat asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Jaden Lianto, kembali menginspirasi banyak orang lewat pelayanan Firman Tuhan, kali ini di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Japan yang berlokasi di pusat kota Shibuya, Tokyo.

Didampingi oleh ayahnya, Bobby Lianto,  Ketua Umum KADIN NTT,  Jaden berbagi pesan rohani yang menyentuh hati para jemaat, khususnya anak-anak muda yang mendominasi wilayah tersebut.

Dalam kotbah singkatnya, Jaden yang baru berusia 12 tahun menyampaikan sharing Firman Tuhan dengan tema yang unik dan menggugah rasa ingin tahu: “100 – 1 = 0”.

“Semua orang tahu secara hitungan matematika bahwa 100 dikurangi 1 sama dengan 99. Namun, dalam hidup sering kali kita bertindak seolah-olah 100 dikurangi 1 menjadi 0, karena satu kesalahan membuat kita lupa akan seratus kebaikan,” jelas Jaden di hadapan jemaat.

Pesan ini ia sampaikan untuk mengingatkan semua yang hadir agar tidak mudah melupakan kebaikan demi kebaikan yang Tuhan maupun orang lain telah berikan, hanya karena satu peristiwa buruk.

Lebih jauh, Jaden mengajak jemaat untuk selalu bersyukur dalam segala keadaan.

“Firman Tuhan berkata: bersyukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Tuhan. Bahkan masalah yang kita alami kadang adalah bagian dari rencana-Nya yang lebih besar. Di balik masalah selalu ada berkat Tuhan yang menanti,” ujarnya.

Dalam khotbah yang disampaikan dengan penuh semangat, Jaden juga mengajak jemaat untuk selalu menghitung berkat Tuhan.

“Mari kita hitung berkat Tuhan, supaya kita ingat kebaikan-Nya dan tetap punya hati yang bersyukur. Mari kita semakin dewasa di dalam Tuhan,” tambahnya.

Keberanian dan kematangan rohani Jaden dalam menyampaikan Firman Tuhan menuai kekaguman jemaat, terutama kaum muda di Jepang. Khotbahnya disampaikan dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan oleh sang ayah.

Sebagai informasi, Jaden adalah putra pertama dari pasangan Bobby Lianto dan Yuliana Nesya Angelina. Ia mulai berkhotbah sejak usia 9 tahun dan telah melayani di berbagai gereja di Indonesia maupun mancanegara, termasuk Australia, Singapura, Korea, dan kini Jepang. Tahun depan, Jaden dijadwalkan melayani di Los Angeles, Amerika Serikat.

Lewat pelayanannya, Jaden membuktikan bahwa usia muda bukanlah halangan untuk menjadi alat Tuhan.

“Tuhan bisa memakai siapa saja  muda ataupun tua untuk menyampaikan pesan-Nya bagi dunia,” tuturnya di akhir sharingnya.

Kehadiran Jaden di Jepang tidak hanya memberi warna baru bagi jemaat GBI Japan di Shibuya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa setiap orang memiliki potensi untuk menjadi berkat bagi sesama. ***




Kesenjangan Gaji PNS dan PPPK Disorot, Pengamat: Pemerintah Harus Tinjau Ulang Skema Penggajian ASN

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Isu ketimpangan gaji antara Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) kembali menjadi sorotan publik.

Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah PNS di berbagai daerah menyuarakan kegelisahan atas perbedaan signifikan dalam besaran penghasilan, di mana PPPK disebut menerima gaji lebih tinggi meskipun memiliki jabatan dan beban kerja yang setara.

Saat ini, penggajian PNS mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 5 Tahun 2024, sedangkan PPPK mengikuti skema yang diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 11 Tahun 2024. Perbedaan dasar hukum ini menyebabkan disparitas yang cukup mencolok, terutama dalam komponen tunjangan dan potongan pensiun.

PNS Keluhkan Ketimpangan

Seorang guru PNS di Kabupaten Kupang, yang enggan disebutkan namanya, mengaku merasa kecewa dengan kondisi tersebut.

“Kami yang sudah puluhan tahun mengabdi malah mendapat penghasilan lebih rendah dari teman-teman PPPK yang baru masuk. Ini menimbulkan rasa tidak adil dan memengaruhi semangat kerja kami,” ujarnya.

Hal senada disampaikan seorang staf teknis di lingkungan Pemkot Kupang. Ia menyebut tunjangan PPPK dalam beberapa kasus bisa mencapai dua kali lipat dari yang diterima oleh PNS di jabatan yang sama.

“Kami bertanya-tanya, apakah ini bentuk penghargaan atas loyalitas atau justru sebaliknya?” katanya.

Faktor Perbedaan: Potongan Pensiun dan Skema Tunjangan

Pemerhati ekonomi dan pemerintahan Kota Kupang, Oskar Manehat, SE, MM, saat dimintai tanggapannya menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang menyebabkan kesenjangan adalah tidak adanya potongan dana pensiun pada gaji PPPK.

“PNS mendapat gaji yang sudah dipotong untuk iuran pensiun, sementara PPPK tidak. Ini membuat nominal gaji bersih PPPK terlihat lebih besar, meskipun pada kenyataannya mereka tidak mendapatkan jaminan pensiun seperti PNS,” terangnya Selasa (8/7)

Oskar menyarankan pemerintah perlu melakukan peninjauan ulang terhadap skema penggajian ASN agar lebih adil.
“Perlu ada penyamaan struktur golongan, termasuk pengaturan soal tunjangan dan potongan pensiun. Kalau tidak, kondisi ini akan memicu friksi horizontal di lingkungan birokrasi,” tegasnya.

Mendesak Revisi dan Harmonisasi Regulasi

Lebih lanjut, Oskar Manehat mendorong agar pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian PAN-RB dan Kementerian Keuangan, segera duduk bersama menyusun revisi sistem penggajian yang harmonis antara PNS dan PPPK.

“Pemerintah harus hadir dan memastikan tidak ada kesenjangan mencolok antar status kepegawaian. ASN sebagai tulang punggung pelayanan publik mesti diperlakukan secara adil dan proporsional,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Kementerian PAN-RB mengenai desakan revisi skema gaji ASN ini.(goe)




Pikiran Adalah Magnet: Ketika Iman, Psikologi, dan Semesta Berjumpa

Oleh: Asbin Selten Umbu Deta

 

Kupang,nwartapedia.com  – Pernahkah Anda merenung mengapa hidup kita kadang dipenuhi kejadian-kejadian yang terasa “kita pikirkan sebelumnya”? Atau mengapa nasihat seperti “jangan berpikir negatif, nanti kejadian!” terdengar tidak lagi sekadar sugesti, melainkan semacam hukum yang tak tertulis?

Sebagian orang menyebutnya sebagai Law of Attraction atau Hukum Tarik Menarik. Sebuah gagasan bahwa apa yang kita pikirkan secara intens akan “menarik” realitas yang sesuai.

Namun, benarkah semesta bekerja seperti itu? Dan lebih jauh, adakah dasar teologis dan ilmiahnya?

Daya Pikiran: Antara Harapan dan Realitas

Konsep bahwa pikiran adalah doa telah lama menjadi bagian dari khazanah spiritual. Dalam The Secret, Rhonda Byrne menyebut bahwa “Setiap pikiran adalah energi yang memancar dan akan kembali pada pemiliknya.” Gagasan ini mendapat sambutan luas dalam dunia motivasi, namun tak jarang juga dikritik karena dianggap mengabaikan realitas hidup yang kompleks.

Dalam konteks akademik, psikologi kognitif dan ilmu saraf modern justru memberikan pembenaran ilmiah terhadap kekuatan pikiran. Otak manusia memiliki neuroplastisitas kemampuan untuk membentuk ulang jalur-jalur saraf berdasarkan pola pikir dan pengalaman berulang (Tang et al., 2015).

Artinya, apa yang terus kita pikirkan akan membentuk bagaimana kita merasakan dunia, bertindak, dan akhirnya menentukan hasil hidup kita.
Lebih lanjut, teori self-efficacy dari Albert Bandura menjelaskan bahwa kepercayaan terhadap kemampuan diri adalah kunci keberhasilan (Maddux & Kleiman, 2016).

Ketika seseorang percaya bahwa ia mampu, ia akan bertindak lebih tekun dan tidak mudah menyerah, yang pada akhirnya meningkatkan peluang kesuksesan.

Iman yang Menggerakkan Tindakan
Di sisi lain, iman Kristen tidak pernah memisahkan antara pikiran, iman, dan tindakan. Dalam Matius 21:22 Yesus bersabda, “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.” Ini bukan ajakan untuk berangan-angan, tetapi seruan untuk memiliki keyakinan aktif: meminta, percaya, lalu bersiap menerima.

Markus 11:24 menguatkan, “Percayalah bahwa kamu telah menerimanya.” Ini adalah bentuk iman yang visual, sebuah gambaran batin bahwa kita hidup dalam pengharapan yang sudah digenapi, meskipun secara lahiriah belum terjadi.

Dalam psikologi, pendekatan ini dikenal sebagai mental rehearsal, dan terbukti meningkatkan kesiapan emosional serta performa tindakan.

Namun, iman dalam kekristenan bukanlah afirmasi kosong atau kepercayaan pada “energi semesta” tanpa relasi personal. Iman Kristen berakar pada Allah yang Mahahadir dan Mahakasih.

Doa bukan hanya memproyeksikan keinginan, tetapi menjalin komunikasi intim dengan Sang Pencipta.

Langkah Praktis: Meminta, Percaya, Menerima

Untuk menghidupi iman dan pola pikir positif secara menyeluruh, ada tiga langkah reflektif yang dapat dilakukan secara konsisten:

1. Meminta dengan Jelas dan Spesifik
Banyak orang tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan karena mereka sendiri tidak tahu secara pasti apa yang mereka mau. Mintalah dengan kejelasan, baik melalui doa maupun perencanaan hidup. Dalam dunia psikologi, ini sejalan dengan goal setting theory tujuan yang spesifik dan terukur lebih mungkin tercapai.

2. Percaya Sepenuh Hati
Keyakinan adalah bahan bakar yang menghidupkan tujuan. Iman yang ragu-ragu melemahkan tindakan. Paulus menulis bahwa “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1). Dalam sains, visualisasi positif bahkan digunakan dalam terapi perilaku kognitif untuk mengatasi kecemasan dan trauma.

3. Menerima dengan Syukur
Banyak orang tidak siap menerima karena hatinya tertutup oleh keluhan dan ketidakpercayaan. Padahal, syukur adalah cara batin menyambut kebaikan, bahkan sebelum ia datang sepenuhnya. Penelitian menunjukkan bahwa praktik bersyukur dapat meningkatkan kesejahteraan mental dan relasi sosial (Emmons & Mishra, 2011; McCullough et al., 2016).

Refleksi Teologis: Bukan Sekadar Energi, Melainkan Relasi

Gagasan bahwa “semesta akan mengembalikan” bisa menjadi pintu masuk yang menarik, tetapi harus diluruskan dalam terang iman Kristen. Tuhan bukan sekadar “energi pemancar”, melainkan Pribadi yang menjawab doa, membentuk karakter, dan membimbing dalam kasih.

Paulus tidak menulis bahwa “semesta akan memberikan segala sesuatu”, tetapi “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan” (Roma 8:28). Di sinilah letak perbedaan mendasar: iman Kristen bukan hanya soal hasil, tetapi relasi, proses, dan ketaatan dalam kasih.

Penutup: Apa yang Kita Tanam
Pikiran memang adalah magnet bukan karena semesta tunduk pada kita, tetapi karena Tuhan memberi kita kapasitas untuk membentuk hidup melalui pikiran, iman, dan tindakan.

Hukum tarik menarik bukan sekadar prinsip kosmik, melainkan cara Tuhan mengajar kita untuk hidup dengan penuh pengharapan, keberanian, dan rasa syukur.

Ketika kita meminta dengan jelas, percaya dengan iman, dan menerima dengan syukur, kita sedang membuka diri untuk bekerja sama dengan Tuhan dalam membentuk masa depan yang lebih baik.

Pikiran bukan sekadar gema kesadaran, tetapi nyanyian harapan yang terdengar hingga ke Surga.

 

Daftar Referensi :
• Tang, Y. Y., Hölzel, B. K., & Posner, M. I. (2015). The neuroscience of mindfulness meditation. Nature Reviews Neuroscience.
• Maddux, J. E., & Kleiman, E. M. (2016). Self-efficacy theory.
• Emmons, R. A., & Mishra, A. (2011). Gratitude and well-being. Handbook of Positive Psychology.
• McCullough, M. E., et al. (2016). Gratitude and positive outcomes.
• Byrne, R. (2006). The Secret.
• Willard, D. (2014). Renovation of the Heart.




Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Kupang Hadiri Uji Petik Sosialisasi Dashboard SDGs Nasional

 

Kupang,nwartapedia.com  — Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Drs. Ambo, M.Si, menghadiri kegiatan uji petik sosialisasi Dashboard SDGs Nasional yang digelar di ruang rapat Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (8/7). Ia didampingi oleh salah satu staf, Gregorius Takene, SE.

Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan sekaligus memastikan kesiapan pemanfaatan Dashboard SDGs Nasional, sebuah sistem informasi berbasis web yang menyajikan data dan informasi pelaksanaan Sustainable Development Goals (SDGs) di tingkat nasional.

Dashboard ini diharapkan menjadi alat penting bagi pemerintah daerah, pemangku kepentingan, hingga masyarakat untuk memantau dan mengevaluasi capaian pembangunan berkelanjutan, termasuk di wilayah NTT.

Dalam kesempatan tersebut, Drs. Ambo menegaskan pentingnya keterlibatan sektor pendidikan dalam mendukung pencapaian indikator-indikator SDGs, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan berkualitas dan inklusif.

“Kehadiran kami merupakan bentuk komitmen untuk terus menyelaraskan kebijakan pendidikan dengan target pembangunan berkelanjutan, sesuai dengan semangat SDGs,” ujar Drs. Ambo.

Ia juga berharap sosialisasi ini dapat memperkuat sinergi lintas sektor dan mendorong percepatan capaian SDGs di daerah, termasuk melalui program-program pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat koordinasi dan kolaborasi dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif di NTT. (goe)