Pater Markus Ture,OCD Menyandang Gelar Doktor Teologi Pada IAKN

Kupang, mutiaratimur.com–  Pater Markus Ture, Biarawan Katolik dari komunitas Ordo Carmelitarum Discalceatorum (OCD) atau Ordo Karmel Tak Berkasut mengakhiri studinya di bidang Teologi pada  Institut Agama  Kristen Negeri (IAKN) Naimata,  Kupang dengan menyandang Doktor Teologi. 

Gelar doktor teologi ini akan diperoleh melalui ujian disertasi didepan para Profesor dan Doktor Penguji yang rencana akan digelar pada Hari Selasa, (27/7/2021) di Kampus IAKN.

Demikian rilis persiapan ujian Doktoral,  P. Markus Ture, OCD yang diperoleh tim media ini pada Senin (26/7/2021).

Digambarkannya, untuk menyandang gelar tersebut akan dilalui dengan presentasi hasil karya penelitian selama studi.  yang dilakukannya di kampung Bhela, Ladolima Utara, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Flores.

” Ya sesuai mekanisme proses studi formal untuk mencapai S3 atau gelar doktor tulisan disertasi wajib hukumnya dipertanggungjawabkan dalam ujian. Proses pertanggungjawaban disertasi akan kami lakukan dihadapan para guru besar melalui pesentasi hasil penelitian kualitatif dengan judul: KESATUAN DALAM FEDHI LEGI PERSPEKTIF INJIL YOHANES, ” ungkap Pater Markus dirilisnya.

Biarawan OCD Kupang itu menguraikan kajian disertasinya berdasarkan judul tersebut seperti berikut.

“Kami menggunakan kajian baru, yaitu antropologi eksegetis di bawah terang Injil Yohanes 17:20-23, untuk menganalisis Fedhi Legi, terkhusus pada tema kesatuan. Sebagaimana lazim dalam karya eksegese, peneliti menarik keluar makna tersembunyi dalamnya fedhi melalui berbagai tahapan analisis,” tulis beliau.

Dalam uraian analisis, Doktor Markus Ture memaparkan beberapa analisis karyanya itu.

“Ada  analisis konteks dan historis yang mengaplikasikan  pendekatan emik dalam antropologi. Ada analisis struktural teks, morfologis dan semantikal, gramatikal dan leksikal serta juga analisis symbol dan metafora,”ulasnya.

Menurut Pater Markus,  dengan jalan atau metodologi ini peneliti  memberi simpulan bahwa ada korelasi makna, kemiripan tema, sinonimitas simbol, kekayaan teknik ekspresi dan sangat banyak elemen menarik dalam doa Yesus yang terlihat dalam fedhi legi  mencerminkan pandangan teologi, antropologi dan kosmologi yang mendalam. Semakin difokuskan pada ananlisis tema kesatuan, peneliti menampilkan konklusi multi dimensi, sebagai eksplisitasi kedalaman nilai untuk diwariskan dan dikembangkan demi keharmonisan hidup umat manusia, baik lokal maupun global. 

Lebih jauh Pater Doktor Teologi asal Mundemi, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Flores itu menjelaskan, “Analisis atas ajektif numerikal ἓν (dari ἵνα πάντες ἓν ὦσιν) dalam konsep Yunani dan esa (dari kolo sa toko dan tali sa tebu) dalam pemahaman masyarakat adat Bhela serta seluruh analisis atas konsep dan simbolisasi verbal dan tata aksi dalam doa Yesus serta fedhi legi kini dideskripsikan dalam dimensi-dimensi. Ada 6 dimensi  hasil refleksinya sebagai peneliti atas  kajian atau analisa data dan fakta secara antropologi eksegetis yang berhubungan dengan persatuan dan kesatuan, seperti diekspresikan dalam fedhi legi dan doa Yesus.”

Dijelaskannya pula, dengan ini enam dimensi eksegetis sebagai metode penemuan makna atas konsep dalam fedhi dan doa Yesus mencapai sasarannya.

Aplikasi dimensi eksegetis dalam penggalian dan penemuan makna tutur, dan tindakan semakin berdaya guna atau efektif, ketika ruang refleksi budi mampu membangun dan menyusun kebaruan konsep di atas pilar fakta dan data-data.

Sebagai peneliti dari disertasinya Pater Markus merilis bagian berikut sebagai kebaruan konsep yang ditawarkannya dan implementasi refleksi atas doa Yesus dan fedhi legi.

Dalam konteks ini, Pater sebagai peneliti menggambarkan dimensi-dimensi itu sebagai berikut: 

Pertama, Dimensi Teologis. Dimensi Teologis di sini tidak dimaksudkan untuk membuktikan eksistensi Yang Ilahi, karena dengan memanjatkan doa kepadaNya, tampak jelas keyakinan akan eksistensi Yang Ilahi, baik oleh Yesus maupun masyarakat Bhela.

Dalam tataran diskursus teologi, kesatuan memiliki ciri khasnya bahwa  kesatuan itu berasal dari Allah, terjadi di dalam dan dengan Allah, bermodelkan pada Allah, dan merupakan  anugerah kepada manusia. Kesatuan itu menjadi kesaksian bagi keberlanjutan kehidupan komunitas.

Dijelaskan lebih lanjut, bahwa dalam fedhi legi, Eksistensi kesatuan ilahi sangat eviden dalam balutan metafora dan paralelisme membrorum fedhi legi yang mengindikasikan dimensi kesatuan ilahi sebagai Allah yang melingkupi. Ini nyata dalam ungkapan Dewa Yeta-Gaè Yale, Miu ta mata ulu, eè loè, atau juga meya papa daa (living in the light) dan “miu mutu sai mumu, miu pebhu sai seyu” yang berarti kamu bicarakanlah bersama, sepakatlah dalam kata. Dengan partikel komparatif καθώς dalam doa Yesus, dan partikel teknis examplaritas: bhila dalam fedhi legi, mau ditampilakn bahwa  kesatuan itu bersumber dan bermodelkan pada yang ilahi. Dalam tataran teologis, karakteristik kesatuan ilahi  mencakup kesatuan dalam cinta, kesatuan dalam kehendak, kesatuan dalam kemuliaan, kesatuan dalam pengetahuan dan kesatuan dalam misi. 

Kedua, Dimensi Antropologis. Dalam doa yang dipanjatkan Yesus dengan harapan akan kesatuan para muridNya sungguh  menyiratkan karakteristik antropologis yang kaya, teristimewa menyangkut relasiNya yang bersifat vertikal dan horisontal, mengarah kepada Yang Ilahi juga yang insani. Karakteristik relasi dua arah ini juga terkandung dalam fedhi legi pada masyarakat Bhela. Di dalam kedua doa dengan nilai kesatuan yang solid, yang mengarah pada yang ilahi di dalam kenyataan insani serta berorientasi antisipatoris yaitu mengantisipasi masa depan dengan persiapan masa kini.

Ketiga, Dimensi Sosiologis. Menurut Doktor Markus, doa manusia sebagai salah satu bentuk komunikasi dengan Yang Ilahi juga mengekspresikan ciri khas sosialitas manusia. Dalam konteks doa Yesus untuk kesatuan para muridNya, serta harapan akan kolo sa toko, tali sa tebu dalam fedhi legi di Bhela, tereksplisit dimensi sosiologis yang kental. Dimensi ini berhubungan erat dengan persekutuan, keharmonisan, dan kesatuan sebagai praksis iman yang didoakan. Beberapa elemen konstitutif yang membentuk dan menjamin kelangsungan relasi sosial manusia adalah kebenaran, keadilan, kejujuran, kepedulian dan kasih. 

Keempat, Dimensi Kosmologis. Dimensi kosmologis dengan mereferensi dari pandangan P. Dr. Gregor Neonbasu SVD, bahwa fakta pentingnya keharmonisan kosmologis merupakan keharmonisan relasi dalam tataran kosmologis sungguh bersifat integral, yang mencakup makro kosmos dan mikro kosmos. Kunci keharmonisan kosmologi adalah menjaga keharmonisan relasi dengan alam, sesama dan dengan Yang Ilahi.

Kelima, Dimensi Eskatologis. Dimensi eskatologis ini menyangkut iman dan harapan akan kehidupan yang berlanjut setelah kehidupan di dunia sekarang ini. Kesatuan yang dimohonkan Yesus tidak hanya menyangkut realitas hidup di dunia ini, melainkan semoga terpenuhi secara paripurna dalam Bapa yang kekal, (Yoh 17:24). 

Di dalam fedhi legi, para leluhur Bhela diyakini meya papa daa (tinggal di terang) di Saò Eda, yaitu rumah untuk mengenangkan terang. Kelanjutan hidup manusia adalah bahwa mereka akan tinggal di terang di rumah terang.

Keenam, Dimensi Soteriologis. Kajian soteriologis atas Injil Yohanes  dan fedhi legi memperlihatkan, bahwa keselamatan itu berasal dari Allah. Cakupan keselamatan itu berkarakter hoslistik dan integral, lahiriah dan bathiniah atau material dan spiritual. Menyangkut waktu, keselamatan itu mulai sekarang dan terus berlangsung di masa depan. Menyangkut tempat, keselamatan itu diharapkan terjadi di segala tempat kehidupan. (ML/IB)




Pater Markus Ture,OCD Menyandang Gelar Doktor Teologi Pada IAKN

Kupang, mutiaratimur.com–  Pater Markus Ture, Biarawan Katolik dari komunitas Ordo Carmelitarum Discalceatorum (OCD) atau Ordo Karmel Tak Berkasut mengakhiri studinya di bidang Teologi pada  Institut Agama  Kristen Negeri (IAKN) Naimata,  Kupang dengan menyandang Doktor Teologi. 

Gelar doktor teologi ini akan diperoleh melalui ujian disertasi didepan para Profesor dan Doktor Penguji yang rencana akan digelar pada Hari Selasa, (27/7/2021) di Kampus IAKN.

Demikian rilis persiapan ujian Doktoral,  P. Markus Ture, OCD yang diperoleh tim media ini pada Senin (26/7/2021).

Digambarkannya, untuk menyandang gelar tersebut akan dilalui dengan presentasi hasil karya penelitian selama studi.  yang dilakukannya di kampung Bhela, Ladolima Utara, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Flores.

” Ya sesuai mekanisme proses studi formal untuk mencapai S3 atau gelar doktor tulisan disertasi wajib hukumnya dipertanggungjawabkan dalam ujian. Proses pertanggungjawaban disertasi akan kami lakukan dihadapan para guru besar melalui pesentasi hasil penelitian kualitatif dengan judul: KESATUAN DALAM FEDHI LEGI PERSPEKTIF INJIL YOHANES, ” ungkap Pater Markus dirilisnya.

Biarawan OCD Kupang itu menguraikan kajian disertasinya berdasarkan judul tersebut seperti berikut.

“Kami menggunakan kajian baru, yaitu antropologi eksegetis di bawah terang Injil Yohanes 17:20-23, untuk menganalisis Fedhi Legi, terkhusus pada tema kesatuan. Sebagaimana lazim dalam karya eksegese, peneliti menarik keluar makna tersembunyi dalamnya fedhi melalui berbagai tahapan analisis,” tulis beliau.

Dalam uraian analisis, Doktor Markus Ture memaparkan beberapa analisis karyanya itu.

“Ada  analisis konteks dan historis yang mengaplikasikan  pendekatan emik dalam antropologi. Ada analisis struktural teks, morfologis dan semantikal, gramatikal dan leksikal serta juga analisis symbol dan metafora,”ulasnya.

Menurut Pater Markus,  dengan jalan atau metodologi ini peneliti  memberi simpulan bahwa ada korelasi makna, kemiripan tema, sinonimitas simbol, kekayaan teknik ekspresi dan sangat banyak elemen menarik dalam doa Yesus yang terlihat dalam fedhi legi  mencerminkan pandangan teologi, antropologi dan kosmologi yang mendalam. Semakin difokuskan pada ananlisis tema kesatuan, peneliti menampilkan konklusi multi dimensi, sebagai eksplisitasi kedalaman nilai untuk diwariskan dan dikembangkan demi keharmonisan hidup umat manusia, baik lokal maupun global. 

Lebih jauh Pater Doktor Teologi asal Mundemi, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Flores itu menjelaskan, “Analisis atas ajektif numerikal ἓν (dari ἵνα πάντες ἓν ὦσιν) dalam konsep Yunani dan esa (dari kolo sa toko dan tali sa tebu) dalam pemahaman masyarakat adat Bhela serta seluruh analisis atas konsep dan simbolisasi verbal dan tata aksi dalam doa Yesus serta fedhi legi kini dideskripsikan dalam dimensi-dimensi. Ada 6 dimensi  hasil refleksinya sebagai peneliti atas  kajian atau analisa data dan fakta secara antropologi eksegetis yang berhubungan dengan persatuan dan kesatuan, seperti diekspresikan dalam fedhi legi dan doa Yesus.”

Dijelaskannya pula, dengan ini enam dimensi eksegetis sebagai metode penemuan makna atas konsep dalam fedhi dan doa Yesus mencapai sasarannya.

Aplikasi dimensi eksegetis dalam penggalian dan penemuan makna tutur, dan tindakan semakin berdaya guna atau efektif, ketika ruang refleksi budi mampu membangun dan menyusun kebaruan konsep di atas pilar fakta dan data-data.

Sebagai peneliti dari disertasinya Pater Markus merilis bagian berikut sebagai kebaruan konsep yang ditawarkannya dan implementasi refleksi atas doa Yesus dan fedhi legi.

Dalam konteks ini, Pater sebagai peneliti menggambarkan dimensi-dimensi itu sebagai berikut: 

Pertama, Dimensi Teologis. Dimensi Teologis di sini tidak dimaksudkan untuk membuktikan eksistensi Yang Ilahi, karena dengan memanjatkan doa kepadaNya, tampak jelas keyakinan akan eksistensi Yang Ilahi, baik oleh Yesus maupun masyarakat Bhela.

Dalam tataran diskursus teologi, kesatuan memiliki ciri khasnya bahwa  kesatuan itu berasal dari Allah, terjadi di dalam dan dengan Allah, bermodelkan pada Allah, dan merupakan  anugerah kepada manusia. Kesatuan itu menjadi kesaksian bagi keberlanjutan kehidupan komunitas.

Dijelaskan lebih lanjut, bahwa dalam fedhi legi, Eksistensi kesatuan ilahi sangat eviden dalam balutan metafora dan paralelisme membrorum fedhi legi yang mengindikasikan dimensi kesatuan ilahi sebagai Allah yang melingkupi. Ini nyata dalam ungkapan Dewa Yeta-Gaè Yale, Miu ta mata ulu, eè loè, atau juga meya papa daa (living in the light) dan “miu mutu sai mumu, miu pebhu sai seyu” yang berarti kamu bicarakanlah bersama, sepakatlah dalam kata. Dengan partikel komparatif καθώς dalam doa Yesus, dan partikel teknis examplaritas: bhila dalam fedhi legi, mau ditampilakn bahwa  kesatuan itu bersumber dan bermodelkan pada yang ilahi. Dalam tataran teologis, karakteristik kesatuan ilahi  mencakup kesatuan dalam cinta, kesatuan dalam kehendak, kesatuan dalam kemuliaan, kesatuan dalam pengetahuan dan kesatuan dalam misi. 

Kedua, Dimensi Antropologis. Dalam doa yang dipanjatkan Yesus dengan harapan akan kesatuan para muridNya sungguh  menyiratkan karakteristik antropologis yang kaya, teristimewa menyangkut relasiNya yang bersifat vertikal dan horisontal, mengarah kepada Yang Ilahi juga yang insani. Karakteristik relasi dua arah ini juga terkandung dalam fedhi legi pada masyarakat Bhela. Di dalam kedua doa dengan nilai kesatuan yang solid, yang mengarah pada yang ilahi di dalam kenyataan insani serta berorientasi antisipatoris yaitu mengantisipasi masa depan dengan persiapan masa kini.

Ketiga, Dimensi Sosiologis. Menurut Doktor Markus, doa manusia sebagai salah satu bentuk komunikasi dengan Yang Ilahi juga mengekspresikan ciri khas sosialitas manusia. Dalam konteks doa Yesus untuk kesatuan para muridNya, serta harapan akan kolo sa toko, tali sa tebu dalam fedhi legi di Bhela, tereksplisit dimensi sosiologis yang kental. Dimensi ini berhubungan erat dengan persekutuan, keharmonisan, dan kesatuan sebagai praksis iman yang didoakan. Beberapa elemen konstitutif yang membentuk dan menjamin kelangsungan relasi sosial manusia adalah kebenaran, keadilan, kejujuran, kepedulian dan kasih. 

Keempat, Dimensi Kosmologis. Dimensi kosmologis dengan mereferensi dari pandangan P. Dr. Gregor Neonbasu SVD, bahwa fakta pentingnya keharmonisan kosmologis merupakan keharmonisan relasi dalam tataran kosmologis sungguh bersifat integral, yang mencakup makro kosmos dan mikro kosmos. Kunci keharmonisan kosmologi adalah menjaga keharmonisan relasi dengan alam, sesama dan dengan Yang Ilahi.

Kelima, Dimensi Eskatologis. Dimensi eskatologis ini menyangkut iman dan harapan akan kehidupan yang berlanjut setelah kehidupan di dunia sekarang ini. Kesatuan yang dimohonkan Yesus tidak hanya menyangkut realitas hidup di dunia ini, melainkan semoga terpenuhi secara paripurna dalam Bapa yang kekal, (Yoh 17:24). 

Di dalam fedhi legi, para leluhur Bhela diyakini meya papa daa (tinggal di terang) di Saò Eda, yaitu rumah untuk mengenangkan terang. Kelanjutan hidup manusia adalah bahwa mereka akan tinggal di terang di rumah terang.

Keenam, Dimensi Soteriologis. Kajian soteriologis atas Injil Yohanes  dan fedhi legi memperlihatkan, bahwa keselamatan itu berasal dari Allah. Cakupan keselamatan itu berkarakter hoslistik dan integral, lahiriah dan bathiniah atau material dan spiritual. Menyangkut waktu, keselamatan itu mulai sekarang dan terus berlangsung di masa depan. Menyangkut tempat, keselamatan itu diharapkan terjadi di segala tempat kehidupan. (ML/IB)




Pater Markus Ture,OCD Menyandang Gelar Doktor Teologi Pada IAKN

Kupang, mutiaratimur.com–  Pater Markus Ture, Biarawan Katolik dari komunitas Ordo Carmelitarum Discalceatorum (OCD) atau Ordo Karmel Tak Berkasut mengakhiri studinya di bidang Teologi pada  Institut Agama  Kristen Negeri (IAKN) Naimata,  Kupang dengan menyandang Doktor Teologi. 

Gelar doktor teologi ini akan diperoleh melalui ujian disertasi didepan para Profesor dan Doktor Penguji yang rencana akan digelar pada Hari Selasa, (27/7/2021) di Kampus IAKN.

Demikian rilis persiapan ujian Doktoral,  P. Markus Ture, OCD yang diperoleh tim media ini pada Senin (26/7/2021).

Digambarkannya, untuk menyandang gelar tersebut akan dilalui dengan presentasi hasil karya penelitian selama studi.  yang dilakukannya di kampung Bhela, Ladolima Utara, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Flores.

” Ya sesuai mekanisme proses studi formal untuk mencapai S3 atau gelar doktor tulisan disertasi wajib hukumnya dipertanggungjawabkan dalam ujian. Proses pertanggungjawaban disertasi akan kami lakukan dihadapan para guru besar melalui pesentasi hasil penelitian kualitatif dengan judul: KESATUAN DALAM FEDHI LEGI PERSPEKTIF INJIL YOHANES, ” ungkap Pater Markus dirilisnya.

Biarawan OCD Kupang itu menguraikan kajian disertasinya berdasarkan judul tersebut seperti berikut.

“Kami menggunakan kajian baru, yaitu antropologi eksegetis di bawah terang Injil Yohanes 17:20-23, untuk menganalisis Fedhi Legi, terkhusus pada tema kesatuan. Sebagaimana lazim dalam karya eksegese, peneliti menarik keluar makna tersembunyi dalamnya fedhi melalui berbagai tahapan analisis,” tulis beliau.

Dalam uraian analisis, Doktor Markus Ture memaparkan beberapa analisis karyanya itu.

“Ada  analisis konteks dan historis yang mengaplikasikan  pendekatan emik dalam antropologi. Ada analisis struktural teks, morfologis dan semantikal, gramatikal dan leksikal serta juga analisis symbol dan metafora,”ulasnya.

Menurut Pater Markus,  dengan jalan atau metodologi ini peneliti  memberi simpulan bahwa ada korelasi makna, kemiripan tema, sinonimitas simbol, kekayaan teknik ekspresi dan sangat banyak elemen menarik dalam doa Yesus yang terlihat dalam fedhi legi  mencerminkan pandangan teologi, antropologi dan kosmologi yang mendalam. Semakin difokuskan pada ananlisis tema kesatuan, peneliti menampilkan konklusi multi dimensi, sebagai eksplisitasi kedalaman nilai untuk diwariskan dan dikembangkan demi keharmonisan hidup umat manusia, baik lokal maupun global. 

Lebih jauh Pater Doktor Teologi asal Mundemi, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Flores itu menjelaskan, “Analisis atas ajektif numerikal ἓν (dari ἵνα πάντες ἓν ὦσιν) dalam konsep Yunani dan esa (dari kolo sa toko dan tali sa tebu) dalam pemahaman masyarakat adat Bhela serta seluruh analisis atas konsep dan simbolisasi verbal dan tata aksi dalam doa Yesus serta fedhi legi kini dideskripsikan dalam dimensi-dimensi. Ada 6 dimensi  hasil refleksinya sebagai peneliti atas  kajian atau analisa data dan fakta secara antropologi eksegetis yang berhubungan dengan persatuan dan kesatuan, seperti diekspresikan dalam fedhi legi dan doa Yesus.”

Dijelaskannya pula, dengan ini enam dimensi eksegetis sebagai metode penemuan makna atas konsep dalam fedhi dan doa Yesus mencapai sasarannya.

Aplikasi dimensi eksegetis dalam penggalian dan penemuan makna tutur, dan tindakan semakin berdaya guna atau efektif, ketika ruang refleksi budi mampu membangun dan menyusun kebaruan konsep di atas pilar fakta dan data-data.

Sebagai peneliti dari disertasinya Pater Markus merilis bagian berikut sebagai kebaruan konsep yang ditawarkannya dan implementasi refleksi atas doa Yesus dan fedhi legi.

Dalam konteks ini, Pater sebagai peneliti menggambarkan dimensi-dimensi itu sebagai berikut: 

Pertama, Dimensi Teologis. Dimensi Teologis di sini tidak dimaksudkan untuk membuktikan eksistensi Yang Ilahi, karena dengan memanjatkan doa kepadaNya, tampak jelas keyakinan akan eksistensi Yang Ilahi, baik oleh Yesus maupun masyarakat Bhela.

Dalam tataran diskursus teologi, kesatuan memiliki ciri khasnya bahwa  kesatuan itu berasal dari Allah, terjadi di dalam dan dengan Allah, bermodelkan pada Allah, dan merupakan  anugerah kepada manusia. Kesatuan itu menjadi kesaksian bagi keberlanjutan kehidupan komunitas.

Dijelaskan lebih lanjut, bahwa dalam fedhi legi, Eksistensi kesatuan ilahi sangat eviden dalam balutan metafora dan paralelisme membrorum fedhi legi yang mengindikasikan dimensi kesatuan ilahi sebagai Allah yang melingkupi. Ini nyata dalam ungkapan Dewa Yeta-Gaè Yale, Miu ta mata ulu, eè loè, atau juga meya papa daa (living in the light) dan “miu mutu sai mumu, miu pebhu sai seyu” yang berarti kamu bicarakanlah bersama, sepakatlah dalam kata. Dengan partikel komparatif καθώς dalam doa Yesus, dan partikel teknis examplaritas: bhila dalam fedhi legi, mau ditampilakn bahwa  kesatuan itu bersumber dan bermodelkan pada yang ilahi. Dalam tataran teologis, karakteristik kesatuan ilahi  mencakup kesatuan dalam cinta, kesatuan dalam kehendak, kesatuan dalam kemuliaan, kesatuan dalam pengetahuan dan kesatuan dalam misi. 

Kedua, Dimensi Antropologis. Dalam doa yang dipanjatkan Yesus dengan harapan akan kesatuan para muridNya sungguh  menyiratkan karakteristik antropologis yang kaya, teristimewa menyangkut relasiNya yang bersifat vertikal dan horisontal, mengarah kepada Yang Ilahi juga yang insani. Karakteristik relasi dua arah ini juga terkandung dalam fedhi legi pada masyarakat Bhela. Di dalam kedua doa dengan nilai kesatuan yang solid, yang mengarah pada yang ilahi di dalam kenyataan insani serta berorientasi antisipatoris yaitu mengantisipasi masa depan dengan persiapan masa kini.

Ketiga, Dimensi Sosiologis. Menurut Doktor Markus, doa manusia sebagai salah satu bentuk komunikasi dengan Yang Ilahi juga mengekspresikan ciri khas sosialitas manusia. Dalam konteks doa Yesus untuk kesatuan para muridNya, serta harapan akan kolo sa toko, tali sa tebu dalam fedhi legi di Bhela, tereksplisit dimensi sosiologis yang kental. Dimensi ini berhubungan erat dengan persekutuan, keharmonisan, dan kesatuan sebagai praksis iman yang didoakan. Beberapa elemen konstitutif yang membentuk dan menjamin kelangsungan relasi sosial manusia adalah kebenaran, keadilan, kejujuran, kepedulian dan kasih. 

Keempat, Dimensi Kosmologis. Dimensi kosmologis dengan mereferensi dari pandangan P. Dr. Gregor Neonbasu SVD, bahwa fakta pentingnya keharmonisan kosmologis merupakan keharmonisan relasi dalam tataran kosmologis sungguh bersifat integral, yang mencakup makro kosmos dan mikro kosmos. Kunci keharmonisan kosmologi adalah menjaga keharmonisan relasi dengan alam, sesama dan dengan Yang Ilahi.

Kelima, Dimensi Eskatologis. Dimensi eskatologis ini menyangkut iman dan harapan akan kehidupan yang berlanjut setelah kehidupan di dunia sekarang ini. Kesatuan yang dimohonkan Yesus tidak hanya menyangkut realitas hidup di dunia ini, melainkan semoga terpenuhi secara paripurna dalam Bapa yang kekal, (Yoh 17:24). 

Di dalam fedhi legi, para leluhur Bhela diyakini meya papa daa (tinggal di terang) di Saò Eda, yaitu rumah untuk mengenangkan terang. Kelanjutan hidup manusia adalah bahwa mereka akan tinggal di terang di rumah terang.

Keenam, Dimensi Soteriologis. Kajian soteriologis atas Injil Yohanes  dan fedhi legi memperlihatkan, bahwa keselamatan itu berasal dari Allah. Cakupan keselamatan itu berkarakter hoslistik dan integral, lahiriah dan bathiniah atau material dan spiritual. Menyangkut waktu, keselamatan itu mulai sekarang dan terus berlangsung di masa depan. Menyangkut tempat, keselamatan itu diharapkan terjadi di segala tempat kehidupan. (ML/IB)




Pater Markus Ture,OCD Menyandang Gelar Doktor Teologi Pada IAKN

Kupang, mutiaratimur.com–  Pater Markus Ture, Biarawan Katolik dari komunitas Ordo Carmelitarum Discalceatorum (OCD) atau Ordo Karmel Tak Berkasut mengakhiri studinya di bidang Teologi pada  Institut Agama  Kristen Negeri (IAKN) Naimata,  Kupang dengan menyandang Doktor Teologi. 

Gelar doktor teologi ini akan diperoleh melalui ujian disertasi didepan para Profesor dan Doktor Penguji yang rencana akan digelar pada Hari Selasa, (27/7/2021) di Kampus IAKN.

Demikian rilis persiapan ujian Doktoral,  P. Markus Ture, OCD yang diperoleh tim media ini pada Senin (26/7/2021).

Digambarkannya, untuk menyandang gelar tersebut akan dilalui dengan presentasi hasil karya penelitian selama studi.  yang dilakukannya di kampung Bhela, Ladolima Utara, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Flores.

” Ya sesuai mekanisme proses studi formal untuk mencapai S3 atau gelar doktor tulisan disertasi wajib hukumnya dipertanggungjawabkan dalam ujian. Proses pertanggungjawaban disertasi akan kami lakukan dihadapan para guru besar melalui pesentasi hasil penelitian kualitatif dengan judul: KESATUAN DALAM FEDHI LEGI PERSPEKTIF INJIL YOHANES, ” ungkap Pater Markus dirilisnya.

Biarawan OCD Kupang itu menguraikan kajian disertasinya berdasarkan judul tersebut seperti berikut.

“Kami menggunakan kajian baru, yaitu antropologi eksegetis di bawah terang Injil Yohanes 17:20-23, untuk menganalisis Fedhi Legi, terkhusus pada tema kesatuan. Sebagaimana lazim dalam karya eksegese, peneliti menarik keluar makna tersembunyi dalamnya fedhi melalui berbagai tahapan analisis,” tulis beliau.

Dalam uraian analisis, Doktor Markus Ture memaparkan beberapa analisis karyanya itu.

“Ada  analisis konteks dan historis yang mengaplikasikan  pendekatan emik dalam antropologi. Ada analisis struktural teks, morfologis dan semantikal, gramatikal dan leksikal serta juga analisis symbol dan metafora,”ulasnya.

Menurut Pater Markus,  dengan jalan atau metodologi ini peneliti  memberi simpulan bahwa ada korelasi makna, kemiripan tema, sinonimitas simbol, kekayaan teknik ekspresi dan sangat banyak elemen menarik dalam doa Yesus yang terlihat dalam fedhi legi  mencerminkan pandangan teologi, antropologi dan kosmologi yang mendalam. Semakin difokuskan pada ananlisis tema kesatuan, peneliti menampilkan konklusi multi dimensi, sebagai eksplisitasi kedalaman nilai untuk diwariskan dan dikembangkan demi keharmonisan hidup umat manusia, baik lokal maupun global. 

Lebih jauh Pater Doktor Teologi asal Mundemi, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Flores itu menjelaskan, “Analisis atas ajektif numerikal ἓν (dari ἵνα πάντες ἓν ὦσιν) dalam konsep Yunani dan esa (dari kolo sa toko dan tali sa tebu) dalam pemahaman masyarakat adat Bhela serta seluruh analisis atas konsep dan simbolisasi verbal dan tata aksi dalam doa Yesus serta fedhi legi kini dideskripsikan dalam dimensi-dimensi. Ada 6 dimensi  hasil refleksinya sebagai peneliti atas  kajian atau analisa data dan fakta secara antropologi eksegetis yang berhubungan dengan persatuan dan kesatuan, seperti diekspresikan dalam fedhi legi dan doa Yesus.”

Dijelaskannya pula, dengan ini enam dimensi eksegetis sebagai metode penemuan makna atas konsep dalam fedhi dan doa Yesus mencapai sasarannya.

Aplikasi dimensi eksegetis dalam penggalian dan penemuan makna tutur, dan tindakan semakin berdaya guna atau efektif, ketika ruang refleksi budi mampu membangun dan menyusun kebaruan konsep di atas pilar fakta dan data-data.

Sebagai peneliti dari disertasinya Pater Markus merilis bagian berikut sebagai kebaruan konsep yang ditawarkannya dan implementasi refleksi atas doa Yesus dan fedhi legi.

Dalam konteks ini, Pater sebagai peneliti menggambarkan dimensi-dimensi itu sebagai berikut: 

Pertama, Dimensi Teologis. Dimensi Teologis di sini tidak dimaksudkan untuk membuktikan eksistensi Yang Ilahi, karena dengan memanjatkan doa kepadaNya, tampak jelas keyakinan akan eksistensi Yang Ilahi, baik oleh Yesus maupun masyarakat Bhela.

Dalam tataran diskursus teologi, kesatuan memiliki ciri khasnya bahwa  kesatuan itu berasal dari Allah, terjadi di dalam dan dengan Allah, bermodelkan pada Allah, dan merupakan  anugerah kepada manusia. Kesatuan itu menjadi kesaksian bagi keberlanjutan kehidupan komunitas.

Dijelaskan lebih lanjut, bahwa dalam fedhi legi, Eksistensi kesatuan ilahi sangat eviden dalam balutan metafora dan paralelisme membrorum fedhi legi yang mengindikasikan dimensi kesatuan ilahi sebagai Allah yang melingkupi. Ini nyata dalam ungkapan Dewa Yeta-Gaè Yale, Miu ta mata ulu, eè loè, atau juga meya papa daa (living in the light) dan “miu mutu sai mumu, miu pebhu sai seyu” yang berarti kamu bicarakanlah bersama, sepakatlah dalam kata. Dengan partikel komparatif καθώς dalam doa Yesus, dan partikel teknis examplaritas: bhila dalam fedhi legi, mau ditampilakn bahwa  kesatuan itu bersumber dan bermodelkan pada yang ilahi. Dalam tataran teologis, karakteristik kesatuan ilahi  mencakup kesatuan dalam cinta, kesatuan dalam kehendak, kesatuan dalam kemuliaan, kesatuan dalam pengetahuan dan kesatuan dalam misi. 

Kedua, Dimensi Antropologis. Dalam doa yang dipanjatkan Yesus dengan harapan akan kesatuan para muridNya sungguh  menyiratkan karakteristik antropologis yang kaya, teristimewa menyangkut relasiNya yang bersifat vertikal dan horisontal, mengarah kepada Yang Ilahi juga yang insani. Karakteristik relasi dua arah ini juga terkandung dalam fedhi legi pada masyarakat Bhela. Di dalam kedua doa dengan nilai kesatuan yang solid, yang mengarah pada yang ilahi di dalam kenyataan insani serta berorientasi antisipatoris yaitu mengantisipasi masa depan dengan persiapan masa kini.

Ketiga, Dimensi Sosiologis. Menurut Doktor Markus, doa manusia sebagai salah satu bentuk komunikasi dengan Yang Ilahi juga mengekspresikan ciri khas sosialitas manusia. Dalam konteks doa Yesus untuk kesatuan para muridNya, serta harapan akan kolo sa toko, tali sa tebu dalam fedhi legi di Bhela, tereksplisit dimensi sosiologis yang kental. Dimensi ini berhubungan erat dengan persekutuan, keharmonisan, dan kesatuan sebagai praksis iman yang didoakan. Beberapa elemen konstitutif yang membentuk dan menjamin kelangsungan relasi sosial manusia adalah kebenaran, keadilan, kejujuran, kepedulian dan kasih. 

Keempat, Dimensi Kosmologis. Dimensi kosmologis dengan mereferensi dari pandangan P. Dr. Gregor Neonbasu SVD, bahwa fakta pentingnya keharmonisan kosmologis merupakan keharmonisan relasi dalam tataran kosmologis sungguh bersifat integral, yang mencakup makro kosmos dan mikro kosmos. Kunci keharmonisan kosmologi adalah menjaga keharmonisan relasi dengan alam, sesama dan dengan Yang Ilahi.

Kelima, Dimensi Eskatologis. Dimensi eskatologis ini menyangkut iman dan harapan akan kehidupan yang berlanjut setelah kehidupan di dunia sekarang ini. Kesatuan yang dimohonkan Yesus tidak hanya menyangkut realitas hidup di dunia ini, melainkan semoga terpenuhi secara paripurna dalam Bapa yang kekal, (Yoh 17:24). 

Di dalam fedhi legi, para leluhur Bhela diyakini meya papa daa (tinggal di terang) di Saò Eda, yaitu rumah untuk mengenangkan terang. Kelanjutan hidup manusia adalah bahwa mereka akan tinggal di terang di rumah terang.

Keenam, Dimensi Soteriologis. Kajian soteriologis atas Injil Yohanes  dan fedhi legi memperlihatkan, bahwa keselamatan itu berasal dari Allah. Cakupan keselamatan itu berkarakter hoslistik dan integral, lahiriah dan bathiniah atau material dan spiritual. Menyangkut waktu, keselamatan itu mulai sekarang dan terus berlangsung di masa depan. Menyangkut tempat, keselamatan itu diharapkan terjadi di segala tempat kehidupan. (ML/IB)




PPKM Kurang Efektif, Direktur Bakornas LKMI PB HMI: Pemerintah Perlu Solusi Jitu Untuk Tangani Lonjakan Covid-19

 

JAKARTA ,mwartapedia.com — Kebijakan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat di Pulau Jawa dan Bali tidak efektif menekan penyebaran Covid-19, bahkan daerah luar Jawa pun sudah mulai mengalami peningkatan yang drastis pasien terinfeksi Covid-19. 

Sejak pelaksanaan PPKM Darurat mulai 3 – 20 Juli dilanjutkan PPKM Level 4 hingga 25 Juli 2021, pemerintah memasang target kasus harian turun menjadi paling tidak 10.000 kasus. Akan tetapi rencana ini jauh dari harapan.

PPKM Darurat telah berlaku di wilayah Jawa dan Bali. Di sisi lain beberapa pihak menyatakan PPKM Darurat akan sia-sia bila penerbangan internasional dari luar negeri menuju Indonesia masih dibuka.

“kita sudah dapat melihat bahwa kebijakan pemerintah menerapkan PPKM gagal total, buktinya hingga hari ini masih banyak masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan, disamping itu lonjakan pasien terkonfirmasi positif dan pasien yang meninggal akibat Covid-19 terus mengalami kenaikan dan diperburuk lagi karena penerbangan internasional masih saja dibuka,” ujar dr. Fachrurrozy Basalamah selaku Dir Bakornas LKMI PB HMI, Senin (27/07/2021).

Lebih lanjut Ia sampaikan Indonesia harus tegas dalam penanganan Covid-19. Masih dibukanya pintu masuk internasional pada masa PPKM Darurat saat ini menjadi salah satu inkonsistensi pemerintah dalam menerapkan kebijakan. 

“Menutup pintu perjalanan internasional merupakan hal penting dalam mencegah masuknya varian baru virus corona yang telah berkembang di Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, Katanya kesemrawutan data bantuan sosial (Bansos) mewarnai buruknya penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia.

“Sudah satu tahun pandemi ini menyerang kita semua namun penyaluran dana bansos masih tidak efektif selama pandemi ini. Data yang semrawut membuat sasaran penerima bansos tumpang tindih. Apalagi pemerintah memiliki skema bantuan yang bermacam-macam, seperti berbentuk dana tunai dan barang (sembako),” jelasnya.

Direktur Bakornas LKMI PB HMI pun mengatakan bahwa Pemerintah mendapatkan rapor merah dalam penanganan Covid-19 ini mulai dari kurang siapnya pemerintah Indonesia dalam menghadapi pandemi COVID-19, kebijakan yang kurang tegas, target vaksinasi masih jauh dari apa yang diharapkan hingga penyaluran dana bansos yang kurang efektif

“Mungkin pemerintah sudah bingung formulasi apa lagi yang mereka harus keluarkan untuk menekan tingginya kasus Covid-19 di Indonesia. Persoalannya apapun nama kebijakan yang dikeluarkan pemerintah baik itu PSBB, karantina wilayah hingga PPKM tidak membuat kita keluar dari pandemi Covid-19 karena kebijakan-kebijakan tersebut masih memiliki banyak kekurangan,” tambah dr. Fachrurrozy Basalamah.

Dr. Fachrurrozy Basalamah memberikan masukan bahwa jika pemerintah masih tetap memperpanjang PPKM, harusnya pemerintah juga tegas dan berani untuk menutup penerbangan Internasional selama PPKM ini di terapkan, selain itu pemerintah harus membiayai para masyarakat yang kurang mampu yang terkana dampak dari pandemi ini, agar mereka masih bisa hidup dan tetap dirumah.

“Karena kurang efektifnya pembagian dana bansos membuat masyarakat kurang mampu harus tetap keluar rumah untuk dapat mencari uang agar keluarganya masih bisa bertahan ditengah kondisi ini, oleh karena itu pemerintah harus siap membantu masyarakat yang terkana dampak dari pandemi ini,” tutupnya. (Zaki)




PPKM Kurang Efektif, Direktur Bakornas LKMI PB HMI: Pemerintah Perlu Solusi Jitu Untuk Tangani Lonjakan Covid-19

 

JAKARTA ,mwartapedia.com — Kebijakan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat di Pulau Jawa dan Bali tidak efektif menekan penyebaran Covid-19, bahkan daerah luar Jawa pun sudah mulai mengalami peningkatan yang drastis pasien terinfeksi Covid-19. 

Sejak pelaksanaan PPKM Darurat mulai 3 – 20 Juli dilanjutkan PPKM Level 4 hingga 25 Juli 2021, pemerintah memasang target kasus harian turun menjadi paling tidak 10.000 kasus. Akan tetapi rencana ini jauh dari harapan.

PPKM Darurat telah berlaku di wilayah Jawa dan Bali. Di sisi lain beberapa pihak menyatakan PPKM Darurat akan sia-sia bila penerbangan internasional dari luar negeri menuju Indonesia masih dibuka.

“kita sudah dapat melihat bahwa kebijakan pemerintah menerapkan PPKM gagal total, buktinya hingga hari ini masih banyak masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan, disamping itu lonjakan pasien terkonfirmasi positif dan pasien yang meninggal akibat Covid-19 terus mengalami kenaikan dan diperburuk lagi karena penerbangan internasional masih saja dibuka,” ujar dr. Fachrurrozy Basalamah selaku Dir Bakornas LKMI PB HMI, Senin (27/07/2021).

Lebih lanjut Ia sampaikan Indonesia harus tegas dalam penanganan Covid-19. Masih dibukanya pintu masuk internasional pada masa PPKM Darurat saat ini menjadi salah satu inkonsistensi pemerintah dalam menerapkan kebijakan. 

“Menutup pintu perjalanan internasional merupakan hal penting dalam mencegah masuknya varian baru virus corona yang telah berkembang di Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, Katanya kesemrawutan data bantuan sosial (Bansos) mewarnai buruknya penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia.

“Sudah satu tahun pandemi ini menyerang kita semua namun penyaluran dana bansos masih tidak efektif selama pandemi ini. Data yang semrawut membuat sasaran penerima bansos tumpang tindih. Apalagi pemerintah memiliki skema bantuan yang bermacam-macam, seperti berbentuk dana tunai dan barang (sembako),” jelasnya.

Direktur Bakornas LKMI PB HMI pun mengatakan bahwa Pemerintah mendapatkan rapor merah dalam penanganan Covid-19 ini mulai dari kurang siapnya pemerintah Indonesia dalam menghadapi pandemi COVID-19, kebijakan yang kurang tegas, target vaksinasi masih jauh dari apa yang diharapkan hingga penyaluran dana bansos yang kurang efektif

“Mungkin pemerintah sudah bingung formulasi apa lagi yang mereka harus keluarkan untuk menekan tingginya kasus Covid-19 di Indonesia. Persoalannya apapun nama kebijakan yang dikeluarkan pemerintah baik itu PSBB, karantina wilayah hingga PPKM tidak membuat kita keluar dari pandemi Covid-19 karena kebijakan-kebijakan tersebut masih memiliki banyak kekurangan,” tambah dr. Fachrurrozy Basalamah.

Dr. Fachrurrozy Basalamah memberikan masukan bahwa jika pemerintah masih tetap memperpanjang PPKM, harusnya pemerintah juga tegas dan berani untuk menutup penerbangan Internasional selama PPKM ini di terapkan, selain itu pemerintah harus membiayai para masyarakat yang kurang mampu yang terkana dampak dari pandemi ini, agar mereka masih bisa hidup dan tetap dirumah.

“Karena kurang efektifnya pembagian dana bansos membuat masyarakat kurang mampu harus tetap keluar rumah untuk dapat mencari uang agar keluarganya masih bisa bertahan ditengah kondisi ini, oleh karena itu pemerintah harus siap membantu masyarakat yang terkana dampak dari pandemi ini,” tutupnya. (Zaki)




PPKM Kurang Efektif, Direktur Bakornas LKMI PB HMI: Pemerintah Perlu Solusi Jitu Untuk Tangani Lonjakan Covid-19

 

JAKARTA ,mwartapedia.com — Kebijakan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat di Pulau Jawa dan Bali tidak efektif menekan penyebaran Covid-19, bahkan daerah luar Jawa pun sudah mulai mengalami peningkatan yang drastis pasien terinfeksi Covid-19. 

Sejak pelaksanaan PPKM Darurat mulai 3 – 20 Juli dilanjutkan PPKM Level 4 hingga 25 Juli 2021, pemerintah memasang target kasus harian turun menjadi paling tidak 10.000 kasus. Akan tetapi rencana ini jauh dari harapan.

PPKM Darurat telah berlaku di wilayah Jawa dan Bali. Di sisi lain beberapa pihak menyatakan PPKM Darurat akan sia-sia bila penerbangan internasional dari luar negeri menuju Indonesia masih dibuka.

“kita sudah dapat melihat bahwa kebijakan pemerintah menerapkan PPKM gagal total, buktinya hingga hari ini masih banyak masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan, disamping itu lonjakan pasien terkonfirmasi positif dan pasien yang meninggal akibat Covid-19 terus mengalami kenaikan dan diperburuk lagi karena penerbangan internasional masih saja dibuka,” ujar dr. Fachrurrozy Basalamah selaku Dir Bakornas LKMI PB HMI, Senin (27/07/2021).

Lebih lanjut Ia sampaikan Indonesia harus tegas dalam penanganan Covid-19. Masih dibukanya pintu masuk internasional pada masa PPKM Darurat saat ini menjadi salah satu inkonsistensi pemerintah dalam menerapkan kebijakan. 

“Menutup pintu perjalanan internasional merupakan hal penting dalam mencegah masuknya varian baru virus corona yang telah berkembang di Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, Katanya kesemrawutan data bantuan sosial (Bansos) mewarnai buruknya penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia.

“Sudah satu tahun pandemi ini menyerang kita semua namun penyaluran dana bansos masih tidak efektif selama pandemi ini. Data yang semrawut membuat sasaran penerima bansos tumpang tindih. Apalagi pemerintah memiliki skema bantuan yang bermacam-macam, seperti berbentuk dana tunai dan barang (sembako),” jelasnya.

Direktur Bakornas LKMI PB HMI pun mengatakan bahwa Pemerintah mendapatkan rapor merah dalam penanganan Covid-19 ini mulai dari kurang siapnya pemerintah Indonesia dalam menghadapi pandemi COVID-19, kebijakan yang kurang tegas, target vaksinasi masih jauh dari apa yang diharapkan hingga penyaluran dana bansos yang kurang efektif

“Mungkin pemerintah sudah bingung formulasi apa lagi yang mereka harus keluarkan untuk menekan tingginya kasus Covid-19 di Indonesia. Persoalannya apapun nama kebijakan yang dikeluarkan pemerintah baik itu PSBB, karantina wilayah hingga PPKM tidak membuat kita keluar dari pandemi Covid-19 karena kebijakan-kebijakan tersebut masih memiliki banyak kekurangan,” tambah dr. Fachrurrozy Basalamah.

Dr. Fachrurrozy Basalamah memberikan masukan bahwa jika pemerintah masih tetap memperpanjang PPKM, harusnya pemerintah juga tegas dan berani untuk menutup penerbangan Internasional selama PPKM ini di terapkan, selain itu pemerintah harus membiayai para masyarakat yang kurang mampu yang terkana dampak dari pandemi ini, agar mereka masih bisa hidup dan tetap dirumah.

“Karena kurang efektifnya pembagian dana bansos membuat masyarakat kurang mampu harus tetap keluar rumah untuk dapat mencari uang agar keluarganya masih bisa bertahan ditengah kondisi ini, oleh karena itu pemerintah harus siap membantu masyarakat yang terkana dampak dari pandemi ini,” tutupnya. (Zaki)




PPKM Kurang Efektif, Direktur Bakornas LKMI PB HMI: Pemerintah Perlu Solusi Jitu Untuk Tangani Lonjakan Covid-19

 

JAKARTA ,mwartapedia.com — Kebijakan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat di Pulau Jawa dan Bali tidak efektif menekan penyebaran Covid-19, bahkan daerah luar Jawa pun sudah mulai mengalami peningkatan yang drastis pasien terinfeksi Covid-19. 

Sejak pelaksanaan PPKM Darurat mulai 3 – 20 Juli dilanjutkan PPKM Level 4 hingga 25 Juli 2021, pemerintah memasang target kasus harian turun menjadi paling tidak 10.000 kasus. Akan tetapi rencana ini jauh dari harapan.

PPKM Darurat telah berlaku di wilayah Jawa dan Bali. Di sisi lain beberapa pihak menyatakan PPKM Darurat akan sia-sia bila penerbangan internasional dari luar negeri menuju Indonesia masih dibuka.

“kita sudah dapat melihat bahwa kebijakan pemerintah menerapkan PPKM gagal total, buktinya hingga hari ini masih banyak masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan, disamping itu lonjakan pasien terkonfirmasi positif dan pasien yang meninggal akibat Covid-19 terus mengalami kenaikan dan diperburuk lagi karena penerbangan internasional masih saja dibuka,” ujar dr. Fachrurrozy Basalamah selaku Dir Bakornas LKMI PB HMI, Senin (27/07/2021).

Lebih lanjut Ia sampaikan Indonesia harus tegas dalam penanganan Covid-19. Masih dibukanya pintu masuk internasional pada masa PPKM Darurat saat ini menjadi salah satu inkonsistensi pemerintah dalam menerapkan kebijakan. 

“Menutup pintu perjalanan internasional merupakan hal penting dalam mencegah masuknya varian baru virus corona yang telah berkembang di Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, Katanya kesemrawutan data bantuan sosial (Bansos) mewarnai buruknya penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia.

“Sudah satu tahun pandemi ini menyerang kita semua namun penyaluran dana bansos masih tidak efektif selama pandemi ini. Data yang semrawut membuat sasaran penerima bansos tumpang tindih. Apalagi pemerintah memiliki skema bantuan yang bermacam-macam, seperti berbentuk dana tunai dan barang (sembako),” jelasnya.

Direktur Bakornas LKMI PB HMI pun mengatakan bahwa Pemerintah mendapatkan rapor merah dalam penanganan Covid-19 ini mulai dari kurang siapnya pemerintah Indonesia dalam menghadapi pandemi COVID-19, kebijakan yang kurang tegas, target vaksinasi masih jauh dari apa yang diharapkan hingga penyaluran dana bansos yang kurang efektif

“Mungkin pemerintah sudah bingung formulasi apa lagi yang mereka harus keluarkan untuk menekan tingginya kasus Covid-19 di Indonesia. Persoalannya apapun nama kebijakan yang dikeluarkan pemerintah baik itu PSBB, karantina wilayah hingga PPKM tidak membuat kita keluar dari pandemi Covid-19 karena kebijakan-kebijakan tersebut masih memiliki banyak kekurangan,” tambah dr. Fachrurrozy Basalamah.

Dr. Fachrurrozy Basalamah memberikan masukan bahwa jika pemerintah masih tetap memperpanjang PPKM, harusnya pemerintah juga tegas dan berani untuk menutup penerbangan Internasional selama PPKM ini di terapkan, selain itu pemerintah harus membiayai para masyarakat yang kurang mampu yang terkana dampak dari pandemi ini, agar mereka masih bisa hidup dan tetap dirumah.

“Karena kurang efektifnya pembagian dana bansos membuat masyarakat kurang mampu harus tetap keluar rumah untuk dapat mencari uang agar keluarganya masih bisa bertahan ditengah kondisi ini, oleh karena itu pemerintah harus siap membantu masyarakat yang terkana dampak dari pandemi ini,” tutupnya. (Zaki)




Danlantamal VII Pimpin Sertijab Dua Jabatan Srategis di Jajaran Lantamal VII

 

Kupang,mwartapedia.com —  Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Danlantamal) VII Laksamana Pertama TNI IG. Kompiang Aribawa, CHRMP., memimpin langsung Serah Terima Jabatan (Sertijab) dua jabatan strategis di jajaran Lantamal VII yang berlangsung di Gedung Marshalling Area Markas Komando (Mako) Lantamal VII, Jalan Supul Raya, Bolok, Kupang, NTT. Senin (26/07/2021).

Dua jabatan strategis yang di serah terimakan yaitu jabatan Wakil Komandan Lantamal VII dari Kolonel Marinir Djentaju Suprihandoko, S.H kepada Kolonel Marinir Hendra Setiawan, S.E., M.M dan jabatan Asisten Potensi Maritim (Aspotmar) Danlantamal VII dari Kolonel Laut (P) Yuyus wahyudin kepada Letkol Laut (P) Gurtom Fartianto, S.E. Sebelumnya Kolonel Marinir Hendra Setiawan, S.E., M.M. menjabat sebagai Sahli bidang Jemen Kormar sedangkan Letkol Laut (P) Gurtom Fartianto, S.E menjabat sebagai Pabandya Potwiltasla Spotmar Mabesal.  

Danlantamal VII Laksamana Pertama TNI IG. Kompiang Aribawa., CHRMP., menyampaikan bahwa serah terima jabatan di lingkungan TNI Angkatan Laut merupakan siklus penugasan personel (tour of duty dan tour of area) dalam rangka peningkatan prestasi serta pemberian kesempatan pejabat baru  untuk mengembangkan kemampuan dan kepemimpinan. Sehingga dapat mewujudkan organisasi yang lebih responsif terhadap perubahan dan perkembangan lingkungan strategis yang semakin kompleks dan dinamis.

“Kepada pejabat lama selamat bertugas di penempatan yang baru dan sukses selalu, kepada pejabat baru diharapkan dapat meneruskan amanah apa yang sudah dikerjakan kepada pejabat lama sehingga dapat terciptanya perubahan kedepan menuju yang lebih baik,”Ujar Danlantamal VII. 

Dalam acara serah terima jabatan ini para pejabat yang hadir tetap mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak serta tidak berjabat tangan guna mengantisipasi penyebaran Virus Corona atau Covid-19. 

Hadir dalam acara Sertijab tersebut para Asisten Danlantamal VII, Dansatrol Lantamal VII, Danyonmarhanlan VII, Para Kasatker Lantamal VII serta pejabat terkait lainnya. (Dispen Lantamal VII/ML/IB)




Danlantamal VII Pimpin Sertijab Dua Jabatan Srategis di Jajaran Lantamal VII

 

Kupang,mwartapedia.com —  Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Danlantamal) VII Laksamana Pertama TNI IG. Kompiang Aribawa, CHRMP., memimpin langsung Serah Terima Jabatan (Sertijab) dua jabatan strategis di jajaran Lantamal VII yang berlangsung di Gedung Marshalling Area Markas Komando (Mako) Lantamal VII, Jalan Supul Raya, Bolok, Kupang, NTT. Senin (26/07/2021).

Dua jabatan strategis yang di serah terimakan yaitu jabatan Wakil Komandan Lantamal VII dari Kolonel Marinir Djentaju Suprihandoko, S.H kepada Kolonel Marinir Hendra Setiawan, S.E., M.M dan jabatan Asisten Potensi Maritim (Aspotmar) Danlantamal VII dari Kolonel Laut (P) Yuyus wahyudin kepada Letkol Laut (P) Gurtom Fartianto, S.E. Sebelumnya Kolonel Marinir Hendra Setiawan, S.E., M.M. menjabat sebagai Sahli bidang Jemen Kormar sedangkan Letkol Laut (P) Gurtom Fartianto, S.E menjabat sebagai Pabandya Potwiltasla Spotmar Mabesal.  

Danlantamal VII Laksamana Pertama TNI IG. Kompiang Aribawa., CHRMP., menyampaikan bahwa serah terima jabatan di lingkungan TNI Angkatan Laut merupakan siklus penugasan personel (tour of duty dan tour of area) dalam rangka peningkatan prestasi serta pemberian kesempatan pejabat baru  untuk mengembangkan kemampuan dan kepemimpinan. Sehingga dapat mewujudkan organisasi yang lebih responsif terhadap perubahan dan perkembangan lingkungan strategis yang semakin kompleks dan dinamis.

“Kepada pejabat lama selamat bertugas di penempatan yang baru dan sukses selalu, kepada pejabat baru diharapkan dapat meneruskan amanah apa yang sudah dikerjakan kepada pejabat lama sehingga dapat terciptanya perubahan kedepan menuju yang lebih baik,”Ujar Danlantamal VII. 

Dalam acara serah terima jabatan ini para pejabat yang hadir tetap mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak serta tidak berjabat tangan guna mengantisipasi penyebaran Virus Corona atau Covid-19. 

Hadir dalam acara Sertijab tersebut para Asisten Danlantamal VII, Dansatrol Lantamal VII, Danyonmarhanlan VII, Para Kasatker Lantamal VII serta pejabat terkait lainnya. (Dispen Lantamal VII/ML/IB)