Kunjungi BPS NTT, Rachmat Pambudy Tekankan Pentingnya Data untuk Kebijakan Pembangunan

Kupang, nwartapedia.com — Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy bersama Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengunjungi Kantor BPS Provinsi NTT, Senin (14/9/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Rachmat menekankan pentingnya pemanfaatan data BPS sebagai dasar pengambilan kebijakan dan arah pembangunan.

Menurut Rachmat, BPS tidak hanya bertugas mencatat kondisi daerah, tetapi juga menyediakan data yang dapat dimaknai untuk menentukan kebijakan secara tepat.

Ia mengibaratkan BPS sebagai “meteran pembangunan” yang digunakan untuk mengukur capaian dan mengevaluasi pembangunan.

Rachmat juga menilai NTT memiliki peluang pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produktivitas pertanian.

Ia mencontohkan produktivitas jagung dari sekitar 2,6 ton menjadi 4 ton per hektare yang dinilai dapat memberikan dampak besar jika dilakukan secara luas.

Selain pertanian, Rachmat mendorong hilirisasi komoditas lokal seperti ikan, daging, cokelat dan hasil pertanian untuk meningkatkan nilai tambah masyarakat.

Untuk pengendalian inflasi, ia mendorong pemanfaatan data BPS dalam menentukan intervensi, termasuk penguatan koperasi nelayan, pabrik es dan cold storage untuk menjaga pasokan ikan.

Sementara itu, Gubernur Melki mengapresiasi peran BPS sebagai mitra pemerintah daerah dalam menentukan prioritas pembangunan.

“Data BPS menjadi penentu karena kami masih mengalokasikan sumber daya yang terbatas ini agar mampu menyentuh bidang-bidang pembangunan yang paling strategis,” kata Melki.

Dalam pertemuan tersebut, Kepala BPS NTT Matamira B. Kale memaparkan sejumlah indikator pembangunan.

Sektor pertanian masih menjadi salah satu kekuatan utama NTT dengan kontribusi sekitar 28–30 persen terhadap PDRB.

Sementara tingkat kemiskinan NTT berada pada angka 17,52 persen dan terus menunjukkan tren penurunan.

Pertemuan tersebut memperkuat komitmen pemerintah pusat dan daerah untuk menjadikan data BPS sebagai dasar pembangunan NTT yang lebih tepat sasaran dan terukur. **




Kepala BKN Puji Pemkot Kupang, Terbaik dalam Tata Kelola ASN

Kupang, nwartapedia.com — Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN), Prof. Dr. Zudan Arif Fakrulloh, S.H., M.H., memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Kupang atas keberhasilannya menjadi daerah terbaik dalam implementasi kebijakan kepegawaian di wilayah NTT, NTB dan Bali.

Apresiasi tersebut disampaikan Zudan saat memimpin Apel Kekuatan Gabungan ASN Pemerintah Kota Kupang di Lapangan Kantor Wali Kota Kupang, Senin (14/9/2026).

Di hadapan Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo dan jajaran ASN, Zudan menyebut Kota Kupang sebagai daerah nomor satu dari 44 kabupaten/kota di tiga wilayah tersebut.

Kota Kupang meraih penghargaan Adhi Manawa Nugraha Utama atas komitmen dan implementasi kebijakan kepegawaian yang dinilai mendukung pengembangan karier ASN.

“BKN memberikan penghargaan nomor satu, terbaik dari 44 kabupaten/kota di wilayah NTT, NTB dan Bali,” kata Zudan.

Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama Wali Kota, BKPSDM, kepala perangkat daerah dan seluruh ASN di lingkungan Pemerintah Kota Kupang.

Zudan menyoroti sejumlah kebijakan yang telah diterapkan, antara lain kemudahan pencantuman gelar akademik, penerapan e-kinerja harian serta kenaikan pangkat secara periodik setiap bulan.

Ia meminta capaian tersebut terus dipertahankan dan tidak membuat jajaran Pemkot Kupang berpuas diri.

“Jangan kasih kendor. Gas pol, rem tetap pakem,” tegas Zudan.

Ia juga mendorong ASN Kota Kupang memperkuat digitalisasi, meningkatkan produktivitas dan memastikan pekerjaan serta target pelayanan publik dapat diselesaikan tepat waktu.

Menurut Zudan, keberhasilan tata kelola ASN harus bermuara pada pelayanan masyarakat yang lebih cepat, mudah dan fleksibel.

Sementara itu, Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo mengatakan penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi Pemkot Kupang untuk terus memperbaiki tata kelola pemerintahan.

Christian menegaskan, penghargaan Adhi Manawa Nugraha Utama bukan sekadar prestasi, tetapi menjadi tanggung jawab untuk memastikan birokrasi yang semakin tertata mampu menghadirkan pelayanan publik yang semakin baik bagi masyarakat.

Apel tersebut turut dihadiri Sekda Kota Kupang Jeffry Edward Pelt, para Staf Ahli Wali Kota, Asisten Sekda, kepala perangkat daerah, camat, lurah, pimpinan Perumda serta seluruh ASN Pemerintah Kota Kupang. **




KKBM Kupang Bantu Korban Gempa Palue, Salurkan Rp22 Juta

Kupang, nwartapedia.com — Komunitas Kita Bersaudara Maumere (KKBM) Kupang menunjukkan kepedulian terhadap warga Kabupaten Sikka yang terdampak bencana gempa bumi Flores pada 15 Agustus 2026, khususnya masyarakat di Pulau Palue.

KKBM Kupang menyalurkan bantuan uang tunai sebesar Rp22 juta kepada umat terdampak melalui dua paroki, yakni Paroki Ave Maria Bintang Laut Uwa dan Paroki Sta. Familia Lei, Keuskupan Maumere.

Bantuan tersebut diserahkan oleh Wakil Ketua KKBM Kupang, Willem Enga, kepada pastor paroki dan perwakilan umat pada 4 September 2026.

Masing-masing paroki menerima bantuan sebesar Rp11 juta. Bantuan tersebut kemudian dipercayakan kepada pastor paroki untuk disalurkan kepada umat yang benar-benar membutuhkan berdasarkan data korban yang telah dimiliki masing-masing paroki.

Di Paroki Ave Maria Bintang Laut Uwa, bantuan diterima Pastor Rekan Romo Didit dan perwakilan umat yang mewakili Pastor Paroki Romo Rinto. Sementara di Paroki Sta. Familia Lei, bantuan diterima Pastor Paroki Pater Remi bersama perwakilan umat.

Romo Didit menyampaikan terima kasih kepada KKBM Kupang dan diaspora Maumere yang telah memberikan perhatian kepada umat terdampak gempa.

“Saya Romo Didit dan seluruh umat mendoakan semoga Tuhan memberkati dan memberikan rahmat serta kekuatan bagi bapa mama yang telah memberi perhatian dari Kupang. Terima kasih,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Pater Remi. Ia mengapresiasi kepedulian warga Maumere di Kota Kupang terhadap masyarakat Palue yang sedang menghadapi dampak bencana.

“Kiranya ini dapat meringankan beban umat kami. Mbola So untuk keluarga besar Maumere Kupang. Tuhan memberkati,” katanya.

Willem Enga mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian warga diaspora Maumere, Kabupaten Sikka, di Kota Kupang terhadap saudara-saudara di kampung halaman.

Dana tersebut dihimpun secara spontan melalui anggota KKBM Kupang, kelompok arisan, kas organisasi, donasi orang tua, para donatur asal Maumere di Kota Kupang serta sejumlah warga Maumere yang berada di luar NTT.

Total dana yang terkumpul mencapai Rp24.850.000. Dari jumlah tersebut, Rp22 juta disalurkan kepada korban gempa, sementara Rp2,85 juta digunakan untuk kebutuhan transportasi, akomodasi dan publikasi.

Menurut Willem, awalnya bantuan direncanakan diberikan langsung kepada sekitar 100 kepala keluarga terdampak. Namun karena lokasi warga tersebar dan berjauhan, penyaluran dipercayakan kepada pastor paroki agar lebih tepat sasaran dan tidak menimbulkan kecemburuan di antara umat.

Ketua KKBM Kupang, Agustinus Bajo, menyampaikan belasungkawa kepada seluruh keluarga yang terdampak gempa bumi Flores.

Ia berharap bantuan tersebut dapat sedikit meringankan beban warga sekaligus menjadi bentuk solidaritas warga Kabupaten Sikka di Kota Kupang terhadap masyarakat di kampung halaman.

KKBM Kupang juga masih membuka donasi tahap II yang akan difokuskan untuk membantu mahasiswa asal Kabupaten Sikka di Kota Kupang yang orang tuanya turut terdampak bencana. **




DLHK Kota Kupang Resmi Buka Bank Sampah Kuanino, Warga Didorong Raih Manfaat Ekonomi

Kupang, nwartapedia.com — Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Kupang mengapresiasi pembentukan Bank Sampah Kuanino sebagai salah satu langkah nyata dalam mengurangi sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Kegiatan pembentukan Bank Sampah Kuanino secara resmi dibuka oleh Sekretaris DLHK Kota Kupang, Achmad Likur,, S.Sos, MM yang mewakili Kepala DLHK Kota Kupang.

Pembukaan tersebut berlangsung dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat kerja sama Program Studi Arsitektur Fakultas Sains dan Teknik (FST) Universitas Nusa Cendana (Undana) dengan LPM Kelurahan Kuanino di Kantor Lurah Kuanino, Sabtu (12/9/2026).

Dalam sambutannya, Achmad Likur menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam upaya pengelolaan sampah di Kota Kupang.

Ia menegaskan bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat mencemari lingkungan dan berpotensi menimbulkan berbagai persoalan kesehatan.

“Terima kasih kepada semua yang telah meluangkan waktu untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan sampah di Kota Kupang. Sampah adalah tanggung jawab kita bersama,” ujar Achmad.

Achmad menjelaskan, sampah yang dikelola dengan baik tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga dapat menghasilkan keuntungan secara finansial.

Melalui pemilahan, sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dikumpulkan dan disetorkan ke bank sampah.

Menurutnya, aktivitas tersebut menciptakan sebuah siklus ekonomi di masyarakat. Uang yang diperoleh dari hasil pengelolaan sampah dapat digunakan kembali untuk memenuhi berbagai kebutuhan keluarga.

“Dari sampah akan ada siklus ekonomi. Sampah yang memiliki nilai ekonomi bisa menghasilkan keuntungan finansial bagi masyarakat,” jelasnya.

Ia menilai keberadaan bank sampah juga memiliki fungsi edukasi yang penting karena mengajarkan masyarakat untuk memilah sampah sekaligus memahami nilai ekonomi dari barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

Achmad mengatakan, pembentukan Bank Sampah Kuanino diharapkan dapat membantu pemerintah dalam mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA.

Sampah yang masih bernilai ekonomi, seperti botol kemasan air mineral dan jenis sampah anorganik lainnya, sebaiknya dipilah dan disalurkan melalui bank sampah.

“Ketika kita melakukan pemilahan sampah dan sampah yang masih bernilai produktif atau bernilai ekonomi ditempatkan pada tempat resmi seperti bank sampah, itu akan mendatangkan keuntungan finansial,” katanya.

Selain memberikan manfaat ekonomi, pemilahan sampah juga dapat menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat dan nyaman.

Achmad berharap langkah yang dilakukan Kelurahan Kuanino dapat menjadi contoh bagi kelurahan lainnya di Kota Kupang.

Menurutnya, Kuanino memiliki jumlah penduduk yang cukup padat sehingga membutuhkan pengelolaan lingkungan yang serius dan berkelanjutan.

Ia mendorong setiap kelurahan di Kota Kupang untuk melakukan terobosan serupa dengan membangun bank sampah di wilayah masing-masing.

“Harapan kami semua kelurahan melakukan terobosan yang sama, yaitu membuat bank sampah kelurahan, sehingga dapat membantu pemerintah Kota Kupang dalam mengurangi sampah yang terbuang percuma ke TPA,” ujarnya.

Achmad juga mengapresiasi kerja sama antara Kelurahan Kuanino dengan Undana dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut.

Menurutnya, pemerintah tidak dapat menyelesaikan persoalan lingkungan sendiri. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat serta berbagai pihak lainnya.

“Pemerintah membutuhkan sinergitas dan kolaborasi. Tanpa sinergitas dari berbagai pihak, pembangunan tidak akan berjalan maksimal,” katanya.

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah kelurahan dan Undana dapat terus berlanjut, khususnya dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pemilahan dan pengelolaan sampah.

Achmad kemudian secara resmi membuka kegiatan pembentukan Bank Sampah Kelurahan Kuanino.

“Dengan dukungan bapak dan ibu sekalian, kegiatan pembentukan Bank Sampah Kelurahan Kuanino saya buka secara resmi,” pungkasnya. (MI)




Kuanino Bangun Gerakan Pilah Sampah, Setoran Warga Dicatat Jadi Tabungan

Kupang, nwartapedia.com — Kelurahan Kuanino, Kota Kupang, mulai membangun gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan mendorong warga memilah sampah sejak dari rumah.

Gerakan tersebut diwujudkan melalui pengembangan Bank Sampah Kuanino yang akan menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyetorkan sampah yang telah dipilah sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi.

Lurah Kuanino, Sem Tse, S.Pi, mengatakan pengelolaan sampah menjadi salah satu perhatian utama pemerintah kelurahan dalam beberapa bulan ke depan.

Pernyataan itu disampaikan Sem Tse usai kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang digelar melalui kerja sama Program Studi Arsitektur Fakultas Sains dan Teknik (FST) Universitas Nusa Cendana (Undana) dengan LPM Kelurahan Kuanino di Kantor Lurah Kuanino, Sabtu (12/9/2026).

Kegiatan tersebut mengusung tema “Undana Berdampak untuk Provinsi NTT: Mewujudkan World Class-Locally Relevant University melalui Kolaborasi Menuju Pembangunan Berdampak Berkelanjutan.”

Sem Tse mengatakan, kebersihan Kuanino merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah kelurahan, RT, RW dan masyarakat perlu memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan sebagai rumah bersama.

Menurutnya, Kuanino merupakan bagian dari kawasan penting di Kota Kupang sehingga kondisi lingkungannya turut mencerminkan wajah kota.

“Ini rumah bersama kita. Tanggung jawab untuk merawatnya bukan hanya pemerintah kelurahan, tetapi juga RT, RW dan seluruh masyarakat,” kata Sem Tse.

Sem Tse menjelaskan, pembentukan Bank Sampah Kuanino tidak hanya sebatas kegiatan seremonial. Pihak kelurahan telah membangun kesepakatan agar kegiatan pengelolaan sampah dapat dilakukan secara rutin.

Rencananya, kegiatan penimbangan dan pengumpulan sampah akan dilakukan setiap hari Sabtu.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat akan membawa sampah yang sudah dipilah dari rumah untuk ditimbang. Sampah yang disetorkan kemudian dicatat berdasarkan nilai rupiahnya.

Kelurahan Kuanino juga telah menerima timbangan sampah dari Undana sebagai salah satu dukungan untuk menjalankan kegiatan tersebut.

“Kegiatan ini tidak selesai hari ini. Kami akan terus melanjutkannya. Setiap hari Sabtu akan dilakukan kegiatan pengembangan bank sampah,” ujarnya.

Sem Tse mengajak warga mulai mengubah kebiasaan dalam membuang sampah.

Ia meminta masyarakat tidak membuang sampah di jalan, halaman orang lain maupun lahan kosong.

Sebaliknya, sampah harus dikumpulkan dan dipilah dari rumah. Sampah plastik, misalnya, dapat dipisahkan dan dimasukkan ke dalam karung sebelum disetorkan.

“Jangan membuang sampah sembarangan. Pilah dengan baik, terutama sampah plastik, kemudian disimpan dengan rapi,” tegasnya.

Menurut Sem Tse, sistem Bank Sampah Kuanino nantinya memberikan manfaat ganda. Selain membantu mengurangi sampah yang dibuang sembarangan, masyarakat juga dapat memperoleh nilai ekonomi dari sampah yang mereka kumpulkan.

Setiap setoran akan ditimbang dan dicatat sehingga nasabah mengetahui berapa nilai rupiah yang diperoleh dari sampah tersebut.

Sem Tse menilai perubahan perilaku masyarakat harus dimulai dari lingkungan keluarga.

Karena itu, pihak kelurahan akan terus menyampaikan edukasi kepada warga dalam berbagai kesempatan, termasuk saat kegiatan kemasyarakatan.

Ia berharap masyarakat tidak melihat sampah hanya sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai bagian dari persoalan lingkungan yang harus dikelola bersama.

“Kalau kita mulai dari rumah, kemudian dilakukan bersama-sama, saya yakin pengelolaan sampah di Kuanino bisa menjadi lebih baik,” katanya.

Sem Tse juga menyampaikan apresiasi kepada Undana dan LPM Kelurahan Kuanino atas dukungan dalam kegiatan tersebut.

Ia berharap kolaborasi yang telah dibangun dapat terus berlanjut sehingga program Bank Sampah Kuanino benar-benar memberikan dampak bagi kebersihan lingkungan dan masyarakat.

Dengan gerakan tersebut, Kelurahan Kuanino menargetkan kebiasaan memilah sampah dari rumah dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga, sekaligus membuka peluang agar sampah memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. (MI)




Gusmawati Ajak Warga Kuanino Ubah Sampah Menjadi Tabungan dan Nilai Ekonomi

Kupang, nwartapedia.com — Sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata dapat menjadi sumber manfaat ekonomi apabila dikelola dengan baik.

Hal tersebut disampaikan pendiri Bank Sampah Muara Abu Oesapa, Ir. Gusmawati, S.T., M.Eng., saat berbagi pengalaman kepada masyarakat di Kelurahan Kuanino, Kota Kupang.

Gusmawati menjadi pemateri dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang digelar melalui kerja sama Program Studi Arsitektur Fakultas Sains dan Teknik Universitas Nusa Cendana (Undana) dengan LPM Kelurahan Kuanino.

Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor Lurah Kuanino pada Sabtu (12/9/2026), dengan mengusung tema “Undana Berdampak untuk Provinsi NTT: Mewujudkan World Class-Locally Relevant University melalui Kolaborasi Menuju Pembangunan Berdampak Berkelanjutan.”

Dalam kesempatan tersebut, Gusmawati tidak hanya berbicara mengenai persoalan sampah, tetapi juga menceritakan perjalanan dan pengalaman membangun Bank Sampah Muara Abu.

Ia mengatakan, pengelolaan sampah harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga. Masyarakat perlu membiasakan diri memilah sampah sebelum dibuang sehingga sampah yang masih memiliki nilai dapat dimanfaatkan.

“Saya hadir berbagi bukan karena lebih pintar, tetapi karena memiliki pengalaman. Mudah-mudahan pengalaman ini dapat membantu bapak dan ibu dalam mengelola sampah dari rumah,” kata Gusmawati.

Menurutnya, sampah seperti botol plastik, kertas dan berbagai jenis sampah anorganik lainnya sebenarnya mempunyai nilai ekonomi. Dengan sistem bank sampah, masyarakat dapat mengumpulkan sampah, menimbang dan mencatatnya sebagai tabungan.

Konsep tersebut, kata Gusmawati, menjadi salah satu cara untuk mengubah pandangan masyarakat bahwa sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang.

“Jadi seperti tabungan. Sampah yang kita kumpulkan kemudian dinilai dengan uang,” jelasnya.

Dimulai dari Rumah

Gusmawati menceritakan, gagasan pengelolaan sampah yang dikembangkannya mulai lebih serius sejak 2023. Berbagai upaya dilakukan untuk mengolah sampah rumah tangga menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.

Selanjutnya, pada 2024 dibentuk Bank Sampah Muara Abu yang mulai beroperasi pada 23 November 2024.

Dalam perkembangannya, masyarakat yang menjadi nasabah membawa sampah dari rumah masing-masing. Sampah kemudian dipilah berdasarkan jenisnya, ditimbang dan dicatat dalam buku tabungan.

Menurut Gusmawati, mekanisme tersebut memberikan motivasi tersendiri kepada masyarakat karena sampah yang dikumpulkan dapat menghasilkan uang.

Ia juga mendorong agar bank sampah tidak hanya menjadi tempat menerima sampah dari nasabah, tetapi berkembang menjadi pusat edukasi dan pengolahan sampah.

Pengurus juga didorong memiliki keterampilan untuk mengolah sampah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Anak-Anak Perlu Dilibatkan

Gusmawati menilai keterlibatan anak-anak sangat penting dalam membangun kebiasaan memilah sampah sejak dini.

Menurutnya, anak-anak dapat diajarkan mengumpulkan sampah dari lingkungan rumah maupun sekolah, kemudian menyetorkannya ke bank sampah.

Cara tersebut sekaligus menjadi pembelajaran sederhana mengenai lingkungan, tanggung jawab dan pengelolaan keuangan.

Ia berharap kebiasaan tersebut dapat terus terbawa hingga anak-anak tumbuh dewasa.

Sampah Harus Dipilah dari Sumber

Dalam pemaparannya, Gusmawati juga menjelaskan pentingnya membedakan sampah organik dan anorganik.

Sampah organik seperti sisa makanan, daun dan rumput dapat dikelola kembali, sedangkan sampah anorganik seperti botol plastik, kertas dan berbagai kemasan dapat dipilah untuk dimanfaatkan atau memiliki nilai jual.

Selain memilah sampah, masyarakat juga diajak mengurangi penggunaan barang sekali pakai dan membiasakan menggunakan barang yang dapat dipakai berulang kali.

Gusmawati mengingatkan bahwa persoalan sampah bukan hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga memiliki dampak terhadap kehidupan masyarakat apabila tidak dikelola dengan baik.

Karena itu, menurut dia, gerakan pengelolaan sampah harus dilakukan bersama dan dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah.

Bank Sampah Berikan Manfaat Ekonomi

Gusmawati memaparkan, sejak Bank Sampah Muara Abu beroperasi pada 23 November 2024 hingga 5 September 2026, nilai tabungan nasabah yang terkumpul telah mencapai sekitar Rp22,7 juta. Jumlah nasabah juga telah mencapai sekitar 1.190 orang.

Capaian tersebut menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah secara terorganisasi dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus membantu menjaga lingkungan.

Ia berharap pengalaman Bank Sampah Muara Abu dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Kuanino untuk membangun gerakan serupa.

Menurutnya, perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Masyarakat dapat memulainya dengan memilah sampah di rumah, mengurangi sampah sekali pakai dan memanfaatkan sampah yang masih memiliki nilai.

“Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai sekarang dan jangan menunda-nunda,” pungkas Gusmawati. (MI)




Tak Miliki TPS, Kelurahan Naikolan Gandeng Sekolah dan Aktifkan Kembali Bank Sampah

Kupang, nwartapedia.com –  Pemerintah Kelurahan Naikolan, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, terus mencari solusi penanganan sampah meski hingga kini belum memiliki tempat pembuangan sementara (TPS).

Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggandeng sejumlah sekolah untuk memilah sampah sekaligus mengaktifkan kembali fasilitas pengelolaan sampah di kawasan Gunung Sinae.

Lurah Naikolan, Redem Hardi, mengatakan selama ini masyarakat memanfaatkan layanan truk pengangkut sampah yang rutin berkeliling setiap minggu hingga masuk ke gang-gang permukiman.

Warga cukup menyiapkan sampah di depan rumah masing-masing untuk kemudian diangkut petugas dengan memberikan kontribusi biaya pengangkutan.

“Karena Naikolan tidak ada tempat pembuangan sampah, masyarakat bekerja sama dengan Dinas Kebersihan. Sampah tetap di depan rumah masing-masing, kemudian mobil yang angkut,” jelas Redem pada Kamis (10/9/2026).

Selain layanan pengangkutan, pemerintah kelurahan berupaya mengaktifkan kembali fasilitas pengelolaan sampah di kawasan Gunung Sinae yang merupakan hasil kerja sama dua gereja.

Menurut Redem, fasilitas tersebut sudah lama tidak beroperasi secara optimal karena belum memiliki kepengurusan resmi.

Ia bersama LPM, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Karang Taruna, pegawai kelurahan, dan mahasiswa KKN telah meninjau lokasi sekaligus berdiskusi mengenai langkah pengaktifannya.

“Saya berinisiatif bahwa di masa saya ini, saya akan buatkan SK pengurus untuk bak sampah Gunung Sinae ini,” ujarnya.

Untuk mendukung pengelolaan sampah, Pemerintah Kelurahan Naikolan juga membangun kerja sama dengan sejumlah sekolah agar melakukan pemilahan sampah plastik sejak dari lingkungan pendidikan.

Sejumlah sekolah yang telah menyatakan kesiapan bekerja sama antara lain SD Oepura 1, SD Oepura 2, SD Naikoten, dan SMP Negeri 3.

“Saya janji untuk keliling di sekolah-sekolah. Saya bangun kerja sama, di mana sekolah memilah sampah plastik, ditampung, nanti yang jemput itu pengurus bak sampah,” kata Redem.

Sampah yang telah dipilah akan dikumpulkan di sekolah. Setelah jumlahnya mencukupi, pihak sekolah dapat menghubungi kelurahan atau pengurus untuk melakukan pengangkutan.

Pemerintah kelurahan juga menyiapkan motor sampah untuk mendukung pengangkutan apabila pengurus belum memiliki kendaraan sendiri.

Selain melibatkan sekolah, pemerintah kelurahan bersama LPM, Karang Taruna, dan masyarakat terus mendorong kegiatan kerja bakti di setiap RW.

Redem berharap kolaborasi tersebut mampu meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih teratur dan berkelanjutan di Kelurahan Naikolan. (MI)




Junaidin Mahasan Pertanyakan Realisasi Bantuan Rp200 Miliar untuk Korban Gempa Flores

Kupang, nwartapedia.com — Penyaluran bantuan bagi korban gempa Flores menjadi perhatian serius Anggota DPRD Fraksi PSI DPRD Provinsi NTT, Junaidin Mahasan.

Ia mendesak pemerintah daerah memastikan bantuan yang telah dialokasikan benar-benar segera diterima masyarakat terdampak.

Junaidin menyoroti bantuan senilai Rp200 miliar yang disebut telah disalurkan pemerintah pusat untuk penanganan dampak gempa Flores.

Dana tersebut dikabarkan dialokasikan sekitar Rp20 miliar untuk masing-masing kabupaten terdampak.

Namun, menurut Junaidin, kondisi di lapangan masih menunjukkan adanya warga yang membutuhkan bantuan dasar.

Ia mengaku masih menerima laporan dari masyarakat melalui telepon, WhatsApp dan pesan pribadi mengenai kebutuhan terpal, selimut, makanan, air minum serta kebutuhan mendesak lainnya.

“Ini keadaan darurat. Rakyat tidak bisa disuruh menunggu proses administrasi terlalu lama,” kata Junaidin kepada media ini pada Kamis (10/9/2026)

Karena itu, Ketua Fraksi PSI NTT tersebut meminta pemerintah tidak hanya menyampaikan bahwa bantuan telah tersedia atau disalurkan, tetapi juga menunjukkan data secara terbuka.

Junaidin meminta pemerintah menjelaskan secara rinci jumlah dana yang telah diterima setiap daerah, nilai yang sudah direalisasikan, jumlah bantuan yang telah diterima masyarakat serta peruntukan anggaran tersebut.

Selain anggaran, pemerintah juga diminta membuka data persediaan kebutuhan darurat, seperti terpal, tenda, selimut, makanan dan air minum.

“Wilayah mana yang sampai hari ini belum menerima bantuan juga harus dijelaskan,” tegasnya.

Menurut Junaidin, jika masih terdapat hambatan administrasi, proses pengadaan, verifikasi maupun pertanggungjawaban, pemerintah harus segera mencari solusi tanpa menghambat pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa penanganan bencana membutuhkan kecepatan karena masyarakat terdampak tidak dapat menunggu terlalu lama.

“Jangan sampai prosedur birokrasi lebih cepat mengurus dokumen daripada menyelamatkan kebutuhan dasar masyarakat,” ujarnya.

Sebagai Sekretaris Komisi II DPRD NTT, Junaidin menilai keberhasilan penanganan bencana tidak semata-mata dilihat dari besarnya anggaran yang telah diterima pemerintah.

Menurut dia, indikator terpenting adalah apakah masyarakat terdampak sudah mendapatkan perlindungan dan kebutuhan dasar secara layak.

“Dalam situasi bencana, ukuran keberhasilan pemerintah bukan berapa besar anggaran yang sudah masuk rekening pemerintah, tetapi berapa banyak rakyat yang sudah terlindungi, makan, minum dan tidur dengan layak,” katanya.

Junaidin menegaskan pemerintah harus memastikan setiap rupiah anggaran penanganan bencana bergerak cepat untuk menjawab kebutuhan masyarakat. **




Bobby Lianto Bawa KADIN NTT Peduli Pasien dan Anak Panti di Manggarai

Ruteng, nwartapedia.com — Kepedulian terhadap masyarakat terdampak bencana ditunjukkan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui aksi sosial di Kabupaten Manggarai, Rabu (9/9/2026).

Aksi tersebut dipimpin langsung Ketua Umum KADIN NTT Bobby Lianto bersama jajaran KADIN setelah menghadiri pelantikan Dewan Pengurus Kabupaten (DPK) KADIN Manggarai di Aula SpringHill Hotel Ruteng.

Dalam agenda pelantikan tersebut, Bony Romas kembali dipercaya memimpin KADIN Kabupaten Manggarai. Kegiatan itu dihadiri Pemerintah Kabupaten Manggarai yang diwakili Kepala DPMPTSP Robertus Syukur dan Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Paulus Peos.

Usai pelantikan, Bobby Lianto bersama rombongan langsung mendatangi Rumah Sakit Lapangan Manggarai di sekitar Bandara Frans Sales Lega.

Kunjungan ini menjadi perhatian tersendiri setelah rombongan melihat kondisi pasien yang menjalani perawatan di dalam tenda. Pasien harus menghadapi kondisi panas pada siang hari dan dingin pada malam hari.

Situasi tersebut juga dirasakan anak-anak yang sedang menjalani perawatan. Sejumlah keluarga bahkan harus mengipasi pasien secara manual untuk membantu mengurangi rasa panas.

Merespons kondisi tersebut, KADIN NTT memutuskan memberikan dukungan berupa empat unit AC standing untuk digunakan di ruang perawatan Rumah Sakit Lapangan Manggarai.

Bobby Lianto mengatakan, bantuan tersebut didukung salah satu perusahaan yang berada di Jakarta melalui KADIN NTT.

“Ada perusahaan di Jakarta yang siap mensupport lewat KADIN NTT,” ungkap Bobby.

Ia memastikan pihaknya akan berupaya mempercepat pengiriman bantuan tersebut ke Manggarai.

“Kami usahakan secepatnya dapat dikirim ke sini, semoga dapat membantu para pasien secepatnya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Keperawatan dan Kebidanan RSUD Ruteng, Ns. Jenny, S.Kep, yang mewakili Direktur RSUD Ruteng, menyampaikan terima kasih atas kepedulian KADIN NTT dan KADIN Manggarai.

Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang telah memberikan dukungan serta membantu menjawab kebutuhan di Rumah Sakit Lapangan Manggarai.

Kepedulian KADIN NTT tidak berhenti di Rumah Sakit Lapangan. Rombongan kemudian melanjutkan kunjungan ke Panti Asuhan Waepeca.

Di lokasi tersebut, KADIN NTT dan KADIN Manggarai menyerahkan bantuan kebutuhan pokok berupa beras, susu, minyak goreng dan sejumlah bahan kebutuhan lainnya.

Bantuan tersebut diterima langsung oleh pimpinan Panti Asuhan Waepeca, Pater Rafael.

Melalui rangkaian aksi tersebut, KADIN NTT menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya bergerak dalam bidang dunia usaha, tetapi juga mengambil bagian dalam membantu masyarakat yang membutuhkan, khususnya di tengah kondisi sulit yang dihadapi warga Manggarai.




Lurah Kolhua Dorong Pembentukan Bank Sampah, Warga Mulai Pilah Sampah dari Rumah

Kupang, nwartapedia.com  —  Pemerintah Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, terus mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui pemilahan sampah dari rumah dan pembentukan unit bank sampah.

Lurah Kolhua, Yanti Marista Benu, S.Th, mengatakan program tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya penataan lingkungan di wilayah Kelurahan Kolhua.

Menurutnya, saat ini pelayanan pengangkutan sampah di Kelurahan Kolhua dilakukan oleh dua petugas menggunakan kendaraan roda tiga pengangkut sampah.

Sampah yang dikumpulkan dari warga kemudian dibawa ke tempat pembuangan sementara (TPS). Selanjutnya, sampah di TPS diangkut menggunakan kontainer dan armada dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Kupang untuk dibawa ke tempat pemrosesan akhir (TPA).

“Biasanya dalam waktu satu atau dua hari sampah sudah diangkut dan dibawa ke TPA,” ujar Yanti kepada media ini, Rabu (9/9/2026).

Ia menjelaskan, sebelum dirinya menjabat sebagai lurah, warga Kelurahan Kolhua telah memiliki kesepakatan terkait iuran sampah sebesar Rp15 ribu.

Selain pelayanan pengangkutan, Kelurahan Kolhua kini mulai memperkuat upaya pengurangan sampah melalui pembentukan unit bank sampah.

Yanti mengatakan, rencana pembentukan bank sampah tersebut telah dibahas dalam musyawarah kelurahan dan akan dilakukan melalui kolaborasi dengan Kelurahan Belo, mengingat salah satu lokasi yang menjadi perhatian berada di wilayah Kelurahan Belo.

“Kami sudah turun ke lokasi sebanyak dua kali. Pada kunjungan kedua, warga sudah melakukan pemilahan sampah dan siap untuk ditimbang,” jelasnya.

Pihak Kelurahan Kolhua juga telah berkoordinasi dengan Bank Sampah Induk Mutiara Timur untuk mendukung proses pemilahan dan pengelolaan sampah di tingkat masyarakat.

Menurut Yanti, selama ini petugas di TPS juga telah melakukan pemilahan terhadap sampah yang masuk. Sampah yang masih memiliki nilai guna dipisahkan dan disimpan, sedangkan sampah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali baru dibuang ke dalam kontainer.

“Ketika sampah datang, langsung dipilah dan yang masih bisa dimanfaatkan disimpan. Jadi yang masuk ke kontainer adalah sampah yang sudah tidak bisa digunakan lagi,” katanya.

Yanti menambahkan, terdapat dua lokasi yang akan menjadi bagian dari kolaborasi Kelurahan Kolhua dan Kelurahan Belo, yakni satu lokasi di Kelurahan Belo dan satu lokasi di wilayah Kelurahan Kolhua.

Kelurahan Kolhua juga telah menyampaikan rencana tersebut kepada RT/RW dan akan mengundang Bank Sampah Induk Mutiara Timur untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat.

“Kami berharap tidak ada halangan sehingga program ini bisa berjalan. Warga yang sudah melakukan pemilahan juga sudah masuk dalam binaan Bank Sampah Induk Mutiara Timur di Maulafa,” ujarnya.

Program tersebut, lanjut Yanti, menjadi bagian dari 90 hari kerja Lurah Kolhua dalam mendorong penataan dan pengelolaan lingkungan.

Untuk fasilitas persampahan, Kelurahan Kolhua saat ini memiliki satu TPS. Selain itu, terdapat TPS di kawasan Perumahan Lopo Indah yang dilengkapi kontainer.

Yanti mengakui, lokasi tersebut tidak hanya dimanfaatkan oleh warga Kelurahan Kolhua, tetapi juga menjadi tempat pembuangan sampah dari wilayah kelurahan lain.

“Kalau sudah menumpuk, kami langsung menghubungi DLHK untuk datang mengangkut,” katanya.

Karena lokasi TPS tersebut berada di wilayah Kelurahan Belo, Yanti menegaskan pentingnya kolaborasi kedua kelurahan dalam menangani persoalan sampah.

Pihaknya juga telah meminta ruang untuk dimanfaatkan sebagai lokasi pemilahan sampah dan telah mendapatkan titik terang terkait lokasi tersebut.

Dengan pembentukan bank sampah dan pemilahan dari sumber, Kelurahan Kolhua berharap volume sampah yang dibuang ke kontainer dan dibawa ke TPA dapat ditekan, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan. (MI)