Pengurus Wilayah XIV dan OMK Naikolan Resmi Dilantik, Siap Perkuat Pelayanan Umat

Kupang,nwartapedia.com  –  Badan Pengurus Wilayah XIV dan Badan Pengurus Orang Muda Katolik (OMK) Wilayah XIV Paroki Santo Yosef Naikoten resmi dilantik dalam kegiatan yang berlangsung di wilayah XIV, Kelurahan Naikolan, pada Sabtu (8/8/2026).

Pelantikan tersebut ditetapkan melalui Surat Keputusan Pastor Paroki Santo Yosef Naikoten Nomor 177/PSY-NKT/VIII/2026 tentang pemberhentian dan pengangkatan Badan Pengurus Wilayah XIV.

Dalam struktur kepengurusan yang baru, Frankianus K. Soro dipercaya sebagai Ketua, didampingi Lorensius Awa sebagai Wakil Ketua I dan Ambrosius N.K. Busa sebagai Wakil Ketua II. Sementara Martina Tri Wahyuningsih dipercaya sebagai bendahara.

Sejumlah bidang pelayanan juga dibentuk, yakni Bidang Liturgi yang diketuai Yanto Ngadji, Bidang Kerasulan Awam oleh Patris Bio, Bidang Pemberdayaan Umat oleh Theresia Hennida Bey, Bidang Usaha Dana oleh Alfons A.A. Ganggas, serta Bidang Humas oleh Emilyus Senda Bata.

Selain pengurus wilayah, turut dilantik Badan Pengurus OMK Wilayah XIV berdasarkan Surat Keputusan Pastor Paroki Santo Yosef Naikoten Nomor 178/PSY-NKT/VIII/2026.

Apcasella B. Parera dipercaya sebagai Ketua OMK Wilayah XIV, dengan Benedhito Fonzeca Osorio Lopo sebagai sekretaris, serta Maria Veronica Tony dan Brigita Tiara Alisandria masing-masing sebagai bendahara I dan II.

OMK Wilayah XIV juga memiliki empat bidang pelayanan, yakni Bidang Liturgi yang dikoordinatori Rossa Da Lima Naisoko, Bidang Olahraga, Minat dan Bakat oleh Maria Bernadetha Bue Lewokeda, Bidang Hubungan Masyarakat oleh Hugentinus Januarius Bengu, serta Bidang Ekonomi Kreatif yang diketuai Maria Trimurti Merlin Solapung.

Dalam kotbahnya, Romo Apolonius Dora, Pr menekankan pentingnya kepemimpinan yang dilandasi semangat pelayanan.

“Kepemimpinan sehati di hadapan Tuhan terlihat dari kerelaan untuk menjadi pelayan bagi sesama,” pesannya.

Ketua DPP Frans Wayan juga mengajak para pengurus yang baru dilantik untuk tetap setia menjalankan tugas pelayanan.

Sementara itu, Ketua Wilayah XIV terpilih, Frengki K. Soro, memohon dukungan dari seluruh umat, terutama para ketua Kelompok Umat Basis (KUB), agar kepengurusan dapat menjalankan tugas dengan baik.

Ketua OMK Wilayah XIV, Apcasella B. Parera turut menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan serta meminta dukungan dari seluruh umat dalam menjalankan pelayanan bersama.

Pesan serupa disampaikan Ketua OMK Paroki, Dedi Koten, yang mengajak OMK untuk tetap semangat dalam pelayanan serta membangun koordinasi dengan orang tua dan para penasihat di wilayah.

Kegiatan pelantikan ditutup dengan ucapan terima kasih dan “Proviciat” dari para ketua KUB kepada pengurus Wilayah XIV dan OMK yang baru dilantik. (MI)




Pekan Alkitab Perdana di Kupang Sukses, Selama Empat Hari Catat 5.563 Pengunjung

Kupang,nwartapedia.com – Pekan Alkitab perdana di Kota Kupang yang berlangsung pada 3–6 Agustus 2026 mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat.

Selama empat hari pelaksanaan, kegiatan tersebut mencatat sebanyak 5.563 partisipan, melampaui target awal panitia sebanyak 4.000 peserta.

Mengusung tema “Firman Tuhan dari Generasi ke Generasi” berdasarkan Mazmur 78:3–4 TB2, Pekan Alkitab menjadi momentum untuk memperkuat semangat mewariskan iman melalui Firman Tuhan kepada generasi penerus.

Rangkaian kegiatan meliputi pameran Museum Alkitab, seminar, serta berbagai perlombaan yang melibatkan anak-anak, remaja, pemuda, keluarga, gereja dan sekolah dari berbagai latar belakang.

Tingginya antusiasme masyarakat bahkan membuat panitia harus bekerja ekstra dalam melayani arus pengunjung yang terus berdatangan ke lokasi pameran maupun seminar.

Peserta juga tidak hanya berasal dari Kota Kupang, tetapi datang dari sejumlah daerah lainnya.

Kalangan anak-anak, remaja dan pemuda menjadi kelompok yang paling banyak berpartisipasi.

Hal ini dinilai sejalan dengan tujuan utama Pekan Alkitab, yakni menumbuhkan kecintaan terhadap Firman Tuhan sekaligus memperkuat pewarisan iman kepada generasi berikutnya.

Panitia mencatat keterlibatan berbagai denominasi gereja dan sekolah, baik Kristen maupun Katolik.

Panitia juga memberikan apresiasi kepada  Bank Indoneaia provinsi NTT dan Pemerintah Kota Kupang atas dukungannya terhadap pelaksanaan pekan Alkitab di kota Kupang

Di kalangan pelajar, Sekolah Citra Bangsa menjadi salah satu sekolah dengan jumlah peserta terbanyak.

Selain kegiatan rohani, Pekan Alkitab turut memberikan ruang bagi pemberdayaan ekonomi melalui booth UMKM binaan Bank NTT.

Pengunjung juga dapat melihat koleksi Museum Alkitab, berbagai terbitan Alkitab dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), serta literatur dari UBB GMIT, Kalam Hidup dan BPK Gunung Mulia.

Keberhasilan kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari tim LAI Pusat yang terlibat dalam pelayanan Museum Alkitab.

Berdasarkan pengalaman penyelenggaraan pameran Museum Alkitab di berbagai daerah, tim LAI menilai Pekan Alkitab Kupang memiliki skala pameran yang besar dan mencatat jumlah pengunjung yang sangat tinggi.

Kurator Museum LAI, Anas, juga mengapresiasi antusiasme masyarakat Kupang yang mengikuti kegiatan dari pagi hingga malam.

Panitia berharap keberhasilan Pekan Alkitab perdana ini menjadi awal gerakan berkelanjutan untuk meningkatkan kecintaan terhadap Firman Tuhan serta memperkuat pewarisan iman dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Semangat tersebut sejalan dengan pesan dalam Mazmur 78:3–4, agar setiap generasi terus menceritakan karya Tuhan kepada generasi berikutnya sehingga pengenalan akan Tuhan tetap hidup dan menghasilkan generasi yang berakar kuat dalam Firman-Nya. (MI)




Pekan Alkitab di Kupang Jadi Momentum Kebangunan Iman dan Pewarisan Firman Tuhan

Kupang, nwartapedia.com  –  Pekan Alkitab yang berlangsung di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang pada 3–6 Agustus 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat iman umat Kristen sekaligus mengenalkan sejarah Alkitab kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Ketua Panitia Pekan Alkitab, Pdt. Febi M. B. Messakh-Frans, kepada media ini, Rabu (5/8/2026), mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan koleksi dan replika benda-benda sejarah Alkitab, tetapi juga menjadi sarana untuk meneguhkan iman umat dari generasi ke generasi.

Menurutnya, berbagai koleksi yang dipamerkan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat secara langsung benda-benda yang berkaitan dengan sejarah perjalanan Firman Tuhan.

“Ini menjadi bukti sejarah bahwa Firman Tuhan bukan hanya sekadar cerita, tetapi Firman Tuhan itu nyata. Ada catatan-catatan tentang bagaimana Alkitab mulai ditulis sampai akhirnya bisa kita terima hari ini,” ujar Pdt. Febi.

Ia mengungkapkan, pengalaman melihat dan menata berbagai koleksi tersebut secara langsung menjadi pengalaman yang sangat menyentuh bagi panitia.

Meskipun sebagian merupakan replika, bentuknya dibuat sangat menyerupai benda aslinya.

Pdt. Febi berharap Pekan Alkitab dapat menjadi momentum kebangunan iman dan mendorong umat untuk semakin mencintai Alkitab serta menjadikannya bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini juga menyasar anak-anak dan generasi muda. Hal tersebut terlihat dari kehadiran sekolah minggu dan para pelajar yang antusias mengikuti kegiatan serta mengajukan berbagai pertanyaan mengenai koleksi yang dipamerkan.

Sementara itu, Koordinator Sie Acara, Lidya Fangidae, mengatakan terdapat sekitar 100 koleksi yang ditampilkan, mulai dari papirus, berbagai terjemahan Alkitab dalam bahasa daerah dan internasional, Alkitab berukuran sangat kecil, hingga replika benda-benda yang berkaitan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Pengunjung juga dapat melihat replika Bait Allah, sangkakala, biji sesawi, serta berbagai koleksi lainnya yang selama ini hanya dikenal melalui cerita Alkitab.

Hingga Selasa (4/8/2026), jumlah pengunjung telah mencapai sekitar 2.262 orang, yang terdiri dari siswa sekolah Kristen, Katolik dan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Pekan Alkitab juga diisi dengan lomba cerdas cermat dan membaca Mazmur bagi anak-anak.

Menurut Lidya, kegiatan tersebut dirancang agar anak-anak tidak hanya mengenal Alkitab secara teori, tetapi juga menanamkan Firman Tuhan dalam kehidupan mereka.

Panitia berharap Pekan Alkitab dapat menjadi langkah awal untuk memperluas kegiatan serupa di Kota Kupang dan NTT pada masa mendatang, sehingga semakin banyak masyarakat dapat mengenal sejarah Alkitab sekaligus memperkuat iman dari generasi ke generasi. (MI)




Perantau Asal Desa Kolisia B Kompak Galang Dana untuk Percepat Pembangunan Gereja St. Theodorus Nawuteu

Maumere, nwartapedia.com – Kepedulian terhadap kampung halaman terus ditunjukkan oleh warga Desa Kolisia B yang berada di berbagai daerah perantauan.

Melalui kelompok Solidaritas Perantauan Anak Desa Kolisia B, sebanyak 27 anggota berhasil menghimpun dana sebesar Rp8.000.000 untuk membantu pembangunan Gereja St. Theodorus Kolisia Nawuteu di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Penggalangan dana dilakukan selama dua bulan, yakni sejak April hingga Mei 2026. Gerakan sosial ini diprakarsai oleh Yohanes Severinus Padeng (Jefri) sebagai Ketua dan Maria Renalti Dua Monika (Nalti) sebagai Bendahara.

Menurut Jefri, pembentukan kelompok solidaritas tersebut dilandasi oleh keinginan untuk memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan kampung halaman, khususnya dalam mendukung penyelesaian pembangunan gereja yang menjadi pusat kegiatan rohani umat.

“Kami ingin menunjukkan bahwa meskipun berada jauh dari kampung halaman, kami tetap memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mendukung pembangunan desa, terutama pembangunan gereja yang menjadi kebutuhan bersama umat,” ungkap Jefri.

Ia mengapresiasi seluruh anggota kelompok yang telah menyisihkan sebagian penghasilannya untuk mendukung gerakan tersebut.

Menurutnya, semangat kebersamaan dan kepedulian yang ditunjukkan para perantau menjadi modal penting untuk membangun desa secara berkelanjutan.

Jefri berharap gerakan solidaritas yang telah dibangun dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi generasi muda Desa Kolisia B yang berada di berbagai daerah.

“Kami berharap kebersamaan ini tidak berhenti sampai di sini. Semoga semakin banyak warga perantauan yang tergerak untuk ikut ambil bagian dalam berbagai kegiatan sosial demi kemajuan kampung halaman,” katanya.

Kelompok Solidaritas Perantauan Anak Desa Kolisia B juga mendapat dukungan dari tiga tokoh perantau yang dipercaya sebagai penasihat, yakni Om Gus, Om Frans, dan Om Sebas.

Ketiganya berperan memberikan motivasi dan arahan agar semangat kebersamaan tetap terjaga.

Penyerahan bantuan dilakukan secara langsung kepada pengurus Gereja St. Theodorus Kolisia Nawuteu dan disaksikan oleh tokoh masyarakat, umat, serta warga setempat.

Suasana penuh keakraban dan rasa syukur mewarnai kegiatan tersebut.

Pengurus gereja menyampaikan terima kasih atas perhatian dan dukungan yang diberikan para perantau.

Bantuan yang diterima akan digunakan untuk mendukung kebutuhan pembangunan gereja sehingga proses pengerjaan dapat berjalan lebih optimal.

Aksi sosial ini menjadi bukti bahwa semangat persaudaraan dan kecintaan terhadap tanah kelahiran tetap hidup di hati para perantau Desa Kolisia B.

Melalui kebersamaan dan gotong royong, mereka terus berupaya memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan dan kemajuan kampung halaman. **




Marianus Jago Nahkodai KUB Ave Maris Stella 2026–2030, Umat Diajak Perkuat Pelayanan dan Persaudaraan

Kupang, nwartapedia.com  – Kepengurusan baru Kelompok Umat Basis (KUB) Ave Maris Stella Wilayah XIV Paroki St. Yoseph Naikoten periode 2026–2030 resmi dilantik dalam sebuah perayaan iman yang berlangsung di Naikolan, Sabtu (13/6/2026).

Prosesi pelantikan diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Pastor Paroki St. Yoseph Naikoten, RD Jhon Rusae, dengan dukungan koor dari Paduan Suara San Jose.

Suasana penuh syukur dan kekeluargaan terasa sepanjang rangkaian kegiatan yang dihadiri oleh umat, pengurus lama dan baru, ketua Wilayah XlV, pengurus DPP dan undangan lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Marianus Jago dipercaya memimpin KUB Ave Maris Stella untuk empat tahun ke depan.

Ia menyampaikan rasa syukur atas amanah yang diterimanya dan menegaskan bahwa pelayanan di Gereja merupakan panggilan untuk mengabdi kepada Tuhan dan sesama.

Menurut Marianus, menjadi pemimpin bukan sekadar menerima jabatan, tetapi harus mampu menjadi pelayan yang menghadirkan persatuan, kebersamaan, dan semangat gotong royong di tengah umat.

Ia juga berharap para senior dan mantan pengurus tetap memberikan arahan serta bimbingan sehingga kepengurusan yang baru mampu menjalankan tugas dengan baik dan melanjutkan berbagai program pelayanan yang telah dirintis sebelumnya.

Sementara itu, Ketua KUB sebelumnya, Petrus Darjan, mengungkapkan rasa terima kasih kepada seluruh anggota KUB yang selama hampir dua dekade telah bersama-sama membangun kehidupan umat di lingkungan basis.

Menurutnya, keberhasilan berbagai kegiatan selama ini tidak terlepas dari kerja sama seluruh anggota yang selalu memberikan dukungan, baik tenaga, pikiran maupun kontribusi untuk mendukung operasional KUB.

Ketua II Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Yoseph Naikoten, Ady Lamury, mengatakan bahwa KUB merupakan fondasi utama pertumbuhan iman umat Katolik.

Karena itu, ia mengajak seluruh pengurus baru untuk menjaga semangat pelayanan dan memperkuat kehidupan menggereja melalui pendekatan kekeluargaan.

Ia optimistis kepengurusan yang baru mampu menghadirkan inovasi pelayanan sekaligus mempertahankan tradisi kebersamaan yang telah dibangun selama ini.

Sementara itu, Pastor Paroki St. Yoseph Naikoten, RD Jhon Rusae, dalam arahannya menegaskan bahwa menjadi pengurus KUB adalah sebuah panggilan iman yang harus dijalankan dengan ketekunan, kesabaran, dan tanggung jawab.

Ia meminta seluruh pengurus baru agar fokus melaksanakan program kerja yang telah disusun serta memastikan setiap kegiatan KUB berjalan aktif demi mendukung pertumbuhan iman umat di tingkat lingkungan.

RD Jhon Rusae juga mengingatkan bahwa KUB yang hidup akan menjadi kekuatan utama dalam membangun Gereja yang semakin bertumbuh dan melayani.

Ia juga berharap pengurus KUB Ave Maris Stella periode 2026–2030  menjadi awal baru dalam memperkuat pelayanan pastoral, meningkatkan solidaritas antarumat, serta menghadirkan kehidupan menggereja yang semakin aktif di Wilayah XIV Paroki St. Yoseph Naikoten.

Susunan Pengurus Kelompok Umat Basis (KUB) Ave Maris Stella Wilayah XIV Paroki St. Yoseph Naikoten periode 2026–2030 terdiri atas Marianus Jago sebagai Ketua, Theresia Din sebagai Wakil Ketua, Maria Magdalena Titiek K. N. Binsasi sebagai Sekretaris, Emylius Bata sebagai Bendahara, serta Heryani Djo sebagai Wakil Bendahara. (MI)




Expo Panggilan Kolhua Kupang Resmi Dibuka, Dorong Generasi Muda Jawab Panggilan Tuhan

Kupang, nwartapedia.com — Expo Panggilan Kupang di Paroki Santo Fransiskus Asisi Kolhua resmi dibuka oleh Asisten I Sekretariat Daerah Kota Kupang, Hengki Malelak, Rabu (29/4/2026) sore.

Kegiatan Expo Panggilan Kupang digelar dalam rangka memperingati Minggu Panggilan Sedunia yang dirayakan umat Katolik setiap tahun pada Minggu keempat setelah Paskah.

Pembukaan acara diawali dengan pawai jalan kaki mengelilingi wilayah paroki dan berakhir di halaman gereja sebagai lokasi expo. Sedikitnya 14 komunitas hidup bakti turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Ketua Panitia, Frater David, mengatakan expo ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang perjumpaan bagi kaum muda untuk mengenal panggilan hidup.

Menurutnya, tema Mendengarkan Suara Tuhan di Tengah Arus Media Digital mengajak umat untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk dunia digital dan kembali peka terhadap suara hati.

Pastor Paroki RD Longginus Bone dalam sambutannya menegaskan pentingnya keheningan batin di tengah derasnya arus digital. Ia menyebut panggilan Tuhan hadir secara pribadi dan dapat didengar dalam keheningan hati.

Sekretaris Jenderal Keuskupan Agung Kupang, RD Erik Kfun, menambahkan bahwa Expo Panggilan Kupang menjadi sarana memperkenalkan sukacita Injil dan kekayaan karisma hidup bakti.

“Di tengah dunia yang semakin bising oleh teknologi, panggilan hidup sebagai imam, suster, bruder maupun frater tetap relevan dan membahagiakan,” ujarnya.

Sementara itu, Hengki Malelak mengatakan kegiatan ini menjadi bagian penting dalam membangun masa depan generasi muda Kota Kupang.

Ia menyoroti tantangan serius yang dihadapi remaja, termasuk dampak negatif media digital dan meningkatnya kasus HIV/AIDS di Kota Kupang.

Pemerintah Kota Kupang, lanjutnya, mendukung penuh kegiatan yang mendorong tumbuhnya panggilan hidup serta pembentukan karakter generasi muda yang beriman dan bermoral.

Melalui Expo Panggilan Kupang, kaum muda diharapkan semakin terbuka hati untuk menemukan arah hidup dan berani menjawab panggilan Tuhan di tengah tantangan zaman. (goe)




Komunitas SMGM Meriahkan Minggu Panggilan di Kolhua Kupang, Gaungkan Semangat Pelayanan Umat

Kupang, nwartapedia.com — Komunitas SMGM Kupang turut ambil bagian dalam memeriahkan perayaan Minggu Panggilan di Paroki Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua, Kota Kupang, Rabu (29/4/2026).

Kehadiran Komunitas SMGM Kupang terlihat mencolok dengan balutan kaos merah marun berlogo SMGM.

Kehadiran mereka menjadi perhatian umat yang mengikuti rangkaian kegiatan gereja tersebut.
Sejumlah pengurus yang hadir di antaranya Koordinator SMGM

Keuskupan Agung Kupang Adrianus Ceme, Penasehat SMGM Anton Belle, Ketua Cabang Asisi Yohanes Mau, Agustinus Bello, Goris Takene, Noelsinas Ambros Ambun, serta anggota lainnya.

Partisipasi SMGM Kupang dalam kegiatan ini bukan sekadar memeriahkan acara, tetapi juga memperkenalkan komunitas awam Katolik yang aktif dalam pelayanan sosial dan kemanusiaan.

SMGM atau Sahabat Monsinyur Gabriel Manek, SVD merupakan komunitas religius awam Katolik yang memiliki semangat melayani masyarakat, khususnya mereka yang miskin, sakit, dan terpinggirkan.
Dalam menjalankan misi, Komunitas SMGM Kupang berpegang pada prinsip 5M, yaitu Mengunjungi, Mendengarkan, Menyentuh, Menghibur, dan Mendoakan.

Melalui keterlibatan dalam Minggu Panggilan, SMGM Kupang berharap semakin banyak umat yang terdorong ambil bagian dalam pelayanan Gereja dan karya kasih di tengah masyarakat.
(goe)




Wali Kota Kupang Serahkan Bantuan Rp50 Juta untuk Pembangunan Stasi St. Fransiskus Xaverius Naimata

 

Kupang,nwartapedia.com  Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan spiritual masyarakat dengan menyerahkan bantuan senilai Rp50 juta kepada Stasi Katolik St. Fransiskus Xaverius Naimata, Minggu pagi (29/6/2025).

Kehadirannya dalam misa bersama umat sekaligus menjadi bukti nyata kedekatan pemerintah dengan komunitas akar rumput di Kota Kupang.

Dalam sambutannya, Wali Kota Widodo menjelaskan bahwa bantuan tersebut berasal dari anggaran Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemerintah Kota Kupang, yang disalurkan kepada rumah-rumah ibadah lintas denominasi di seluruh wilayah kota.

“Terima kasih kepada Ibu Ivan Milameha dan Bapak Joni Bire dari bagian Kesra yang selalu mendampingi saya mengunjungi gereja-gereja. Tahun ini, bantuan kami sebarkan tidak hanya ke gereja Katolik dan Protestan, tetapi juga ke rumah ibadah lain. Semoga bantuan ini bermanfaat,” ujar Wali Kota.

Ia menegaskan bahwa di tengah efisiensi anggaran, Pemerintah Kota Kupang tetap mengutamakan belanja yang berpihak pada kebutuhan masyarakat. Termasuk dengan memangkas anggaran perjalanan dinas hingga 50% dan membatalkan pengadaan mobil dinas baru senilai Rp1,6 miliar, agar dana tersebut dapat dialihkan untuk sektor-sektor prioritas seperti pendidikan, kesehatan, dan bantuan sosial.

“Membangun kota itu bukan hanya soal infrastruktur dan gedung tinggi, tetapi juga tentang membangun manusia—melalui pendidikan, kesehatan, dan menjamin rasa aman serta kenyamanan dalam beribadah. Karena itu saya dan Kakak Wakil Wali Kota menolak pengadaan mobil dinas baru, lebih baik dananya digunakan untuk rakyat,” tegasnya.

Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung kelanjutan pembangunan rumah pastoral dan aula kegiatan umat di Stasi Naimata.

Sementara itu, Co Pastor Stasi Santo Fransiskus Xaverius Naimata, Romo Frans Atamau, Pr menyampaikan apresiasi mendalam atas perhatian dan keterlibatan langsung Wali Kota dalam kehidupan umat beriman di pinggiran Kota Kupang.

Dalam sambutannya di hadapan umat, Romo Frans mengungkapkan bahwa sejak menerima kabar kedatangan Wali Kota pada malam sebelumnya, suasana hati umat telah dipenuhi sukacita. Ia menyebut kehadiran pemimpin daerah di tengah umat kecil di Naimata sebagai sesuatu yang sangat membesarkan hati.

“Kehadiran Bapak Wali Kota pagi ini sungguh menggembirakan kami. Meski pemberitahuan datang tadi malam, namun sejak pagi kami menyambut dengan penuh semangat. Ini bukan sekadar kunjungan biasa, tapi kunjungan yang menguatkan jiwa kami,” ujar Romo Frans.

Lebih lanjut, Romo Frans menyatakan bahwa dirinya tidak hendak menyampaikan banyak permintaan atau harapan, melainkan lebih memilih memberikan janji yang tulus yakni doa. Ia meyakini bahwa doa umat merupakan dukungan spiritual yang nyata bagi perjalanan dan tanggung jawab Wali Kota dalam memimpin.

“Saya tidak bisa memberikan banyak hal, tapi saya bisa menjanjikan satu hal: doa kami. Setiap pagi saya selalu mendoakan mereka yang pernah saya janjikan doa, termasuk Bapak Wali Kota. Kami mendoakan agar Bapak dan seluruh jajaran pemerintah senantiasa diberi kekuatan, rendah hati, dan ketekunan dalam pelayanan,” ungkapnya.

Menutup sambutannya, Romo Frans berharap agar perhatian terhadap umat di Naimata dan pengembangan gereja tetap berlanjut. Ia juga memohon agar semangat kebersamaan dan kesejahteraan keluarga umat terus menjadi bagian dari perhatian pemerintah.

“Semoga pertemuan ini menjadi awal yang terus menguatkan hubunganantara pemerintah dan umat. Kami percaya Tuhan akan mempersatukan dan memberkati demi kebaikan bersama,”pungkasnya. (MI)




Umat Naimata Tersentuh, Wali Kota Kupang Kembali Kunjungi dan Serahkan Bantuan Langsung

 

Kupang,nwartapedia.com  — Umat Katolik Stasi Santo Fransiskus Xaverius Naimata menyambut dengan penuh sukacita kehadiran Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, yang kembali hadir di tengah-tengah mereka untuk menyerahkan bantuan secara langsung, Minggu (29/6/2025).

Kunjungan ini menjadi yang ketiga kalinya selama masa kepemimpinan Wali Kota Widodo ke stasi tersebut, yang semakin menguatkan kedekatan emosional antara pemimpin daerah dan masyarakat akar rumput.

Dalam suasana misa dan pertemuan yang penuh kekeluargaan, perwakilan umat KUB Maria Ratu Damai Stasi Santo Fransiskus Xaverius Naimata,  Isodorus Lilijawa, menyampaikan ungkapan syukur dan rasa bangga atas perhatian berkelanjutan yang ditunjukkan oleh Pemerintah Kota Kupang.

“Sebagai umat Stasi Naimata, saya merasa sangat bersyukur dan bahagia. Bapak Wali Kota sudah datang untuk ketiga kalinya, dan itu bukan sekadar kunjungan biasa tapi wujud kepedulian dan iman yang hidup. Beliau hadir bukan hanya untuk memberi bantuan, tetapi juga untuk menyapa, mendengar, dan melihat langsung kondisi kami,” tutur Isodorus.

Ia menilai, kehadiran Wali Kota pada hari Minggu, hari yang umumnya dihabiskan bersama keluarga, merupakan bentuk pelayanan publik yang tulus dan menginspirasi.

“Ini memberi semangat baru bagi kami, umat di sini, untuk terus mendukung program-program pemerintah seperti menjaga kebersihan lingkungan dan keterlibatan sosial lainnya,” lanjutnya.

Lebih dari sekadar menerima bantuan, umat Naimata mengaku terinspirasi oleh teladan kepemimpinan yang mau turun langsung dan hadir di tengah umat.

Isodorus menegaskan, umat akan terus mendoakan dan mendukung Wali Kota dan Wakil Wali Kota agar senantiasa diberi kekuatan dan kebijaksanaan dalam menjalankan tugas.

“Kami percaya, esensi dari memimpin adalah melayani. Dan kami di Naimata akan selalu mendukung dan mendoakan Pak Wali agar bisa terus mewujudkan pemerintahan yang berpihak pada rakyat,” tandasnya. (MI)




Transformasi Gereja: Mewujudkan Umat Kristiani yang Relevan dan Berdampak

Oleh: Oder Maks Sombu, SH., MA., MH


 

Kupang,nwartapedia.com  – Di tengah dunia yang terus berubah, gereja tak bisa hanya menjadi simbol spiritual yang statis. Ia harus hadir sebagai kekuatan transformatif mengubah, memperbarui, dan memengaruhi umat serta masyarakat secara nyata.

Di sinilah makna terdalam dari transformasi gereja menemukan urgensinya: bukan sekadar perubahan kosmetik atau modernisasi fasilitas, tetapi sebuah pembaruan rohani, sosial, dan struktural demi mewujudkan umat Kristiani yang berkeesaan, relevan, dan berdampak.

Gereja dan Lima Pilar Perannya di Tengah Masyarakat

Selama ini, gereja sudah menjalankan fungsi strategis dalam masyarakat melalui berbagai peran, namun dalam konteks dunia modern, peran-peran itu perlu diperkuat dan disegarkan kembali.
Pertama, pendidikan.

Gereja telah menjadi motor penggerak pendidikan melalui sekolah, universitas, dan pusat-pusat pelatihan. Namun, nilai lebih dari pendidikan gerejawi terletak pada integrasi nilai spiritual dan moral dalam kurikulum.

Transformasi gereja berarti menjadikan pendidikan sebagai sarana pembentukan karakter Kristiani, bukan sekadar transmisi pengetahuan.

Kedua, kesehatan. Banyak rumah sakit dan pusat layanan kesehatan didirikan oleh gereja. Namun, dalam dunia yang semakin materialistis, pelayanan kesehatan gereja perlu menegaskan kembali pendekatan holistik yang berakar pada kasih Kristus bukan semata pelayanan medis, tetapi pelayanan kasih yang menyentuh tubuh, jiwa, dan roh.

Ketiga, kesejahteraan sosial. Program bantuan bagi pengungsi, orang miskin, dan korban kekerasan menjadi wujud nyata dari kasih Kristiani. Gereja tidak boleh hanya menjadi tempat berdoa, tetapi juga rumah perlindungan dan suara bagi yang tak bersuara. Transformasi gereja adalah keberpihakan pada keadilan sosial.

Keempat, pembentukan nilai dan etika. Gereja adalah sekolah kehidupan, tempat integritas, solidaritas, dan tanggung jawab sosial diajarkan. Di tengah krisis moral global, gereja harus tampil sebagai penjaga nilai, bukan sekadar pengkhotbah.

Kelima, pengaruh politik. Gereja tidak harus masuk dalam gelanggang kekuasaan, tapi tidak boleh apolitis. Ketika ketidakadilan merajalela, suara profetik gereja dibutuhkan. Transformasi berarti gereja harus berani bersuara demi kebenaran dan menolak kompromi terhadap nilai-nilai ilahi.

Mengapa Transformasi Gereja Menjadi Sangat Penting?

Transformasi gereja bukan hanya pilihan, tapi keniscayaan. Dunia bergerak cepat. Generasi muda hidup dalam arus teknologi, pluralisme, dan krisis identitas. Tanpa pembaruan visi, misi, dan pendekatan, gereja bisa kehilangan relevansi dan daya tarik.

Gereja yang tertransformasi adalah gereja yang:
1. Memahami kebutuhan nyata umat.
2. Dipimpin oleh pemimpin visioner yang tidak takut berubah.
3. Didukung partisipasi aktif jemaat.
4. Mengajarkan iman secara mendalam dan kontekstual.
5. Membangun kemitraan dan kolaborasi luas.

Yesus Kristus sendiri adalah teladan tertinggi transformasi. Ia bukan hanya pemberita, tetapi pusat dari berita transformasi itu sendiri. Kehidupan-Nya adalah revolusi kasih yang melampaui doktrin, menyentuh realitas manusia secara konkret.

Langkah Menuju Transformasi Gereja yang Sejati Transformasi gereja tidak bisa terjadi secara instan.

Dibutuhkan proses spiritual dan praktis yang terintegrasi. Beberapa langkah penting antara lain:
1. Doa dan pencarian kehendak Allah. Setiap langkah gereja harus berakar pada kehendak Tuhan, bukan hanya strategi manusia.
2. Evaluasi menyeluruh. Struktur organisasi, metode pelayanan, dan relasi antar jemaat perlu ditinjau secara kritis dan terbuka.
3. Partisipasi aktif jemaat. Gereja bukan milik para pemimpin saja. Ketika seluruh tubuh Kristus bergerak bersama, perubahan sejati terjadi.

Implikasi Transformasi Gereja
Transformasi yang sejati akan menghasilkan dampak nyata:
1. Pertumbuhan spiritual yang otentik.
2. Relevansi gereja dalam konteks zaman modern.
3. Kemampuan menjangkau generasi muda.
4. Pengaruh positif dalam masyarakat sekitar.
5. Kesinambungan iman lintas generasi.

Penutup: Gereja Bukan Bangunan, tapi Gerakan Transformasi gereja bukan soal membangun gedung lebih besar atau mempercantik liturgi.

Ia adalah tentang membangun kehidupan yang mencerminkan kasih Kristus di tengah dunia yang rusak. Saat gereja bertransformasi, ia tidak hanya bertahan di tengah perubahan dunia.

Ia justru menjadi agen perubahan itu sendiri. Gereja yang sejati bukan yang paling ramai, tetapi yang paling berdampak. Ia hadir di tengah masyarakat, menyentuh yang menderita, meneguhkan yang goyah, dan membawa terang dalam gelap.

Mari kita bergerak dari gereja yang beribadah, menuju gereja yang mengubah.
Karena transformasi sejati dimulai ketika kita berhenti berdiam dalam bangku, dan mulai berjalan dalam kasih dan kebenaran.

Penulis: Oder Maks Sombu, SH., MA., MH
Ketua BPD Gereja Bethel Indonesia Provinsi NTT (MI)